Menulis: Jalan Profil Diri Pelajar, Mahasiswa, dan Akademisi

Dosen PBSI Unika Santu Paulus Ruteng
Menulis: Jalan Profil Diri Pelajar, Mahasiswa, dan Akademisi 10/02/2024 34 view Kelas Menulis Dokumen Pribadi

Realitas pendidikan selalu menampilkan aktivitas pelajar, mahasiswa, dan akademisi (guru dan dosen) dalam memenuhi tuntutan pendidikan, kompetensi, dan profesionalitas diri. Ekosistem akademik yang dibangun bukan hanya aktivitas formal, tetapi juga in-formal,dan non-formal. Salah satu jalan memenuhi tuntutan kelulusan belajar (bagi pelajar dan mahasiswa) dan jabatan kompetensi akademik (akademisi) adalah menjadi peserta maupun narasumber dalam seminar-seminar ilmiah.

Namun, tidak dapat dimungkiri bahwa menjadi peserta dalam seminar ilmiah tidak mendapat ilmu secara maksimal. Ketidakmaksimal perolehan pengetahuan disebabkan situasi dan kondisi kegiatan, serta motivasi lain dalam mengikuti seminar. Hal ini yang memungkinkan pelajar, mahasiswa, dan akademisi tidak memperoleh kesempatan optimal untuk memperdalam wawasan dan keterampilan menulis, karena jumlah peserta seminar yang relatif banyak. Peserta yang hadir memperoleh informasi yang relatif cepat dilupakan. Satu sisi, pelajar, mahasiswa, dan akademisi mengikuti seminar bukan untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan baru. Mereka memiliki motovasi lain, seperti mendapatkan selembar sertifikat untuk memenuhi “penunjang” BKD bagi dosen dan jabatan atau pangkat bagi guru, serta lulus bagi pelajar dan mahasiswa.

Tentu, motivasi semacam itu tidak akan pernah mengubah perkembangan akademik ke arah yang lebih baik. Dapat dikatakan, pengembangan kompetensi dan profesi seorang pelajar, mahasiswa, dan akademisi hanya dalam bentuk lembaran kertas. Secara administratif dokumen mereka melakukan banyak kegiatan ilmiah, tetapi secara realitas akademik mereka tidak memperoleh dan menghasilkan “bekal” masa depan.

Realitas ini tidak dapat diabaikan dan dibiarkan hidup dalam ekosistem akademik. Kebiasaan hanya ingin hadir, mendengar orang bicara, bertemu orang lain, dan pulang bawa sertifikat perlu diubah. Aktivitas mandiri yang lebih produktif dalam membangun profil diri sebagai pelajar, mahasiswa, dan akademisi menjadi keniscayaan. Menulis adalah jalannya.

Menulis merupakan satu bentuk keterampilan berbahasa yang paling sering digunakan, selain menyimak, berbicara, dan membaca. Menulis merupakan kebutuhan pokok seorang pelajar dan mahasiswa, selain para akademisi. Lebih dari itu, sebagai “jalan” membangun profil diri. Saya boleh memberi konsep bahwa menulis merupakan bentuk proses berbicara yang tidak bersuara.

Hal yang paling penting dalam membangun proses menulis adalah motivasi dan kemauan, karena menulis bukan bakat. Memang awalnya motivasi menulis bersumber dari luar diri karena seorang penulis ingin dirinya diakui oleh orang lain dan lingkungan. Ketika seseorang memiliki tulisan yang diterbitkan, baik dalam bentuk opini di media massa maupun buku pasti merasa bangga karena dirinya diketahui oleh pembaca. dengan perkataan lain, motivasi awal menulis hanya untuk membangun eksistensi diri, sekalipun sifatnya eksternal atau ekstrinsik.

Perjalanan waktu, motiovasi menulis yang bersumber eksternal itu dapat mengendap dan mengkristal sehingga membuat pribadi atau diri menjadi semangat dalam menulis. Hal ini berarti motivasi eksternal tersebut berubah menjadi motivasi internal karena lama-kelamaan motivasi eksternal itu mengendap dalam diri.

Selain itu, terdapat pula motivasi yang sifatnya memang dari dalam diri seseorang atau disebut motivasi internal atau intrinsik. Artinya, motivasi yang muncul, tumbuh, dan terbangun dari dalam diri seseorang tersebut akan menggugah dan menumbuhkan, serta membangun kesadaran untuk menulis dan terus menulis bagi yang bersangkutan hingga menjadi “profil diri”. Pribadi demikian melakukan kegiatan menulis bukan karena terdapat dimensi-dimensi yang memengaruhinya dari luar, tetapi justru dari dalam kesadaran diri orang-orang bersangkutan.

Saya berkeyakinan penuh bahwa pelajar, mahasiswa dan akademisi memiliki motivasi-motivasi tersebut. Ada yang berproses dari motivasi eksternal, karena didorong oleh perkuliahan, tugas, maupun dorongan dan tuntutan akademik lainnya. Namun, ada pula yang berproses karena ada motivasi internal. Mereka menyadari bahwa menulis adalah kebutuhan mutlak dalam membangun ekosistem pendidikan. Proses yang dibangun dengan ketekunan dan perjuangan dalam diri pelajar, mahasiswa, dan akademisi membuat proses menulis itu gampang-gampang susah.

Dalam suatu pertemuan perkuliahan, saya pernah bertanya ke mahasiswa, “Apakah menulis itu gampang?” Di antara mereka, ada yang menjawab, “Yah, gampang bagi yang sudah terbiasa menulis dan membaca, tetapi tentu susah bagi yang tidak membiasakan diri membaca dan menulis.” Saya lantas menegaskan bahwa aspek lain yang perlu dibangun dalam diri untuk bisa memiliki keterampilan menulis, yakni ketekunan dan perjuangan. Seperti pepatah “Alah bisa karena biasa”, demikian tanpa ketekunan sesungguhnya sangat mustahil sebuah karya dapat dilahirkan.

Ternyata “ketekunan dan perjuangan” itulah yang membuat pelajar, mahasiswa, dan akademisi (guru dan dosen) dapat membangun profil diri. Saya sangat mengapresiasi kepada ketiga komponen pendidikan tersebut jika senantiasa membangun karakter menulis sebagai “profil diri” yang “berbeda” dari yang lain. Saya apresiasi ketika mereka membangun profil diri yang berbeda melalui jalan menulis dengan langkah kemauan, niat, dan ketekunan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya