Menjadikan Pancasila Sebagai Rumah Bersama

Pengajar STPM St Ursula Ende
Menjadikan Pancasila Sebagai Rumah Bersama 17/06/2022 42 view Politik r1.community.samsung.com

Di awal bulan Juni ini, segenap warga Indonesia merayakan Hari Lahir Pancasila. Agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yang mana perayaannya dibuat di Jakarta, tahun ini, perayaan ini dibuat di Ende, sebagai tempat Pancasila digali dan dirumuskan Soekarno. Presiden Jokowi pun berkunjung ke Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Pulau Flores, di mana Kabupaten Ende berada.

Ada banyak rangkaian acara Presiden selama kunjungan itu. Namun di antara itu, salah satu hal penting ialah amanat dalam upacara peringatan Hari Lahir Pancasila yaitu tentang membumikan Pancasila dalam ritunitas hidup. Lalu Bagaimanakah membumikkan Pancasila? Apakah itu juga ada dalam konteks Ende sebagai tempat Pancasila digali dan digagas, lalu apa efeknya bagi nusantara?

Ada berbagai cara dan jalan untuk membumikan Pancasila. Beberapa di antaranya, Pancasila dijadikan bahan ajar di sekolah-sekolah, diskusi-disukusi tentang Pancasila, atau membuat lembaga atau pusat studi Pancasila. Namun dari berbagai ide ini, saya tertarik dengan salah satu ide tentang Rumah Pancasila, sebuah ide untuk menjadikan Pancasila sebagai rumah bersama.

Mengulas tentang Pancasila sebagai rumah bersama ini, akan sangat berkaitan dengan dua tokoh berikut. Tokoh pertama adalah Ir. Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia. Orang yang merumuskan Pancasila dan disampaikan dalam sidang Dokuritsu Junbi atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI) tanggal 1 Juni 1945. Sementara itu, tokoh lainnya ialah Bapak Aloysius Kelen. Beliau adalah dosen senior salah satu perguruan tinggi di Ende. Beliaulah orang yang menggagas ide mengenai Rumah Pancasila. Sosok pertama ialah sosok penggali dan perumus Pancasila sebagai dasar negara. Sementara sosok kedua ialah orang yang berusaha mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila sesuai konteks dan di tempat lahirnya Pancasila, yakni di Ende.

Penggali dan Perumus Pancasila

Filosofi dua sisi koin bukanlah sebuah ucapan isapan jempol. Ia berlaku di dalam peristiwa pembuangan politik yang dialami Soekarno di Ende, sebuah kampung di pulau Flores yang terletak di kepulaun Sunda Kecil yang sekarang dikenal sebagai sebagai Nusa Tenggara Timur. Pada satu sisi pembuangan oleh pemerintah Hindia Belanda antara tahun 1934-1938 itu, menantang perjuangan Seokarno untuk kemerdekaan Indonesia. Namun di sisi lain, pembuangan itu sanggup menjadikan Soekarno sebagai sosok penggali dan perumus lima ide dasar Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.

Sebuah kajian yang cukup baik ialah ulasan tentang pembuangan politik Soekarno oleh Julia Kristeva yang dibahas Robertus Robert dalam resensi buku Seokarno: Membongkar Sisi-Sisi Hidup Putra Sang Fajar. Kristeva mengulas tentang pembuangan politik sebagai lambang trauma di dalam diri penjajah. Hal ini membuat si penjajah berusaha menghapus citra yang tidak dikehendakinya itu. Namun pada saat yang sama, pembuangan politik telah mengokohkan kesetaraan politik antara penjajah dan si terjajah (Robert, 2013).

Pembuangan yang dialami Seokarno telah membuatnya sebagai bangsa terjajah mampu bertransformasi. Transformasi yang memungkinkan si terjajah melihat diri sebagai punya nilai dan kemampuan sama seperti penjajahnya. Pembuangan yang menimbulkan kekuatan untuk makin militan melawan penjajah. Di sini segala daya upaya pun dibuat untuk keluar dari bayang-bayang penjajah dengan mengoptimalkan segala sesuatu yang ada di sekitarnya.

Pengalaman Soekarno sungguh menggambarkan tentang bagaimana manusia yang mesti melewati tantangan dan cobaan yang berat. Semua itu pada gilirannya akan membawanya pada penemuan hal yang amat berharga. Sebuah jalan pencerahan yang melandasi terbangunnya sebuah bangsa. Separalel dengan ini, Geonawan Mohammad (2006) menulis dalam catatan pinggirnya tentang pengalaman Pangeran Sidharta Gautama yang menemukan pencerahan setelah menempuh pilihan sulit, banyak cobaan dan tantangan.

Namun perlu juga dicatat, bahwa semua penemuan dan inspirasi itu bukan muncul dari kekosongan. Inpirasi pemikiran yang mengkristal dalam lima dasar negara itu juga datang dari semangat keterbukaan, kedalaman permenungan yang mensintesiskan antara pengetahuan, pengalaman dan perjumpaannya dalam keberagaman. Di tengah masa pembuangannya Soekarno berjumpa dengan warga lokal Ende dengan semangat toleransi meski mereka berbeda asal, agama maupun sukunya. Di pihak lain, cakrawala intelektualnya pun semakin bertambah ketika Soekarno banyak berdiskusi dengan para misionaris religius Eropa di Ende kala itu dan mengisi stok pengetahuannya melalui buku-buku di perpustakaan biara mereka.

Buah pengalaman dan perjumpaan itu kemudian menginspirasi Pancasila. Inspirasi tentang semangat ke-Tuhanan yang mesti diterjemahkan secara nyata dan praktis untuk membantu kehidupan sehari-hari, bukan untuk mengeliminasi atau memojokan pihak lain. Melaluinya orang mesti bisa bertindak etis untuk membawa kebahagiaan bagi diri dan sesama. Ada pula tentang kemanusiaan yang mesti dijunjung tinggi walaupun berbeda suku dan agama, bahkan berbeda bangsa. Tentang semangat persatuan yang mesti tetap dijaga meskipun mengalami cobaan berat. Tentang disksui yang mesti terus dibangun meskipun diskusi itu terjadi dengan orang yang berbeda latar belakang. Dan tentang keadilan yang mesti diusahakan untuk kemajuan bangsa dan negara.

Pancasila Sebagai Rumah Bersama

Ide membangun rumah Pancasila, bisa menjadi salah satu jawaban bagaimana membumikan Pancasila. Ide membangun Rumah Pancasila merupakan ide dari Bapak Aloysius. Dalam sharing-nya beliau berbagi bagaimana menciptakan sebuah rumah milik bersama yang ada di pusat desa ataupun kota. Di rumah ini, orang-orang bisa berkumpul, berdiskusi dan membaca berbagai literatur yang tersedia, serta merecanakan aski nyata.

Isu atau masalah-masalah dalam diskusi itu pun bisa berupa kemanusiaan, pembangunan, politik maupun isu lain yang berhubungan dengan hidup bernegara. Jika demikian, maka ide pembangunan rumah Pancasila ini sesungguhnya amatlah bernas. Ide ini menjanjikan pengimplemtasian nilai-nilai Pancasila yang kontekstual dan relevan. Ia kontekstual karena penterjehaman dan pengaplikasian rumah Pancasila sangat cocok dengan tradisi berkumpul masyarakat Flores, atau juga bangsa Indonesia pada umumnya.

Dalam perkumpulan itu, tentunya akan ada pembicaraan tentang hal-hal penting seputar kehidupan berbangsa dan bernegara. Tindakan ini akan mengeksiskan ruang bersama. Sebuah ruang untuk berdiskusi dan merancang aksi menghidupkan sikap dan tindakan etis manusia sebagai makhluk yang berke-Tuhanan. Di sini tidak ada eliminasi atau memojokan pihak lain, melainkan untuk kebaikan dan kebahagiaan bersama. Di rumah itu juga pemupukan kemanusiaan yang beradab bisa diukur melalui diskusi dalam keseteraan, keterbukaan dan saling menghormati walaupun terdapat perbedaan suku dan agama. Dalam konteks ini, segala bentuk diskrimanasi berbau SARA mesti ditiadakan. Melalui diskusi yang sama selalu terbentuk wacana persatuan berbagai elemen masyarakat.

Dalam semangat tadi, besar harapan bahwa bangsa ini tidak lagi melihat pengalaman saling maki dan lempar kursi dalam ruang sidang wakil rakyatnya, atau isu-isu anarkis dan disintegrasi bangsa seperti Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua. Atau juga pengalaman pemenjaraan sesama manusia yang disiksa dan dianiaya seperti binatang sebagaimana yang terjadi di Langkat.

Akhirnya diskusi yang sama bisa menjadi cikal bakal gerakan bersama untuk mengusahakan keadilan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam hal ini, mesti ada gerakan untuk kemajuan bangsa dan negara secara merata, sehingga tidak ada narasi daerah yang masuk kategori tertinggal sementara yang lain sudah jauh majunya atau diskriminasi pembangunan daerah di tanah air ini.

Sumbangsih untuk Nusantara

Meskipun hidup dalam perbedaan genarasi dan zaman, kedua tokoh ini saling melengkapi dalam porsi yang tepat. Soekarno boleh tampil sebagai sosok penggali Pancasila. Namun Pancasila akan semakin membumi dengan kolaborasi ide dari sosok seperti Aloysius Kelen yang mampu menterjamahkan dan mengaplikasikan Pancasila secara kontekstual dan relevan.

Fakta ini menunjukaan bahwa di zaman ini, bangsa dan negara ini membutuhkan tokoh-tokoh yang bukan hanya menjaga kesaktian dan keutuhan Pancasila. Mesti ada juga mereka yang bisa menterjemahkan dan mengimplementasikan ide Pancasila. Tindakan itu tidak dilakukan terutama dalam konsep atau wacana besar. Pengimplementasian-pengimplementasian kecil dengan kontekstualisasi dan relevansi yang tepat sesuai dengan situasi pada lokus daerah seperti ide Rumah Pancasila sungguh menjadi salah satu membumikan Pancasila.

Dengan demikian, Pancasila tidak akan menjadi konsep yang asing nan abstrak. Nilai nilai Pancasila benar menjadi sesuatu yang kontekstual, relven dan mampu diterjemahkan dan menjadi sumbangsih bagi nusantara dalam merajut persatuan dan mengokohkan integarasi bangsa dan negara Indonesia.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya