Meningkatnya Angka Kematian Remaja Di Indonesia

Mahasiswa
Meningkatnya Angka Kematian Remaja Di Indonesia 01/11/2023 131 view Lainnya PxHere

Bunuh diri masih menjadi masalah senyap di Indonesia. Insiden bunuh diri kemungkinan besar jauh lebih tinggi dari data resmi. Stigma seputar masalah kesehatan jiwa dan kelemahan sistem pendataan dianggap menjadi penyebab utamanya.

Bunuh diri merupakan satu dari tiga penyebab utama kematian pada kelompok umur 15 hingga 44 tahun dan nomor dua untuk kelompok 10 hingga 24 tahun. Seseorang bisa melakukan bunuh diri karena rasa putus asa. Pada kondisi depresi berat individu seperti memiliki pemikiran yang pesimis, tidak bisa berpikir adanya upaya alternatif menyelesaikan masalah.

Di Indonesia, bunuh diri dipandang sebagai aib – hal yang begitu memalukan, sehingga tidak ada padanan kata yang tepat dalam bahasa Inggris. Banyak yang menganggap tindakan itu sebagai kegagalan moral.

Bunuh diri memang seringkali dikaitkan dengan gangguan jiwa seperti depresi. Pada kondisi depresi berat ini memiliki pemikiran pesimis, tidak ada gunanya hidup, tidak bisa berpikir upaya menyelesaikan masalahnya.

Faktor yang mempengaruhi kesehatan mental pada remaja meliputi pola asuh yang diterapkan oleh orang tua, rasa syukur, dan jenis kelamin. Depresi terjadi dengan salah satu ciri adalah dengan stres dan kecemasan berkepanjangan yang menyebabkan terhambatnya aktivitas dan menurunnya kualitas fisik.

Pencegahan depresi dapat dilakukan dengan pengelolaan stres. Pengelolaan stres masing-masing individu berbeda, ada yang mengelola stres dengan melakukan kegiatan yang disukai seperti hobi, melakukan kegiatan refreshing, mendekatkan diri dalam konteks spiritual keagamaan, hingga bercerita kepada orang lain untuk mengurangi beban stres.

Apa yang sudah dilakukan Indonesia? Banyak yang sudah dilakukan pemangku kepentingan dalam mencegah bunuh diri. Baik dari level masyarakat maupun pemerintah. Idealnya, semua upaya ini diintegrasikan menjadi sebuah strategi nasional pencegahan bunuh diri. Indonesia belum punya sistem pencatatan bunuh diri nasional, sehingga tidak ada angka proksi yang cukup mendekati kondisi yang sebenarnya.

Kurangnya keterbatasan data.

Jawa Tengah menjadi provinsi dengan kasus bunuh diri tertinggi, yaitu 232 kasus pada 2021 dan 380 kasus pada 2022. Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo melaporkan kejadian luar biasa bunuh diri dengan 30 kasus pada 2023 ini. Padahal, menurut laporan Polri, tahun 2021 tidak tercatat kasus bunuh diri dan pada tahun 2022 tercatat satu kasus di Gorontalo.

Di satu sisi, dengan telah diberlakukan sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) berdasar UU Nomor 24/2011 tentang BPJS, hak warga negara untuk dapat layanan kesehatan jiwa di fasilitas layanan kesehatan terjamin. Ini terbukti dari data Mental Health Atlas 2020 yang menunjukkan JKN telah mencapai indeks cakupan layanan kesehatan jiwa 59 persen, dengan terus meningkat.

Apa langkah selanjutnya untuk upaya pencegahan bunuh diri bagi Indonesia sebagai sebuah negara? Pertama, keberpihakan regulasi. Kedua, Indonesia perlu mendesain Strategi Pencegahan Bunuh Diri Nasional. Ketiga, Indonesia harus menyelesaikan sistem pencatatan bunuh diri nasional melalui lintas unit dalam tubuh Kementerian Kesehatan, seperti Pusat Kesehatan Jiwa Nasional, Direktorat Kesehatan Jiwa, dan Digital. Keempat, memanfaatkan jejaring nasional RS pengampuan layanan kesehatan jiwa untuk menjalankan model pencegahan bunuh diri nasional. Kelima, para peneliti dan praktisi kesehatan jiwa harus dapat dukungan dalam meneliti, mendesain program asesmen, dan mengimplementasikan intervensi berbasis bukti.

Zaman sekarang ini hampir semua remaja memiliki handphone atau sering disingkat HP karena pada saat ini handphone merupakan barang yang wajib dimiliki oleh para remaja untuk mencari informasi lewat internet, berkomunikasi dengan teman, ataupun eksis di media sosial. Jika seorang remaja tidak memiliki handphone maka ia akan dianggap kuno oleh teman- temannya sehingga hampir semua remaja memiliki handphone.

Dampak positif handphone bagi kehidupan remaja antara lain: untuk berkomunikasi dengan teman maupun keluarga, mencari infomasi dari berbagai belahan dunia, menambah wawasan, menambah teman karena ada media sosial yang memungkinkan untuk berteman dengan berbagai orang di dunia, sebagai alat hitung untuk menggantikan kalkulator jika tidak memiliki kalkulator, mengambil gambar atau foto untuk bahan belajar dan untuk hiburan seperti mendengarkan musik, melihat film dan bermain game.

Selain memiliki dampak positif handphone juga memiliki dampak negatif bagi remaja antara lain: mengganggu konsentrasi belajar karena selalu memikirkan handphone sehingga tidak fokus saat belajar di sekolah maupun belajar di rumah, mengurangi interaksi secara langsung dengan teman, keluarga karena handphone mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat, mengurangi uang jajan karena biaya untuk membeli pulsa atau kuota lumayan mahal, membuat remaja menjadi malas melakukan aktifitas fisik seperti berolahraga maupun melakukan pekerjaan di rumah misalnya mencuci baju, mencuci piring, dan menyapu karena jika sudah bermain handphone remaja akan asik sendiri dan malas melakukan kegiatan lain selain bermain handphone dan membentuk sifat hedonisme pada remaja.

Menurut saya keberanian diri untuk terbuka terhadap orang lain dan berobat merupakan salah satu langkah yang tepat. Di era digital seperti sekarang banyak platfrorm yang meyediakan layanan konsultasi secara daring dengan biaya maupun gratis. Selain itu, beberapa puskesmas telah menyediakan layanan konsultasi psikologi dengan biaya gratis maupun berbayar dengan harga terjangkau.

Kesehatan mental merupakan aspek yang sangat penting bagi remaja. Dengan menjaga kesehatan mental remaja dengan baik, remaja dapat menghadapi tantangan hidup dengan lebih baik, menjalin hubungan yang sehat, meraih kualitas hidup yang baik, mendekatkan diri kita kepada sang pencipta, perbanyak ibadah dan meminta doa.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya