Mengibaratkan Agama sebagai Sebuah Kamus

Mahasiswa PBSI UNJ 2022
Mengibaratkan Agama sebagai Sebuah Kamus 13/02/2024 617 view Agama Ilustrasi kamus (Pixabay/PDPics)

Saya yakin kita semua sudah mengenal semboyan ’Bhinneka Tunggal Ika’ sejak SD. Semboyan tersebut pun mengandung makna bahwa ‘Indonesia terdiri dari berbagai suku, agama, dan budaya, namun tetap satu kesatuan yang utuh'. Dan semboyan ini menjadi landasan kita untuk menjaga persatuan dan kesatuan dalam keberagaman.

Namun, sejak SD saya merasa semboyan Bhinneka Tunggal Ika, ya cuma semboyan yang jarang banget diterapkan. Contohnya, kalau kita punya teman yang beragama non-Islam, kita tuh pengen teman kita itu masuk Islam. Iya kan? Dan, kita menganggap hal ini cuma bercandaan saja, bukan suatu hal yang serius.

Nah, ini masalahnya. Sudah sejak kecil kita mewajarkan bercanda yang intoleransi banget. Selain bertentangan dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, bercandaan ini juga bertentangan dengan sila pertama Pancasila. Istighfar cuy! Setiap orang itu berhak untuk memeluk agama dan kepercayaannya masing-masing. Jadi kita tidak berhak memaksa teman kita yang non-Islam untuk mengubah agamanya.

Namun sayangnya, kita percaya bahwa mengubah keyakinan teman yang non-Islam adalah aksi yang heroik. Kalau teman kita benar-benar masuk Islam, kita merasa dapat pahala besar, dan berhak rebahan di Surga Blok Firdaus. Tapi, kasus kecil seperti ini pun bisa membuat agama kehilangan fungsinya sebagai panduan moral dan hidup, karena agama dijadikan alat untuk menilai “agama gua yang paling benar”.

Padahal secara tegas Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 Pasal 28E ayat (1) menjelaskan setiap orang berhak memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali. Lalu di ayat (2) menjelaskan bahwa setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya,

Intoleran Aktif Ancam Demokrasi

Survei Setara Institute for Democracy and Peace yang dirilis pada Rabu (17/03/2023) mengungkapkan bahwa terjadi peningkatan jumlah pelajar intoleran aktif di SMA dan di lima kota Indonesia (Bandung, Bogor, Padang, Surabaya, dan Surakarta). Direktur Eksekutif Setara Institute, Halili Hasan menyatakan bahwa pada survei serupa yang dilakukan pada tahun 2016, hanya 2,4 persen pelajar yang teridentifikasi sebagai intoleran aktif. Namun, pada survei terbaru, jumlah tersebut meningkat menjadi 5,6 persen.

Halili mengungkapkan kekhawatiran bahwa peningkatan ini dapat menjadi ancaman bagi demokrasi dan toleransi di Indonesia. Ia mengatakan bahwa pelajar yang intoleran aktif cenderung memiliki perilaku yang berbahaya, seperti kekerasan dan diskriminasi. Survei ini melibatkan 947 pelajar laki-laki dan perempuan sebagai responden. Hasil survei juga menunjukkan bahwa sekitar 20,2 persen pelajar mengaku sulit menahan diri tidak melakukan kekerasan. Selain itu, survei ini juga menunjukkan bahwa 83,3 persen responden menilai Pancasila bukan ideologi negara yang bersifat permanen dan dapat diganti.

Nah, survei di atas hanyalah serpihan masalah intoleransi beragama dan berkeyakinan di negara kita. Masih banyak kasus intoleransi beragama dan berkeyakinan yang sampai menimbulkan konflik kekerasan fisik. Tapi perlu dicatat, kejadian intoleransi beragama dan berkeyakinan ini bukan hanya dilakukan orang yang menganut agama Islam kepada penganut agama non-Islam saja. Begitu juga sebaliknya, atau agama non-Islam dengan agama non-Islam lainnya. Tapi secara jelas, apa pun agama dan keyakinannya, tindakan intoleransi beragama dan berkeyakinan adalah tindakan yang salah.

Setiap Agama Mempunyai Sistem Sendiri

Saya sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, mengibaratkan agama adalah sebuah kamus. Dan, saya menganggap berbagai tindakan baik manusia adalah kata baku. Boleh dikatakan segala tindakan baik (kata baku) manusia pasti ada di dalamnya. Menurut saya, menggambarkan tindakan baik sebagai kata baku mampu mencerminkan esensi kehidupan yang baik. Namun ingat, kita perlu menjauhkan diri dari pandangan sempit yang hanya menilai kebaikan berdasarkan agama tertentu.

Bukankah agama seperti kamus yang mempunyai sistemnya sendiri? Kalau setiap agama mempunyai sistemnya tersendiri; sudah seharusnya kita tahu, ada suatu hal yang tak bisa dipaksakan? Bukankah karena tidak memaksakan; rasa toleransi itu tumbuh? Bukankah, karena kita tahu tidak bisa dipaksakan; kita jadi tidak mengganggu kepercayaan orang lain?

Seorang teman pernah bertanya ke saya, “Men, kalo di dunia ini cuma ada satu agama yang benar, gimana nasib orang yang menganut agama lainnya? Bayangin deh, gimana perasaan mereka yang menganut agama yang salah, terus mereka dibiarkan mendekam di neraka walaupun di dunia suka melakukan kebaikan tanpa pamrih?”

Urusan agama yang benar adalah urusan Tuhan. Urusan kita hanyalah meyakini salah satunya mana yang menurut hati kita benar. Tapi dengan meyakini sebuah agama yang menurut kita benar, bukan berarti kita akan masuk surga begitu saja. Karena kamus hanyalah buku rujukan (untuk melakukan tindakan kebaikan), dan fungsinya membantu orang mengenal kata baku (tindakan baik).

Namun, sayangnya kita sebagai penganut agama mayoritas di negeri ini, kadang merasa paling bener, bahkan menganggap diri calon penghuni surga. Busyet! Kita kerap menyalahkan agama lain yang jelas-jelas sistemnya berbeda. Jelas-jelas kamus (agama) hanya sumber rujukan bukan jaminan mutlak masuk surga. Kalau ingin masuk surga kita harus mengaplikasikan kata baku (kebaikan) dalam sistem kamus (agama) yang kita pilih. Bukannya menjelek-jelekkan agama lain dan merasa diri kita paling benar.

Saya rasa dengan menganalogikan agama bagai sebuah kamus, ini dapat membantu kita memahami pentingnya toleransi beragama dan berkeyakinan. Dengan ini, kita bisa menghormati hak orang lain untuk memeluk agama dan kepercayaannya masing-masing. Dan, jangan lupa, toleransi beragama juga berarti tidak memaksa orang lain untuk mengubah agamanya, meskipun cuma bercanda.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya