Menggali Relevansi Gagasan Descholling Society Ivan Illich di Indonesia

Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya
Menggali Relevansi Gagasan Descholling Society Ivan Illich di Indonesia 03/09/2023 343 view Pendidikan flickr.com

Ivan Illich merupakan seorang filsuf, pemikir sosial, dan pendidik yang lahir pada 4 September 1926 di Wina, Austria, dan meninggal pada 2 Desember 2002 di Bremen, Jerman. Ia dikenal karena karyanya yang mengkritik institusi-institusi sosial seperti pendidikan, kesehatan, dan transportasi. Pandangan-pandangan Illich tentang pendidikan dan kesehatan sering kali kontroversial, tetapi ia telah memberikan kontribusi yang signifikan pada ranah sosial dan kritik terhadap sistem institusional.

Ivan Illich mengkritik sistem medis dalam bukunya yang berjudul Medical Nemesis (1975). Dia berpendapat bahwa sistem medis modern cenderung menciptakan ketergantungan pada teknologi dan profesional kesehatan, yang pada akhirnya mengurangi kemandirian dan kesejahteraan individu.

Selain itu, pemikirannya yang terkenal adalah tentang 'de-schooling society' atau masyarakat tanpa sekolah yang ditulis dalam karyanya berjudul Deschooling Society (1971). Dalam buku ini, ia mengkritik sistem pendidikan formal yang ia anggap terlalu terpusat pada institusi dan menciptakan ketergantungan pada birokrasi dan ahli. Illich menekankan pentingnya pendidikan yang terlibat secara aktif dalam masyarakat dan memungkinkan individu untuk belajar secara mandiri.

Dalam pemikirannya, Ivan Illich menyoroti dampak negatif dari sekolah formal yang terlalu terfokus pada kurikulum standar dan evaluasi akademik. Ia berpendapat bahwa sistem pendidikan saat itu telah mengurangi pembelajaran menjadi proses yang terkotak-kotak dan terbatas pada struktur sekolah.

Ivan Illich juga berpendapat bahwa ini tidak hanya membatasi kreativitas dan inisiatif individu, tetapi juga menciptakan kesenjangan sosial di antara mereka yang mampu bersekolah dan mereka yang tidak mampu. Pendapat-pendapatnya tersebut merupakan suatu kritik atas kurang efisiennya sistem pendidikan modern saat itu. Lebih jauh ia berpendapat, “Krisis pendidikan modern terletak pada kenyataan bahwa kita telah mengembangkan sistem produksi yang sangat efisien dan menerapkannya pada pengembangan manusia."

Relevansi pemikiran Ivan Illich di Indonesia terletak pada konteks sosial dan budaya yang beragam di negara ini. Indonesia adalah negara dengan lebih dari 17.000 pulau, memiliki keragaman etnis, bahasa, dan tradisi yang sangat kaya. Sistem pendidikan yang terlalu terpusat pada kurikulum standar dan evaluasi akademik cenderung mengabaikan keanekaragaman ini.

Seperti yang dapat kita rasakan saat ini bahwa pendidikan di Indonesia merujuk pada berbagai permasalahan dan tantangan yang terkait dengan proses pembelajaran formal di lembaga-lembaga pendidikan. Setidaknya terdapat beberapa faktor permasalahan pendidikan yang dapat kita temukan.

Pertama, terdapat beberapa kurikulum di Indonesia dianggap terlalu padat dan tidak memberikan ruang yang cukup untuk pengembangan kreativitas dan kegiatan di luar akademik. Kurikulum yang terlalu padat ini dapat membebani siswa dan mengurangi waktu yang dapat digunakan untuk kegiatan ekstrakurikuler, seperti olah raga, seni, dan aktivitas sosial.

Kedua, masih terdapat ketimpangan pendidikan yang signifikan antara daerah perkotaan dan pedesaan, serta antara pulau-pulau di Indonesia. Infrastruktur pendidikan yang kurang memadai di daerah tertentu, keterbatasan akses ke fasilitas pendidikan, dan kualitas guru yang berbeda-beda di berbagai wilayah adalah beberapa faktor yang menyebabkan ketimpangan ini.

Ketiga, terdapat beberapa sekolah di Indonesia masih mengalami keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai. Kurangnya gedung sekolah yang memadai, fasilitas laboratorium, perpustakaan yang memadai, akses internet, dan perlengkapan pembelajaran lainnya dapat mempengaruhi kualitas pendidikan dan pengalaman belajar siswa.

Keempat, adanya biaya pendidikan yang menjadi hambatan bagi sebagian keluarga di Indonesia. Biaya pendidikan yang tinggi, terutama di tingkat perguruan tinggi, dapat menghalangi akses ke pendidikan yang berkualitas dan berkesinambungan.

Pemikiran Ivan Illich menggugah banyak pertanyaan penting tentang sistem pendidikan yang ada dan relevansinya dalam masyarakat Indonesia yang kompleks. Pemikirannya mengenai pendidikan mengajak kita untuk mempertanyakan apakah sistem pendidikan saat ini memadai untuk mengakomodasi keberagaman ini, atau apakah ada cara yang lebih baik untuk mendekati pendidikan di Indonesia.

Selain itu, pemikiran Ivan Illich juga menyoroti pentingnya pendidikan informal dan pembelajaran sepanjang hayat. Dia berpendapat bahwa pembelajaran tidak hanya terjadi di dalam kelas, tetapi juga melalui pengalaman sehari-hari, interaksi sosial, dan eksplorasi individu. Ini berarti bahwa pendidikan tidak hanya terbatas pada sekolah formal, tetapi juga dapat terjadi di luar kelas, melalui kegiatan seperti magang, kerja sukarela, dan partisipasi dalam kegiatan masyarakat.

Pendekatan ini sangat relevan di Indonesia, di mana banyak siswa dan masyarakat tidak memiliki akses terhadap pendidikan formal yang berkualitas. Oleh karena itu, mempromosikan pendidikan informal dan pembelajaran sepanjang hayat dapat membantu mengatasi kesenjangan pendidikan yang ada di negara ini. Ini berarti mengakui nilai dari pengalaman sehari-hari, tradisi lokal, dan pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia secara umum.

Relevansi pemikiran Ivan Illich juga terlihat dalam konteks kurikulum pendidikan di Indonesia. Sistem pendidikan saat ini sering kali cenderung memprioritaskan mata pelajaran akademik inti, seperti matematika dan ilmu pengetahuan, sementara mata pelajaran non-akademik seperti seni, musik, dan bahasa daerah sering diabaikan.

Pemikiran Ivan Illich mengajak kita untuk mempertanyakan apakah pendidikan yang terlalu terfokus pada aspek akademik mengabaikan pentingnya pengembangan keterampilan praktis dan kreativitas siswa.

Ivan Illich juga mengusulkan konsep belajar mandiri dan partisipatif. Dia berpendapat bahwa siswa harus menjadi agen dalam proses pembelajaran mereka sendiri, memilih apa yang mereka ingin pelajari dan bagaimana mereka ingin belajar. Relevansinya di Indonesia adalah mengajarkan siswa untuk menjadi pribadi yang mandiri, kritis, dan mampu menghadapi tantangan di masyarakat yang berubah dengan cepat.
Namun, penting juga untuk digarisbawahi bahwa pemikiran Ivan Illich ini bukanlah solusi sempurna untuk masalah pendidikan di Indonesia. Konteks Indonesia yang unik dan tantangan yang dihadapi oleh sistem pendidikan tidak dapat diatasi hanya dengan mengadopsi pemikiran dari luar.

Meskipun demikian, pemikiran dan ide-ide Ivan Illich memberikan pijakan penting bagi kita untuk mempertanyakan, memperbaiki, dan mengembangkan sistem pendidikan yang lebih inklusif, beragam, dan relevan di Indonesia. Dengan demikian, pemikiran Ivan Illich memiliki relevansi yang kuat dalam konteks pendidikan Indonesia saat ini.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya