Mengenal Lebih Jauh Pemikiran Kontemporer Hassan Hanafi

Mahasiswa
Mengenal Lebih Jauh Pemikiran Kontemporer Hassan Hanafi 03/01/2023 39 view Politik mazhabkepanjen.com

Hasan Hanafi lahir pada 13 Februari 1935 di kota Kairo, Mesir. Beliau memiliki darah Maroko, karena kakeknya berasal dari Maroko dan neneknya berasal dari bani Mur (Mesir). Pada saat Hasan Hanafi berumur 5 tahun, ia sudah hafal Al-Qur’an. (Achmad Baidhowi, Tafsir Tematik Menurut Hasan Hanafi, jurnal studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, Vol. 10, No. 1, 2009, Hal. 38).

Hassan Hanafi percaya bahwa teologi bukanlah pemikiran murni yang ada dalam kekosongan sejarah, tetapi refleksi dari konflik sosial dan politik.

Hassan Hanafi, siapa yang tidak mengenalnya. Dia benar-benar pemikir kontemporer, dan banyak ide atau karya berasal darinya. Salah satunya adalah gagasan Ilmu Kalam yang akan dibahas pada kesempatan kali ini.

Kritik Terhadap Teologi Tradisional

Dalam konsep rekonstruksi teologis tradisional, Hanafi menekankan perlunya mengubah arah konsep sistem kepercayaan (teologi) yang ditetapkan sesuai dengan perubahan lingkungan politik yang terjadi. Teologi tradisional lahir dari konteks sejarah di mana jantung sistem kepercayaan Islam, transendensi Tuhan, diserang oleh perwakilan sekte dan budaya lama. Teologi bertujuan untuk mempertahankan ajaran utama dan menjaga kemurniannya.

Hassan Hanafi percaya bahwa teologi bukanlah pemikiran murni yang ada dalam kekosongan sejarah, tetapi refleksi dari konflik sosial dan politik. Menurut Hanafi, teologi sebenarnya bukanlah ilmu tentang Tuhan yang secara etimologis berasal dari kata Theos dan Logos, melainkan ilmu tentang kata (ilm al-kalam), karena Tuhan tidak diatur oleh ilmu, Tuhan itu dalam Wujud-Nya. wahyu terungkap dalam kata-katanya. Ilmu kata yaitu hermeneutika, atau tafsir, yang mempelajari analisis wacana tidak hanya dari aspek formal murninya, tetapi juga dari konteksnya, yaitu pemahaman dunia.

Dalam praktiknya, Hanafi juga menunjukkan bahwa teologi tradisional tidak bisa menjadi “gagasan yang benar-benar hidup” yang mengilhami tindakan dalam kehidupan konkret umat manusia. Teologi tradisional justru gagal menjadi ideologi yang benar-benar aplikatif dalam kehidupan nyata umat Islam. Dia mengatakan umat telah dihajar oleh disintegrasi dan kehancuran, baik secara pribadi maupun sebagai masyarakat. Secara pribadi, pikiran orang terputus dari kesadaran, perkataan dan perbuatan.

Secara historis, teologi sudah meyikapi dengan adanya benturan berbagai kepentingan dan sarat  dengan konflik sosial-politik. Teologi telah gagal pada dua tingkat yaitu tingkat teoretis yang gagal mendapat pembuktian ilmiah dan filosofis serta tingkat praksis,yaitu gagal karena hanya menciptakan apatisme dan negativism. (Didin Saefuddin,Pemikiran modern dan postmodern islam:Jakarta,PT.Grasindo,2003 hal.186).

Rekontruksi Teologi

Untuk Menjadikan teologi sebagai ilmu yang berguna saat ini. Hassan Hanafi mengkonstruksi dan merevisi, merekonstruksi epistemologi lama, yang ambigu dan palsu menjadi epistemologi baru yang valid dan lebih bermakna.

Tujuan rekonstruksi teologis Hanafi adalah menjadikan teologi tidak lagi sekedar dogma agama yang kosong, melainkan mengkonkretkannya sebagai ilmu pejuang sosial, sehingga akidah memiliki fungsi praktis sebagai landasan etika dan motivasi manusia.

Langkah-langkah melakukan rekontruksi teologi ini dilatarbelakangi dengan Ideologi yang jelas sangat dibutuhkan dalam pertarungan global antar ideologi, pentingnya ideologi baru ini tidak hanya terletak pada aspek teoretis, tetapi pada realisasi praktis ideologi sebagai gerakan sejarah, salah satu kepentingan teologis adalah untuk memecahkan masalah kependudukan tanah di negara-negara muslim serta manfaat praktis teologi (amaliyah fi'liyah) adalah manifestasi praktisnya dalam realitas melalui realisasi tauhid di dunia Islam. Hanafi menginginkan "teologi dunia", sebuah teologi baru yang mampu menyatukan umat Islam di bawah satu tatanan.

Dalam pandangan Hanafi, rekonstruksi teologis adalah satu-satunya cara untuk berharap bahwa teologi dapat memberikan kontribusi nyata bagi sejarah manusia.

Selanjutnya, Hanafi memberikan dua hal untuk mencapai kesempurnaan teori ilmu pengetahuan dalam teologi Islam, yaitu pertema kajian bahasa. Bahasa dan terminologi dalam teologi tradisional merupakan warisan nenek moyang kita di bidang teologi, bahasa unik yang sepertinya sudah menjadi aturan sejak dulu. Dalam pandangan Hanafi, semua itu sebenarnya mengungkapkan ciri-ciri dan metode ilmu, ada yang bersifat empiris-rasional, seperti iman, amal, dan imamah, ada yang bersifat historis, seperti nubuwah, dan ada pun juga yang bersifat metafisik, seperti Allah dan akhirat.

Kedua, kajian realitas. Kajian ini dilakukan guna mengetahui konteks sosiologis historis di mana teologi diproduksi di masa lalu, untuk menggambarkan dampak nyatanya bagi kehidupan masyarakat dan bagaimana ia memiliki kekuatan untuk membimbing perilaku para pendukungnya. Analisis realitas ini berperan penting dalam menentukan arah teologi kontemporer (Anwar,Rosihon,2003).

Dialektika, Fenomenologi, Dan Hermeunetik

Terdapat tiga metode berfikir yang dipakai oleh Hasan Hanafi, antara lain: dialektika, fenomenologi dan hermeunetik. Pertama, dialektika adalah cara berpikir yang menganggap bahwa proses perkembangan sejarah dilakukan melalui oposisi dialektika di mana tesis melahirkan antitesis dan melahirkan kembali sintesis.

Kedua, fenomenologi adalah pemikiran Husserl (1859-1938), yaitu suatu cara berpikir untuk menemukan hakikat fenomena atau realitas. Dalam pandangan Husserl, hakikat fenomena dapat diwujudkan melalui tiga tahap reduksi, tahap pertama adalah reduksi fenomenologi, yaitu melihat suatu objek sebagaimana adanya tanpa adanya prasangka. Yang kedua adalah mengembalikan esensi, yaitu menyaring segala sesuatu yang bukan milik esensi objek, serta menemukan dan memahami struktur dasar objek. ketiga adalah reduksi transendental, yaitu kesadaran murni, sehingga seseorang dapat menyadari dirinya sendiri melalui objek tersebut, atau bagaimana mewujudkan ide atau pemikiran tentang objek tersebut, dalam upaya menjadikan kehidupan subjek menjadi indah dan sempurna. Tujuan Hanafi adalah menggunakan fenomenologi untuk menganalisis, memahami dan memetakan realitas sosial, politik, ekonomi, realitas di dunia Islam dan realitas tantangan Barat yang menjadi landasan revolusi.

Ketiga, hermeneutika adalah metode penafsiran teks atau simbol yang perlu mampu menjelaskan situasi yang belum dialami di masa lalu dan kemudian membawanya ke masa kini. Kegiatan penafsirannya terdiri dari tiga aspek yang saling berkaitan yaitu teks, perantara/penafsir dan penyampaian kepada khalayak (A. Khudori Sholeh, Filsafat Islam).

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya