Mengenal Lebih Dekat Al-Farabi

Mengenal Lebih Dekat Al-Farabi 21/05/2022 74 view Agama kompasiana.com

Abu Nashr Muhammad Ibn Tarkhan Ibn al-Uzalagh Al-Farabi atau yang dikenal dengan Alpharabius, Al-Farabi, Farabi, dan Abunasir. Beliau lahir di Farab daerah Turki pada tahun 258 H/870 M dan wafat pada tahun 339 H/950 M di Damsyiq pada usia 80 tahun. Al-Farabi dilahirkan dari keluarga yang mana ayahnya adalah seorang jendral Turki keturunan Persia, sedangkan ibunya berdarah Turki asli.

Sejak kecil Al-Farabi memiliki kecerdasan yang sangat istimewa dan bakat untuk menguasai semua ilmu yang beliau pelajari. Beliau memulai pendidikan dasarnya dengan mempelajari dasar-dasar dari ilmu agama dan bahasa. Ilmu agama yang dipelajari oleh Al-Farabi meliputi Al-Qur’an, hadis, tafsir, fikih, dan ilmu bahasa meliputi bahasa Arab, Persia, dan Turki.

Selain ilmu-ilmu tersebut, beliau juga mempelajari matematika dan filsafat serta melakukan pengembaraan untuk mendalami ilmu-ilmu lain. Sejak beliau muda hingga dewasa, beliau selalu bergelut dengan dunia ilmu. Beliau pernah singgah di Bagdad selama 20 tahun untuk belajar pada ahli logika Abu Bisyr Matta ibnu Yunus, kemudian beliau melanjutkan perjalanan untuk belajar dengan Yuhana ibnu Khaylan di Harran. Setelah itu, Al-Farabi tertarik pada pusat kebudayaan Aleppo, tempat berkumpulnya manusia-manusia hebat di lingkungan istana Saif Al-Daulah Al- Hamdani, dan melanjutkan perjalannya ke tempat itu.

Pada bidang filsafat, beliau mempelajari seluruh karya-karya Aristoteles, hingga beliau membaca de Anima Aristoteles sebanyak 200 kali, dan Physics 40 kali. Atas keseriusannya dalam mempelajari karya-karya Aristoteles, beliau pun dijuluki sebagai Guru kedua. Sistem filsafatnya merupakan sintesis dari Platonisme, Aristotelianisme, dan Sufisme. Berkat kecerdasan dan kemahirannya pula yang membawanya ke lingkaran istana.

Ibnu Khallikan memujinya sebagai filsuf Muslim terbesar yang tidak tertandingi dalam dunia sains dan filsafat.

Secara garis besar, objek kajian dari filsafat Al-Farabi terbagi menjadi beberapa bagian yaitu, ontologi, metafisika teologi, konsep kosmologi yang berkaitan dengan teori eminasi, jiwa rasional, dan filsafat politik. Di samping keahliannya dalam bidang filsafat beliau juga mahir dalam bidang sains seperti kedokteran.

Selain pada bidang filsafat dan sains, Al-Farabi juga mahir pada bidang teori dan praktek musik. Dari keahliannya dalam seni musik ini, beliau pernah membuat alat musik dan beliau sendiri yang menggunakannya di depan banyak orang, ketika pertama kali beliau memainkan alat musik tersebut para pendengarnya tertawa, ketika untuk kedua kalinya beliau memainkannya para pendengarnya menangis, dan ketika untuk ketiga kalinya beliau memainkan alat musik tersebut para pendengarnya tertidur.

Ibnu Sab’in menyebutkan dalam bukunya bahwa, Abu Nashr Al-Farabi adalah seorang filosof yang paling paham dan paling banyak mengerti tentang ilmu-ilmu lama. Ia hanya seorang filosof, namun ia meninggal dunia sebagai orang yang benar-benar cerdik yang mengerti hakikat.

Sedangkan Ibnu Khallikan mengungkapkan bahwa, tidak ada seorangpun yang setingkat dengan ilmu Al-Farabi, Ibnu Sina pun banyak mengutip dan mengambil manfaat dari karya Al-Farabi.

Sementara itu sebagian orientalist ada yang mengatakan bahwa, semua filsafat Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd adalah bersumber dan berakar pada Al-Farabi.

Orang-orang Arab sendiri beranggapan bahwa, Al-Farabi sebagai ahli Manthiq (Logika) terbesar setelah Aristoteles. mereka menganggap Aristoteles adalah Guru pertama, dan Al-Farabi adalah Guru kedua.

Karya-karya Al-Farabi dibedakan menjadi dua bidang yaitu, logika dan non-logika. Pada bidang logika, beliau berkomentar atas karya Aristoteles yang berjudul Organon, dan menulis pengantar logika. Sedangkan pada bidang non-logika, beliau meringkas tulisan Plato The Laws, mengomentari Nicomachean Ethics, Physics, Meteology, de Caelo et de Mundo on the Movement of the Heavenly Sphere Aristoteles, mengulas komentar Alexander Aphrodisias tentang jiwa (de Anima), ditambah tulisan pribadi tentang jiwa (on the soul), daya jiwa (on the power of soul), kesatuan dan satu (unity and the one), aql dan ma’qul (the intelligence and intelligible), menulis makalah tentang substansi (substance), waktu (time), ruang serta ukuran (space and measure), dan kekosongan (vacuum), mengulas Al-Majasta Ptolemy, dan berbagai ulasan tentang persoalan Euchid.

Selain karya-karya tersebut Al-Farabi juga memiliki beberapa karya tulis yaitu, Al Musiqi Al-Kabir yang di dalamnya terdapat pemaparan tentang dasar musik, teori, dan praktiknya, Ihsha’u Al-Iqa, Kalam Fi al-Musiqi, Ihsha’u Al-Ulum wa At-Ta’rif bi Aghradhiha, Jawami As-Siyasah, dan juga karyanya yang paling terkenal adalah Al-Madinah Al-Fadhilah (Kota atau Negara Utama) yang membahas tetang pencapaian kebahagian melalui kehidupan politik dan hubungan antara rejim yang paling baik menurut pemahaman Plato dengan hukum Ilahiah Islam. Filsafat politik Al-Farabi, khususnya gagasannya mengenai penguasa kota utama mencerminkan rasionalisasi ajaran Imamah dalam Syi’ah.

Karya-karya Al-Farabi tersebar luas di Timur dan Barat pada abad 10 dan 11 M, diketahui karya-karya beliau ada yang diterjemahkan ke bahasa Yunani dan Latin sehingga mempengaruhi cakrawala pemikiran sarjana Yahudi dan Kristen. Karya Al-Farabi juga ada yang diterjemahkan ke bahasa Eropa modern, sehingga beberapa filsuf Barat terpengaruh oleh ciri khas dari filsafatnya. Misalnya Albert the Great dan Thomas Aquinas, mereka yang acap kali mengutip pemikiran Al-Farabi dan menyamakannya dengan Spencer dan Rousseou.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya