Mengembalikan Norma-Norma dan Agama Tradisional Nenek Moyang

Orang yang terjebak
Mengembalikan Norma-Norma dan Agama Tradisional Nenek Moyang 20/04/2024 136 view Budaya istockphoto.com

Zaman ini manusia telah gila akan apa yang ia percayai. Telah buta atas apa yang ia dengar dan belum tentu ia pahami secara lebih mendalam. Agama yang berasal dari luar telah menjadi tuan di atas tanah leluhur yang seharusnya mempunyai harkat dan tempat yang lebih tinggi dibandingkan dengan agama penjajah. Kharingan, kejawen, sunda wiwitan, dan masih banyak lainnya dipandang sebagai kepercayaan saja. sedangkan agama yang datang dari luar dipandang sebagai kebenaran mutlak yang membawa keselamatan, apakah benar demikian?

Kepercayaan atau agama asli dari suku-suku di negara tercinta hanya dipandang sebagai animisme dan dianggap sebagai penyembah berhala. Sungguh suatu ironi, agama yang selama ini membawa keteraturan bagi para leluhur dan nenek moyang bangsa dianggap sebagai sebuah nista yang tidak membawa ketidakberadaban tapi apakah benar demikian? Kenapa kepercayaan tradisional hanya dianggap sebagai kelas nomor dua dan dianggap lebih rendah dibandingkan agama yang berasal dari luar.

Apakah kita sebagai manusia lebih menganggap benar sesuatu yang berasal dari luar ketimbang kebenaran yang berasal dari jati diri kita sendiri. saya tidak perlu mememaparkan lebih Panjang dan lebih detail tentang apa yang perlu dan apa yang benar. Kita semua tahu yang tersisa dari penjajahan negara hanylah agama. Seperti yang dikatakan oleh seorang dari tanah Afrika “Dulu kami punya tanah, dan mereka punya agama. Sekarang kami punya agama mereka punya tanah, kembalikan tanah kami dan ambil agama kalian”.

Agama yang memonopoli kebenaran dan hanya menganggap dirinya sebagai jalan menuju keselamatan tidak lebih dari sebuah propaganda kapitalis untuk menghisap darah rakyat. Pememukanya yang katanya pembela yang lemah dan tertindas, ternyata hidup dalam kegelimangan harta tanpa pernah merasakan apa yang dinamakan dengan kelaparan. Jadi kenapa kepercayaan atau agama tradisional hanya diklasifikasikan sebagai kepercayaan dan dianggap sebagai nomor dua. Padahal dahulu dengan kepercayaan itulah para leluhur tidak pernah mengalami kekurangan makanan dan selalu sejahtera.

Tidak usah memperdebatkan hal yang tidak perlu tentang kebenaran dan lain sebagainya seperti siapa yang punya surga dan siapa yang nanti di neraka. Liatlah realita yang ada saat ini, negara kita tertinggal oleh agama yang dianggap membawa kesejahteraan dan keselamatan. Sedangkan negara atau bangsa yang dulu membawa agama-agama mereka ke tanah kita sudah perlahan meninggalkan agama yang mereka bawa.

Jika benar membawa keselamatan dan lain sebagainya? Mengapa agama itu mereka tinggalkan. Mengapa hanya kita yang bertahan dan berharap janji setelah kematian akan menerima kesejahteraan. Omong kosong jika hanya berharap nanti dan nanti. Kepercayaan dan kesejahteraan harus berjalan seimbang. Tidak timpang dan pincang sebelah. Bukan hanya satu kelas yang diuntungkan tetapi semua kalangan. Bangsa atau suku dayak adalah salah satu contohnya. Perlahan tapi pasti semua mulai direbut dengan mengatasnamakan agama dan kesejahteraan bangsa. Yang pada dasarnya hanya merugikan mereka. Tanah mulai dirampas, mereka perlahan mulai terusir, dan pemuka agama yang mereka percayai hanya ongkang-ongkang kaki di atas harta yang mereka nikmati tanpa perduli siapa yang akan mati. Sungguh sebuah ironi, dari sini saya tahu mengapa para leluhur dan nenek moyang terdahulu lebih mempercayai kepercayaan yang berasal dari dirinya sendiri ketimbang agama-agama dari luar. Karena mereka sudah tahu apa yang akan terjadi jika mereka mengingkari harkat dan martabat dari kepercayaan tradisional bangsa mereka. Benar yang terjadi adalah mereka terjajah, tertipu, dan terasingkan karena menganggap benar apa yang para penjajah imani dan menganggap sesat serta mistik apa yang mereka percayai.

Tidak ada yang perlu disalahkan atau dijadikan kambing hitam. Belum terlambat masih ada kesempatan, kembalikan norma-norma adat dan agama tradisional pada tempat dan harkat yang sebenarnya. Supaya kita dapat menjalankan kembali apa yang telah para leluhur dan nenek moyang kita percayakan selama ini dan kembalikan juga agama-agama yang berasal dari luar pada tempatnya. Dengan demikian perpecahan yang selama ini menjadi masalah utama bangsa ini dapat kita akhiri. Dengan begitu kita dapat menjadi bangsa yang kuat dalam persatuan dan cinta.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya