Mengakhiri Aksi Terorisme

Mahasiswa
Mengakhiri Aksi Terorisme 06/04/2021 69 view Opini Mingguan

Terorisme telah menjadi semacam penyakit tua yang sulit disembuhkan. Upaya "vaksinasi" berupa penguatan aturan nyatanya tak mempan untuk menahan sekaligus menghentikan aksi teror. Bom bunuh diri yang terjadi di depan Gereja Katedral Makasar baru-baru ini mengonfirmasi suatu kelemahan dasar penanggulangan terorisme yang selama ini memang selalu mengandalkan pendekatan formal-yuridis.

Di beberapa tempat, aksi teror bahkan menyusul upaya negara membasmi jaringan terorisme yang lebih menekankan tindakan represif dan eksesif dengan menangkap, menghukum, sampai pada membunuh pelaku. Tindakan represif negara ini tanpa disadari justru menjadi tameng yang memunculkan perlawanan lebih keras pelaku teror dengan sejumlah aksi kriminal yang merusak nilai kemanusiaan dan keadaban publik. Dengan rumusan lain, strategi negara menakut-nakuti jaringan terorisme dengan moncong senjata justru menjadi cambuk yang membuat mereka bagaikan organism yang terus produksi dan bereproduksi. Kalau begitu, apa sebenarnya yang menyebabkan aksi terorisme sulit dikendalikan?

Saya termasuk yang meyakini bahwa imunitas peneror berhadapan dengan "protokol" terorisme negara lebih disebabkan karena melemahnya upaya persuasif sebagai kontra narasi paham radikalisme dan ekstremisme. Apalagi embrio terorisme terbentuk lewat proses indoktrinasi yang tersistematis dan tak kelihatan. Kekuatan indoktrinasi itu secara perlahan membentuk ideologi baru yang menguasai pikiran sebagain orang sehingga dengan leluasa dan tanpa kompromi melakukan aksi teror. Didukung oleh rekayasa teologis, seperti pentingnya jihad dan indahnya mati syahid, suntikan ideologi baru itu akan mudah diterima dan menjadi ideologi yang mapan.

Kemapanan ideologi ini kemudian dibenturkan dengan realitas sosial politik dan ekonomi yang tidak punya keberpihakan pada situasi riil masyarakat sebagaimana yang dirasakan saat ini. Kondisi kerentanan ini pada akhirnya mengategorikan masyarakat ke dalam satu golongan tertentu yang mengidentifikasikan diri sebagai kelompok yang tidak diperhatikan dan disingkirkan oleh sebuah sistem pemerintahan. Peleburan dua kondisi psikologis ini selanjutnya membentuk suatu kekuatan baru yang resisten terhadap kehidupan, termasuk untuk hidup berdampingan dengan orang lain yang berbeda aliran ideologi dan kepercayaan dengan mereka.

Kalau kondisinya sudah demikian, maka bisa dipastikan jaringan terorisme akan menyasar semua orang tanpa peduli aliran ideologi dan keyakinannya. Kalaupun hari ini jaringan terorisme hanya menyasar satu kelompok tertentu, di kemudian hari jangkauannya akan lebih luas jika penanggulangannya tidak komprehensif dan tidak menyentuh akar masalah yang sebenarnya.

Kontra Radikaslisasi

Sekarang tak ada pilihan lain. Mata rantai terorisme harus segera diputus sehingga kedamaian dan kenyamanan hidup sebagai sebuah bangsa terus terjaga. Upaya pemutusan rantai terorisme itu pertama-tama harus dilakukan dengan mengkampanyekan narasi-narasi kontra radikalisasi.

Muatan narasi yang dikampanyekan itu harus berorientasi pada perusakan nilai, ideologi dan pusat-pusat pemikiran tempat bercokolnya paham-paham radikal. Akar kekerasan dan terorisme yang bersumber dari klaim agama harus diberangus dengan memberi penguatan pada pemikiran tentang kedamaian, keharmonisan dan saling menghargai dalam perbedaan.

Penguatan narasi kontra radikalisasi sebagai pemutakhiran penanggulangan pemberantasan terorisme itu juga harus dilakukan secara masif dan berkelanjutan. Sasarannya pun harus menyasar kelompok-kelompok rentan, pusat-pusat peradaban seperti institusi pendidikan, pemerintahan dan keagamaan.

Promotor gerakan ini harus melibatkan semua pihak terutama orang-orang yang dipercaya oleh kelompok yang telah terpapar paham radikalisme. Bila perlu mantan narapida terorisme diberi panggung yang luas untuk turut serta mengambil bagian dalam upaya penanggulangan terorisme. Sebab suara mereka dalam pencegahan radikalisme akan lebih berkesan dari pada orang yang tidak pernah terlibat sama sekali.

Mereka bisa menceritakan pengalaman mereka secara langsung sambil memetakan bahaya-bahaya negatif menjadi teroris. Keterlibatan mereka merupakan bentuk pengakuan, bahwa sebagai sesama warga negara kita punya satu tanggung jawab penting, yakni keutuhan NKRI, sambil menegaskan satu komitmen bersama untuk membentengi diri dari paham-paham radikal.

Poin penting lain sebagai bagian tak terpisahkan dari komitmen memutus mata rantai terorisme adalah pemerintah harus mampu merangkul seluruh elemen masyarakat serta berupaya menjaga kestabilan ekonomi yang ada hingga saat ini. Hal itu bisa dilakukan dengan menyediakan lapangan kerja yang lebih luas, meningkatkan program pembinaan usaha, atau pelatihan keterampilan yang bermanfaat meningkatkan kesejahteraan ekonomi warga. Hal ini penting karena ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial akan berakibat pada kemiskinan masyarakat. Kerentanan (kemiskinan) semacam ini merupakan prakondisi yang memudahkan seseorang bisa memilih jalan radikal dan terorisme tanpa ada rasa peduli terhadap jatuhnya korban yang tidak berdosa.

Di masa pandemi, kewaspadaan harus diperketat karena jaringan terorisme pandai memanfaatkan situasi chaos. Kajian The Habibie Center yang dipublikasikan pada 22 Februari 2021 misalnya mengemukakan, kelompok ektremisme menganggap masa pandemi sebagai momen yang tepat untuk melakukan aksi teror dan melakukan perekrutan.

Mereka melakukan upaya perekrutan dengan menarik simpati melalui beragam aksi seperti membuka pusat bantuan kemanusiaan dan pendidikan alternatif yang murah untuk masyarakat (Kompas). Mencegah efek yang lebih panjang, maka kita harus segera melakukan konsolidasi lintas organisasi baik organisasi keagamaan, budaya, politik dan lain-lain sebagainya untuk melakukan perlawanan. Perlawanan bisa dilakukan dengan beragam cara salah satunya dengan memperkuat literasi digital yang bermuatan narasi-narasi kontra radikalisasi. Hal ini mendesak, mengingat sindikat terorisme rentan menggunakan media sosial untuk melakukan perekrutan yang menyasar kelompok usia muda dan produktif.

Pada akhirnya, mengakhiri aksi terorisme membutuhkan kejelian dan ketajaman analisis dengan memetakan akar masalah sebenarnya. Dari sanalah upaya pencegahan harus dimulai. Dalam kondisi tertentu, upaya represif memang dibutuhkan dalam penanggulangan terorisme. Tapi harus diingat bahwa itu bersifat jangka pendek. Solusi jangka panjang dengan menggiatkan kampanye kontra radikalisasi akan jauh lebih menentukan keberhasilan perang lawan terorisme.

 

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya