Menerka Messi dengan Tugas Barunya

Asesor SDM Aparatur Ditjen Pendidikan Islam Kemenag
Menerka Messi dengan Tugas Barunya 14/08/2021 521 view Politik today.in-24.com

Bergabungnya pemain terbaik dunia enam kali Leonel Messi ke Paris Saint Germain (PSG) mengakhiri haru biru kebersamaannya dengan FC Barcelona. Sebelumnya, Messi sesunggukan menangis saat menyampaikan pidato perpisahan, dan tentu saja untuk sejenak jagat sepak bola ikut mellow bersamanya. Messi demikian terpukul dan fans sepakbola, apapun klub idolanya, ikut larut dan bersimpati. Messi tak kuasa menahan sedih saat “dipaksa” berpisah dengan Barcelona menyusul kondisi keuangan mereka yang berdarah-darah.

Namun, Messi telah resmi bergabung dengan klub elit Prancis tersebut. Dengan prestasi sebagai enam kali pemain terbaik dunia, Messi adalah “dewa” dengan derajat nama besar yang belum pernah dimiliki pemain PSG sebelumnya. Dengan posisi demikian, nilai pemberitaan Messi akan tetap menjadi rujukan utama di tengah gemerlap kedatangan nama besar lain pada diri Gianluigi Donnarumma, Giorginio Wijnaldum, Achraf Hakimi, dan Sergio Ramos.

Kiprahnya akan selalu disorot media Prancis, meski mungkin tidak sebawel media Italia dan Inggris, dan mau tidak mau demikian juga tagline Visit Rwanda”. Tagline “Visit Rwanda” sudah dipakai pemain Arsenal sejak musim 2018/2019. Pemain sekaliber Neymar Jr, Angel Di Maria, dan Mesut Oezil telah memakainya. Namun, dengan segala hormat kepada para pemain tersebut, sorotan “Visit Rwanda” akan lebih berbeda saat Messi yang memakainya karena tingkat publisitas dan prestasi yang ditorehkannya.

Dalam memandang hal tersebut, setidaknya terdapat dua hal yang menarik untuk dicermati. Pertama, bergabungnya Messi ke PSG akan memberinya tugas baru selaku “brand ambassador” Rwanda yang fenonemal sekaligus paradoksal. Kedua, bisa jadi Messi tengah berusaha menyembuhkan keterkejutan dan lara meninggalkan Barcelona. Cara yang ditempuhnya untuk melawan rasa sakit itu adalah dengan mengakrabi spirit kebangkitan rakyat Rwanda yang terefleksikan pada ajakan “Visit Rwanda”.

Paradoks Rwanda

Dalam sebuah ungkapan ringkas, persepsi tentang Rwanda akan lebih dominan mengenai bencana genosida tahun 1994. Tragedi 1994 menghadapkan suku Hutu dan Tutsi dalam salah satu konflik paling berdarah dalam sejarah konflik etnis dunia. Hanya dalam 100 hari kerusuhan, tercatat sekitar satu juta nyawa melayang dari kedua belah pihak. Saat itu, banyak pengamat menilai Rwanda akan menjadi negara gagal, miskin, dan terus dalam jebakan sengkarut masalah rasial tiada akhir.

Namun, sejarah mencatat lain. Paul Kagame yang berlatar Tutsi tampil ke depan dengan menawarkan perspektif rekonsiliasi dan pembangunan ekonomi secara masif. Ajaib, jika dapat dikatakan demikian, dalam hitungan dua dekade, Rwanda telah berubah menjadi negara dengan nilai investasi demikian besar dan GDP yang tinggi. Padahal, geografi Rwanda menjadikannya sebagai negara yang terkunci (landlocked) oleh negara-negara sekitarnya.

Dalam prospektusnya, “Visit Rwanda” sesungguhnya mewakili semangat dan ambisi lebih besar ketimbang sekedar tujuan wisata. Pada diri Paul Kagame, semangat tersebut mengucur deras dalam upaya mengembangkan Rwanda dengan menarik investor untuk berinvestasi dan sepenuhnya menjamin iklim keamanan untuk bisnis.

Jurnalis Carlton Tan menulis tentang Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew di surat kabar ternama The Guardian pada 2015. Tan menjelaskan panjang lebar tentang Lee Kuan Yew terutama tentang prestasinya dalam membangun Singapura hingga menjadi kekuatan ekonomi dunia yang sangat diperhitungkan kini. Namun, Tan juga menyebutkan pandangannya tentang Lee Kuan Yew sebagai sosok otoriter dan diktator. Dengan pertimbangan beragam praktik baik dan capaian fenomenal Singapura secara ekonomi, Tan melunakkan sebutannya pada Yew sebagai sosok otoriter yang pragmatis.

Tepat tidaknya penamaan tersebut tentu menuai pro dan kontra. Namun, di belahan benua lain, tepatnya di kawasan Sub Sahara Afrika, Perdana Menteri Rwanda, Paul Kagame secara terang-terangan menyatakan sebagai pengagum Singapura dengan segala kemajuannya dan berminat menjadikan negaranya sebagaimana layaknya Singapura; dan dalam banyak hal, Rwanda adalah Singapura-nya Afrika kini.

Kagame berhasil mengeluarkan Rwanda dari kubangan konflik rasial yang mengerikan, namun dia juga dinilai memilki tangan besi yang sama kerasnya dengan Lee Kuan Yew dalam berinteraksi dengan lawan politiknya. Kagame mengembangkan sendiri pola keterbukaan dan komunikasi publik yang diyakininya, namun dia menolak demokrasi ala Barat, seraya menyebut bahwa Rwanda dan Afrika pada umumnya memiliki ukuran dan standar demokrasi sendiri.

Dalam paradoks memimpin Rwanda hingga sukses secara ekonomi dan nalar diktator pragmatis yang dikembangkan Perdana Menteri Paul Kagame, kini Leonel Messi mau tidak mau ikut memopulerkannya ke seantero jagat. Popularitas Messi akan disertai iklan Rwanda dan keingintahuan publik untuk mengetahui lebih jauh tentangnya.

PSG, Arsenal, dan Rwanda telah membentuk hubungan bisnis yang saling menguntungkan selama ini. Kedua klub tersebut menerima guyuran dana sponsorship yang besar. Sementara itu, Rwanda pelan menikmati polesan image branding positif atas keberanian dan strategi marketing mereka yang jitu.

Dalam kaitan itu, imaji kengerian atas genosida malah dikemas menjadi tujuan dan gimik wisata, di luar potensi Rwanda yang dikaruniai geografi ribuan perbukitan. Pada beberapa lokasi di Kigali, terdapat wisata museum genosida Hutu dan Tutsi. Koleksi museum tersebut di antaranya adalah alat peperangan saat terjadinya konflik, gunungan tengkorak korban genosida, dan kutipan ajaran serta praktek rekonsiliasi dan semangat beranjak dari keterpurukan.

Spirit Kebangkitan

PSG memang memiliki banyak sekondan Argentinos pada diri entrenador Mauricio Pochettino, dan para pemain seperti Mauro Icardi, Leandro Paredes, hingga Angel Di Maria untuk membuat Messi at home. Namun, jauh dari zona nyaman yang selama ini diperolehnya di Barcelona dan harus membangunnya dari awal di PSG, Messi bisa jadi diliputi kegamangan yang tidak mudah diungkapnya.

Kehancuran perasaan Messi tentu berbeda dengan pilu warga Rwanda menghadapi dampak genosida. Namun, keberanian dan keterbukaan rakyat dan pemerintah Rwanda dalam menghadapi kegetiran momen tersebut selayaknya keberanian untuk tetap melanjutkan karir pada diri Messi.

Salah satu pesan penting yang terdapat dalam spirit “Visit Rwanda” adalah semangat untuk bangkit dengan kebersamaan dan kerja keras dalam budaya Umuganda tanpa memandang latar belakang ras dan golongan.

Tak seperti kawasan lain di Afrika, Kigali dan sebagian besar kawasan di Rwanda telah mengembangkan diri menjadi kawasan yang asri, bersih, dan tertib. Kagame menekankan stabilitas dan memberi contoh nyata dalam kebijakannya. Dengan Umuganda, Kagame tidak segan untuk ikut serta dalam gotong royong bersih-bersih lingkungan bersama warga. Spirit kebersamaan Umuganda dalam banyak hal berhasil menyatukan rasa sakit warga, menerima realitas genosida sebagai kenyataan, dan mengalihkannya menjadi energi untuk berbuat positif bagi kepentingan bersama.

Di PSG, Messi tentunya diharapkan dapat memupuk kebersamaan dan menunjukkan prestasi cemerlang sebagaimana di Barcelona. Status “kedewaaan” Messi dan rasa sakit yang diperamnya, eloknya beralih pada kerja tim dan kontrubusi maksimal pada PSG. Di luar itu, fans sepak bola sejagat tetap menanti sihir kaki kiri Messi dan gol-gol ajaibnya.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya