Menepis Gombalan Politik Anies-Ganjar

Esais
Menepis Gombalan Politik Anies-Ganjar 09/10/2022 130 view Politik Padek.Jawapos.com

"Anies Baswedan!", ucap Surya Paloh, Anda-Anda bersorak gemberia kann.. "Duh, mimpiku akan menjadi kenyataan..", "Anies akan jadi Presiden 2024, Indonesia menuju masa keemasannya..", atau, "Allohuakbar!". Mantap!

Yahh, itu kalau Anda oposan pemerintah, atau alumni dan simpatisan Gerakan 212. Tapi kalau ternyata Anda adalah pendukung Ganjar Pranowo, ceritanya tentu beda.

"Waduhh, lawan berat nih, mana nasib Ganjar masih digantung PDIP lagi..", atau "ayo, rapatkan barisan..".

Dukung-mendukung capres sih boleh-boleh saja. Toh juga sudah menjadi hak warga negara yang dilindungi undang-undang. Hanya saja, kalau itu dengan cara yang tidak cerdas, inilah masalahnya.

Begini. Pilpres itu pada dasarnya sebuah peristiwa pragmatis. Di sisi Capres-Cawapres, Pilpres adalah sekadar persoalan siapa yang mendapat kekuasaan, dan bagaimana cara mendapatkan dan mempertahankannya. Sedangkan di sisi pemilih, Pilpres hanyalah bagaimana memastikan presiden terpilih adalah pemilik tawaran terbaik.

Selepas Pilpres, situasinya menjadi berubah. Presiden terpilih wajib bekerja mati-matian mewujudkan tawaran yang diberikannya ketika pemilu. Yang kalah, berperan menjadi oposisi yang jeli. Sedangkan Anda-Anda ini wajib memonitor kerja keduanya. Itu sudah.

Hanya saja, si capres-capres ini pada proses mendapatkan kekuasaan membangun ikatan emosional sehingga membunuh rasionalitas. Mereka selalu mendekatkan diri kepada kehidupan Anda. Seolah bagian dari kehidupan Anda. Kadang berpeci, kadang berkerudung, bahkan kalau perlu nyemplung ke got. Dan selepas pemilu, kinerja sebagian mereka ternyata sontoloyo. Baik sebagai pihak pemerintah maupun oposisi.

Tapi karena terlanjur memiliki ikatan emosional, Anda-Anda yang dulu pendukung mereka tetap melakukan pembela, sambil diam-diam meratap "kok hidup malah jadi semakin susah ya...". Hoho..

Coba lihat, seberapa banyak dari kita yang menjadi korban dari Pilpres 2019 kemarin.

Anda yang pendukung Prabowo-Sandi garis keras, apa gak patah hati. Sudah habis-habisan, berkorban apa saja. Harta, waktu, bahkan nyawa. Tapi apa yang terjadi. Sudahpun kalah, eehh.. si doi malah kompak gabung ke pemerintahan.

Anda yang pendukung Jokowi-Ma'ruf Amin juga tak ada bedanya. Iya sih, beberapa saat tenggelam dalam eforia kemenangan. Merasa ikut berjasa dalam memastikan masa depan Indonesia cerah. Lhaaa.. kok ternyata setelah jadi pasangan presiden dan wakil presiden, kebijakan yang dibuatnya kok banyak nganunya...

Pilpres 2024 nanti bisa jadi akan sama persis.

Anies Baswedan itu politisi ulung. Sebagai sesama alumni sebuah universitas dan organisasi gerakan yang sama, saya cukup paham kemampuan politiknya.

Sejak Anies Baswedan mahasiswa hingga kini, kemampuan politiknya sulit ditandingi oleh sebagian besar politisi top saat ini. Intelektualitas, pengalaman, keberanian, dan yang terpenting menyatukan kelompok-kelompok politik bukan hal sulit buatnya.

Coba bayangkan, siapa yang dapat dengan mudahnya berhasil menyatukan Nasdem, Demokrat, dan PKS. Sambil mendulang simpati Pemuda Pancasila, tokoh NU Said Aqil dan putri sekaligus tokoh Gusdurian, Yenni Wahid.

Dan ingat. Ini baru permulaan. Strategi pembangunan ikatan emosional dengan pemilih belum dijalankan. Tapi sudah mampu memobilisir pendukung sedemikian besar.

Dan Ganjar juga bukan politisi sembarangan. Kemampuannya menaikkan elektabilitas dan memperbesar dukungan politik juga tidak sembarangan. Terlebih dalam kondisi kebijakan internal PDIP yang sedang tidak bersahabat terhadap dirinya.

Ganjar belum mendapat restu PDIP yang cenderung menghendaki putri mahkota, Puan, yang maju. Tapi kan ini semua tinggal menunggu waktu, pada akhirnya restu PDIP jatuh ke Ganjar. Lha wong kinerja Dewan Kolonel ngono kok...

Mbak Puan bagi-bagi kaos, ndilalah kok ya senyumnya cemberut. Blunderrr... Mau mendekati petani, lha ya kok nanam padi malah maju, bukan mundur. Blunderr lagi. Rakyat malah antipati. Sementara itu popularitas Ganjar terus melejit.

Hebatnya lagi, Ganjar konsisten menunjukkan sikap patuh sebagai kader PDIP. Itu, waktu sebuah partai mendeklarasikan Ganjar sebagai Capres mereka, oleh Ganjar ide itu ditolak secara lucu. Pilihan politik yang luar biasa.

Mungkin nantinya akan ada capres lain, seperti Prabowo atau Airlangga Hartarto atau Ridwan Kamil. Tapi yang jelas cara kerja Pilpres akan tetap sama. Mereka akan membangun relasi emosional, dan membunuh rasionalitas kita. Demi mendapatkan suara.

Padahal relasi antara kita sebagai pemilih dan Capres di Pilpres 2024 bukanlah emosional, melainkan pragmatis. Tawaran siapa yang paling menjanjikan, itu yang dipilih. Lalu melakukan kontrol selepas pilpres. Kalau ternyata menyimpang, meski jagoan kita yang menang dan jadi presiden, ya tetap disentil. Gak ada urusan.

Artinya, ya jangan mau digombali Anies-Ganjar, atau capres lainnya. Tanggapi saja janji-janji mereka secara rasional. "Kalau saya kasih suara untuk Anda, saya dapat apa?". Lalu kalau nanti mereka duduk sebagai Presiden dan kebijakannya gak asyik, ya bilang saja, "nies..njar.. kok ngene, janji mu mbiyen ra ngene..".

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya