Menelaah Peta Koalisi Partai Politik Tahun 2024

Menelaah Peta Koalisi Partai Politik Tahun 2024 08/05/2022 74 view Politik pixabay.com

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dengan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) akan bersatu. Ungkapan tersebut akan menjadi penting dalam menelaah peta koalisi partai politik di tahun 2024. Hal ini karena dua partai tersebut merupakan sumber kekuatan utama perpolitikan Indonesia, setidaknya melihat dari dua pemilu sebelumnya. Sehingga gerak-gerik kedua partai tersebut akan sangat disorot menjelang penyelenggaraan pesta demokrasi terbesar di dunia pada tahun 2024.

Indikasi dua partai tersebut akan bersatu dapat terlihat dari kembali mesranya hubungan antara masing-masing ketua umum. Megawati Soekarnoputri selaku ketua umum PDIP dan Prabowo Subianto ketua umum Gerindra di dalam beberapa kesempatan mulai menunjukan kedekatannya. Dimulai dari pertemuan keduanya usai pilpres 2019, mereka bertemu di kediaman Megawati Soekarnoputro, di Teuku Umar, Jakarta Pusat Rabu (24/7/2019). Kemudian berlanjut pada momen Prabowo menghadiri kongres V PDIP di Bali pada Kamis (8/8/2019). Megawati Soekarnoputri bahkan sempat menyapa Prabowo Subianto dalam sambutannya.

Selanjutnya pada saat Prabowo Subianto dilantik menjadi Menteri Pertahanan, Ketua DPR Puan Maharani mengunggah swafoto bersama Menteri Pertahanan dan Megawati Soekarnoputri dalam satu frame. Foto tersebut diunggah di akun Instagram resmi Puan, Jumat (25/10/2019). Puan mengucapkan selamat bekerja untuk Prabowo(Savitri, 2021). Terbaru, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto bersilaturahmi ke kediaman Megawati Soekarnoputri di momen lebaran pada Senin (2/5/2022). Silaturahmi itu dilakukan Prabowo usai berlebaran ke Presiden Joko Widodo (Jokowi) beserta keluarga di Istana Kepresidenan Yogyakarta (Syahrial, 2022).

Menariknya jika dua partai tersebut bersatu dan saling bekerjasama menyusun kekuatan baru untuk mendapatkan kekuasaan politik. Sebab apabila hal tersebut terjadi, sengitnya kompetisi akan sangat terasa untuk para partai politik peserta pemilu lainya. Lebih dari pada itu, gerakan partai politik akan sangat dinamis untuk mencari suaka politiknya masing-masing. Bersatunya dua partai politik besar akan terlihat sexy bagi partai politik lain untuk ikut bergabung membangun kekuatan. Logika sederhananya adalah partai politik yang secara suara tidak cukup kuat di pemilu sebelumnya akan berpikir mengenai cocktail effect yang mereka dapatnya apabila bergabung dengan kekuatan ini, baik itu nanti bersumber pada kelompok koalisi maupun calon yang akan diusung.

Lebih lanjut, mengenai koalisi partai politik yang akan dibangun untuk melawan kekuatan tersebut. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) kemungkinan akan menjadi poros penantang, hal ini berdasarkan keistikomahan PKS selama ini untuk berada di luar pemerintahan. Meskipun pada pemilu sebelumnya PKS dengan Gerindra berdiri dalam satu kapal, namun faktor “pengkhianatan” dan hubungan yang belum cair dengan PDIP cukup menjadi alasan partai politik tersebut akan menjadi poros seberang. Persoalanya adalah selama ini PKS terlihat gagap dalam membangun komunikasi politik dengan aktor yang lain, sehingga mengakibatkan tidak maksimal dalam membangun strategi untuk menghadapi kompetisi. Oleh karena itu, pertarungan di 2024 harus menjadi momentum PKS untuk mengembalikan potensi yang ada pada dirinya, baik itu dalam memperbaiki posisi tawar maupun mempertajam negosiasi politik.

Kemudian, geliat partai politik lain yang memiliki potensi menjadi kejutan di 2024 adalah partai Nasional Demokrat (Nasdem) dan partai Demokrat. Bahkan keduanya bukan hanya dapat menjadi kuda hitam, namun berpotensi besar menjadi pemain utama dalam kompetisi ini. Sebab dari sisi partai Nasdem, geliat untuk membangun kekuatan telah muncul setelah terlihat beberapa kali mengundang banyak tokoh-tokoh nasional yang sangat berpotensi menjadi calon Presiden. Sebut saja Anies Baswedan, nama yang sangat santer akhir-akhir ini diperbincangkan menjadi kandidat kuat menjadi calon presiden. Partai Nasdem dan Anies Baswedan memiliki jalinan hubungan yang harmonis, beberapa momen bahkan gubernur DKI Jakarta tersebut menyambangi kantor DPP Nasdem. Beberapa pengamat politik juga menyampaikan bahwa 2024 menjadi agenda partai Nasdem untuk membuatkan panggung bagi Anies Baswedan. Lebih dari pada itu, partai Nasdem juga sedang menjalin komunikasi yang intens dengan partai Golkar. Ketua umumnya Surya Paloh beberapa kali bertemu dengan Airlangga Hartarto ketua umum Golkar. Hal ini menjadi terlihat bahwa partai Nasdem sedang memiliki agenda menyusun kekuatan untuk melancarkan kepentinganya, kerjasama dengan partai Golkar sangat penting untuk mendukung hal tersebut.

Disisi lain, partai Demokrat dengan Agus Harimurti Yudhoyono atau yang akbrab disapa AHY juga sedang gencar bergerak untuk mendapatkan legitimasi politik. Gerakan tersebut dilakukan AHY ke semua kalangan, baik para elite politik maupun masyarakat yang ada di daerah. Namun yang menjadi persoalan serius partai Demokrat adalah belum terlihat solidnya internal partai pasca peristiwa kudeta pada beberapa waktu yang lalu. Bahkan gejolak penolakan AHY untuk menjadi ketua umum maupun calon yang akan diusung partai masih saja terjadi di beberapa tingkatan kepengurusan. Hal ini menjadi akan menjadi batu sandungan partai demokrat untuk kembali eksis di jagad politik Indonesia. Oleh karena itu, partai Demokrat dengan ujung tombak AHY harus sudah selesai dahulu dalam internalnya sebelum bertarung dengan lawan sesungguhnya di kompetisi 2024.

Pada akhirnya, peta koalisi partai politik di 2024 terlihat masih akan bergerak sangat dinamis. Namun begitu, kisi-kisi pergerakan dan patokan dasarnya mulai muncul di permukaan. Koalisi partai politik menjadi penting bagi perpolitikan Indonesia, sebab akan menyangkut tentang sirkulasi elit. Karena dalam demokrasi yang paling penting adalah membatasi kekuasaan dan memperlancar sirkulasi elite, agar kewarasan politik terus terjaga.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya