Menelaah Hitam Putih Menjamurnya Ikoy-ikoyan

Dust in universe
Menelaah Hitam Putih Menjamurnya Ikoy-ikoyan 09/08/2021 241 view Opini Mingguan taletown.org

Baru-baru ini, aksi salah satu selebgram Arief Muhammad menjadi sorotan publik. Ia mempelopori tren pembagian hadiah atau giveaway dengan istilah baru yaitu "Ikoy-ikoyan". Dalam hitungan menit, Ikoy-ikoyan kemudian mencuat menjadi salah satu ihwal yang paling ramai dibicarakan, terutama dalam ranah sosial media. Bahkan, banyak akun selebgram, influencer, artis, pengusaha maupun toko online turut meramaikan mengikuti tren ini dengan menggelar Ikoy-ikoyannya sendiri.

Istilah Ikoy-ikoyan ini sebetulnya diambil dari nama panggilan asisten selebgram Arief Muhammad yang bernama lengkap Muhammad Rizqi Fadhilah. Ikoy, begitu nama panggilannya sering disebut oleh sang selebgram ketika meminta bantuan si asisten. Kini, Ikoy-ikoyan menjadi istilah kontemporer baru yang kemudian akrab di telinga netizen. Melalui Ikoy-ikoyan, selebgram membagikan hadiah secara cuma-cuma kepada para pengikut dan netizen. Caranya cukup sederhana, netizen dapat berpartisipasi hanya dengan mengirimkan direct message atau DM berisi permintaan kebutuhan kepada selebgram. Dari situ, sang selebgram akan menjawab dan memberikan giveaway sesuai dengan permintaan yang diajukan.

Tak ayal perkara Ikoy-ikoyan ini berkembang dan menjamur dengan amat pesat. Kemudahan untuk memenangkan hadiah atau giveaway dengan hanya mengirim pesan langsung tentu merupakan cara yang amat menggiurkan bagi para warganet. Arief Muhammad sendiri mengakui bahwa dalam sehari ia bisa menerima satu juta lebih direct message melalui instagram berisi permintaan netizen yang berharap mendapatkan keinginannya melalui Ikoy-ikoyan.

Meskipun demikian, mencuat berbagai respon dari merebaknya tren ini. Tren ini mengundang bermacam pro dan kontra. Pihak pro atau para pendukung melihat tren ini merupakan upaya berbagi, namun di pihak kontra menganggap bahwa tren ini hanya akan menjadi perusak mental anak bangsa.

Layaknya mata uang, setiap hal memiliki dua sisi, hitam dan putih, baik itu sisi negatif maupun sisi positif. Begitu juga dengan tren Ikoy-ikoyan yang kini sedang menggaung di berbagai platform sosial media. Di satu sisi, Ikoy-ikoyan jelas memberikan dampak positif terutama bagi para penerimanya. Ikoy-ikoyan lahir sebagai tren baru dari upaya berbagi dari selebgram atau influencer.

Sebagai anak bungsu, tren ini jelas berhasil menarik perhatian masyarakat luas khususnya para netizen yang aktif dalam bermedia sosial. Hal ini terbukti dengan terus menggemanya Ikoy-ikoyan di sosial media. Metode baru dalam pembagian hadiah cuma-cuma ini masih menjadi trending topic. Tidak sedikit selebgram, influencer, akun toko-toko online, bahkan public figure seperti dokter dan artis turut membuat Ikoy-ikoyannya sendiri.

Menjamurnya tren ini juga disambut baik oleh para pemberi hadiah atau sponsor. Arief Muhammad mengatakan bahwa hadiah-hadiah yang akan dibagikan secara gratis melalui Ikoy-ikoyan akan terus bertambah dan meningkat dikarenakan banyak pihak yang menawarkan diri menjadi sponsor. Hadiah dari para dermawan mulai dari alat elektronik hingga uang ratusan juta dijanjikan, tentulah menjadi daya pikat tinggi yang lalu menjadikan tren ini terus bergaung berkembang semakin besar di platform sosial media.

Dari sisi ini, kita melihat sebuah fakta bahwa begitu besar pengaruh seorang selebgram dalam dinamika komunikasi sosial media. Para pemengaruh semacam selebgram atau influencer ternyata benar-benar bisa membuat sesuatu yang tadinya dianggap konyol atau tidak mungkin menjadi mungkin dan doable. Selain itu, peran para selebgram atau influencer ini sebagai jembatan antara pemodal dan penerima modal juga terlihat melalui Ikoy-ikoyan. Bagaimana seorang Arief Muhammad menjadi penyalur tangan bagi para sponsor yang bersedia membiayai untuk berbagi dengan para netizen.

Ada simbiosis di sini, di mana pihak yang membutuhkan dapat memenuhi kebutuhannya, dan para pemberi kebutuhan dapat menyalurkan bantuannya. Bagi selebgram, influencer, atau toko online, tentunya adanya tren ini membantu menaikkan rating, memperbesar pengaruhnya di sosial media. Pengaruh yang berkembang dan bertambah besar sedikit banyak berkontribusi pada melejitnya karir dan prestasi di sosial media, yang tentunya menambah cuan atau penghasilan.

Sisi putih dari ikoy-ikoyan yang juga disorot adalah jalan untuk berbagi di masa pandemi. Saat kondisi serba tidak mudah di kala corona menyebar, Ikoy-ikoyan bagai oase bagi warganet. Bagaimana tidak? Ikoy-ikoyan sangat memudahkan para netizen untuk mendapatkan kebutuhan dan kemauannya hanya dengan aktif di sosial media. Netizen bisa memantau IG story Arief Muhammad untuk mengikuti giveaway Ikoy-ikoyan. Jika beruntung, si selebgram akan memilih pesan langsung yang dikirim oleh warganet dan mengabulkan keinginannya. Kemudahan ini pasti bisa menjadi peringan luka dan beban bagi masyarakat yang benar-benar membutuhkan bantuan, terutama saat kesusahan di waktu pandemi.

Kendatipun banyak kebaikan ditemukan dalam tren Ikoy-ikoyan, tren ini tetap menyimpan kekurangan. Pendapat kontra Ikoy-ikoyan memandang tren ini hanyalah menjadi jalan legal untuk memanjakan warganet. Ikoy-ikoyan yang dinilai terlalu mudah untuk dilakukan dan didapatkan dapat menjadi pelestari budaya minta-minta di Indonesia. Sisi hitam tren ini bahkan disebut dapat merusak mental anak bangsa, di mana para pengikut selebgram yang banyak didominasi oleh kaum muda.

Tren ini dianggap tidak mendidik dikarenakan netizen atau warganet bisa dengan sangat mudah mendapatkan apa yang mereka mau tanpa usaha keras. Hal tersebut membuat masyarakat bisa terlena dengan sikap malas, dan tidak mau kerja keras berusaha dengan sungguh-sungguh dan hanya mengandalkan giveway melalui Ikoy-ikoyan. Nominal hadiah yang tidak kecil juga diibaratkan iming-iming yang terlalu tak masuk akal. Tren ini hanya memberikan gambaran instan dan khayal untuk mewujudkan mimpi.

Beberapa tokoh bahkan menilai Ikoy-ikoyan hanya menjadi sarana menumbuhkan mental pemalas dan peminta-minta. Kemudahan untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan melalui ajang giveaway seperti Ikoy-ikoyan ini dikhawatirkan akan berdampak menurunkan etos kerja masyarakat, terutama warganet para followers selebgram yang terbilang masih belia.

Kekhawatiran akan timbulnya budaya malas, ingin segalanya serba instan tanpa melihat proses, serta mental pengemis yang terus meminta tanpa usaha melalui tren Ikoy-ikoyan. Merebaknya Ikoy-ikoyan yang masih terus bergulir dan menjadi buah bibir masyarakat ditakuti bisa menjadi fenomena yang turut membentuk pribadi anak bangsa yang kurang baik untuk ke depannya.

Sejatinya, hitam putih menjamurnya Ikoy-ikoyan di Indonesia tidak dapat dinafikan. Sisi hitam dan putih akan selalu bersanding satu sama lain di setiap fenomena dan peristiwa, termasuk dalam tren berbagi para pemengaruh sosial media melalui Ikoy-ikoyan. Masyarakat, khususnya warganet atau netizen yang aktif bersosial media haruslah cermat dan hati-hati menempatkan diri menyikapi tren ini.

Jangan sampai terlalu berharap melalui Ikoy-ikoyan, kemudian terlupa pada proses kerja keras yang mesti dilalui untuk mencapai tujuan cita. Jangan sampai juga terlalu menghujat dan membenci, hingga lupa mungkin memang ada alasan tulus berbagi dibalik tren Ikoy-ikoyan, apalagi di masa serba sulit pandemi kini.

Tangan di atas memang lebih baik dari tangan di bawah. Untuk itu mari berharap setiap dari kita bisa menjadi tangan di atas itu, di mana kita dapat berkontribusi dan mengekspansi uluran tangan untuk sesiapapun yang membutuhkan. Semoga bukan hanya pandemi yang meluas, namun tren kebaikan juga turut menjamur dan menggema di seluruh negeri.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya