Menegakkan Etika Bermedia Sosial

Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang
Menegakkan Etika Bermedia Sosial 14/09/2021 39 view Lainnya Jagad.id

Saat ini, media sosial merupakan suatu hal yang tidak dapat terpisahkan dari masyarakat. Media sosial digunakan oleh semua pribadi dalam masyarakat dan tidak mengenal adanya batasan usia. Pengguna dapat mengakses media sosial ini lewat perangkat seperti handphone, laptop dan lainnya.

Dalam mengakses media sosial ini, setiap pengguna dapat membagikan dan menerima jutaan informasi ke seluruh dunia karena tidak ada jarak pemisah di antara pengguna. Tak hanya ini saja, media sosial juga memberikan kebebasan dan keleluasaan bagi setiap pengguna untuk mengekspresikan diri, seperti lewat foto-foto dan video-video di berbagai platform seperti Facebook, Instagram, Tik Tok, Youtube serta platform-platform lainnya.

Dilansir dari datareprotal.com, jumlah pengguna media sosial yang aktif di Indonesia per januari 2021 berjumlah 170 juta pengguna, 61,8% dari jumlah penduduk yang ada. Jumlah ini juga naik 6,3% dari tahun 2020. Pertumbuhan pengguna media sosial ini memiliki dampak yang besar bagi masyarakat, baik itu dampak yang baik ataupun dampak yang buruk. Dampak buruk yang sering muncul adalah penyalahgunaan penggunaan media sosial dan etika dalam bermedia sosial yang kurang baik.

Setiap pengguna dalam masyarakat belum menyadari etika dalam bermedia sosial. Banyak pelanggaran atau hal-hal buruk yang terjadi dalam bermedia sosial. Misalnya, banyaknya berita atau informasi hoaks, munculnya isu-isu negatif yang mengarah pada radikalisme dan ekstremisme, bocornya data-data yang ada tanpa izin dan ujaran-ujaran kebencian kepada berbagai pihak di dalam masyarakat.

Hal ini sungguh melanggar UU No.19 tahun 2016 sebagai perubahan atas UU No.11 tahun 2008 tentang informasi dan teknologi. Hal ini secara khusus termaktub dalam pasal 27 sampai 34 yang mengatur tentang beretika dalam bermedia sosial dan hak setiap pribadi (privacy rights) untuk menggunakan media sosial dengan penuh kebebasan dan keleluasaan yang penuh tanggung jawab.

Dalam tablig akbar yang digelar di Masjid Agung Nurul Huda pada 03 februari 2020 tentang adab bersosial media, Ustadz Dr. Syafiq Riza Basamalah, M.A. mengatakan bahwa banyak pribadi yang belum dewasa dalam menggunakan menggunakan media sosial saat ini.

Media sosial yang merupakan dunia maya lebih berbahaya daripada dunia nyata. Semua dosa ada di sana. Hal ini disebabkan oleh setiap pengguna yang dapat mengaksesnya secara pribadi, tanpa adanya pengawasan dan aturan yang ketat dari pihak yang berwenang dalam penggunaannya.

Oleh karena itu, setiap pengguna perlu memiliki etika dalam bermedia sosial. Etika bermedia sosial ini menjadikan setiap pribadi menjadi pengguna yang bijak, cerdas dan dewasa dalam interaksi dunia maya serta dapat berkomunikasi dengan baik dan lancar dengan para pengguna lainnya.

Etika bermedia sosial harus mendapat perhatian yang besar dan serius dari stakeholder. Perhatian ini diwujudkan dengan cara-cara yang benar dan sesuai dengan etika bermedia sosial yang tepat, seperti yang telah diatur dalam undang-undang.

Para pengguna harus memiliki kesadaran untuk memiliki etika bermedia sosial yang tepat dan menggunakannya dengan bijak. Seperti, menggunakan bahasa yang sopan, tidak mengumbar pesan dan informasi pribadi ke khalayak ramai, tidak membuat atau memercayai berita atau informasi yang hoaks, mengunggah berbagai postingan yang baik dan tidak berbau kekerasan, pornografi dan SARA serta tidak menyinggung berbagai pihak yang ada dalam masyarakat.

Kemudian, pembentukan etika bermedia sosial dapat dilakukan melalui keluarga. Keluarga dapat menjadi wadah pembentukan etika bermedia sosial yang baik, yaitu dengan mengontrol anggota keluarga, khususnya anak-anak usia dini dan remaja dalam bersosial media.

Selain dari pengguna sendiri dan keluarga, pemerintah juga harus ikut ambil bagian dalam membangun etika bermedia sosial di dalam masyarakat. Sejak 23 Februari 2021, pemerintah lewat Polri telah membentuk polisi virtual (virtual police) untuk mengawasi berbagai konten yang ada, terkhusus yang mengarah pada konten yang mengandung kekerasan, pornografi, dan SARA (Kompas.com, 17 Maret 2021), dan juga kebijakan batasan usia dalam mengakses hal-hal tertentu. Pihak lainnya, seperti pengelola platform juga harus mengusahakan platform mereka bersih dari hal-hal yang berbau hoaks dan kekerasan dan membuat fitur-fitur yang mengarahkan pengguna untuk bermedia sosial dengan bijak.

Setiap stakeholder harus saling bahu-membahu membagun etika bermedia sosial di tengah masyarakat saat ini. Perencanaan dan tindakan yang tepat harus dibuat dan dilaksanakan dengan penuh dedikasi sehingga perubahan-perubahan yang positif dapat terwujud.

Setiap pribadi menjadi pengguna yang bijak, cerdas dan dewasa dalam bermedia sosial. Suatu kecerahan pada media sosial. Media sosial dapat menjadi tempat setiap pribadi untuk mengekspresikan diri secara bebas namun harus bertanggung jawab.

Media sosial menjadi tempat bagi setiap pribadi untuk berkomunikasi dengan pribadi lainnya dan berkarya, lewat berbagai posting-an yang telah diunggah. Namun dalam realitasnya, masih banyak pengguna yang melakukan pelanggaran yang berbau kejahatan.

Banyak pengguna belum menyadari pentingnya etika bermedia sosial yang benar. Oleh karena itu, masing-masing pihak bersama-sama memiliki kewajiban untuk mebangun etika dalam bermedia sosial . Di dalam pembangunan etika bermedia sosial ini, semua pihak bersama-sama mewujudkan sikap bijak, cerdas dan dewasa dan mengembalikan fungsi media sosial pada hakikat yang sesungguhnya dan tujuan penggunaan yang sebenarnya.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya