Mencintai Yang Sejati

mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi widya sasana Malang
Mencintai Yang Sejati 10/12/2021 375 view Lainnya indopositive.org

Kita sebagai manusia terkadang melupakan banyak hal yang berharga dalam hidup ini. Kita terlalu sibuk untuk mencari kesalahan dan menjatuhkan satu sama lain tanpa memandang penuh kasih sesama kita yang sedang membutuhkan pertolongan dan perhatian. Kita juga terlalu sibuk untuk menuntut hak kita tanpa mau melakukan kewajiban kita terhadap sesama.

Hidup memang hanya satu kali tetapi apakah hidup yang satu kali itu hanya kita isi dengan mencari kepuasan diri sendiri? Apakah kita harus melupakan sesama hanya untuk kepentingan yang bersifat sementara? Kebanyakan dari kita lupa bahwa yang penting dalam kehidupan adalah bagaimana kita memperlakukan orang lain. Kita mudah untuk menghina orang lain, memberi cap kepada orang lain tanpa pernah mau tahu apa dan bagaimana permasalahan yang sedang ia alami.

Kita seharusnya mulai menyadari dan memahami hidup ini. Pertanyaan-pertanyaan di atas mengantarkan kita untuk mulai mencari makna hidup yang sebenarnya walaupun terkadang memang tidak mudah akan tetapi bukan tidak mungkin untuk dilakukan. Kesadaran seperti ini sudah cukup bagi kita semua untuk mulai menyadari hal tersebut. Atau boleh kita katakan sebagai mencintai sesama.

Mencintai memang tidak mudah, terlebih lagi kita selalu atau lebih ingin dicintai ketimbang mencintai. Memang dalam hal ini kita sulit untuk memulai akan tetapi apabila kita sudah mulai melangkahkan kaki, maka mencintai yang pertama-tama kita rasakan sebagai beban akan terasa semakin ringan. Walaupun tidak dapat ditutupi mencintai memang penuh kesukaran dan jalannya juga tidak rata, kitalah yang harus merasakan sakit, kita jugalah yang selalu berkorban untuk orang yang kita cintai. Sakit memang sakit tetapi apabila kita telah menemukan kebenaran dalam mencintai kita akan mengerti arti cinta yang sebenarnya, bahagia melihat yang kita cintai bahagia, terluka melihat yang kita cintai terluka. Akan tetapi jangan samakan antara mencintai dan obsesi, mereka sama sekali berbeda satu dan yang lainnya. Mencintai adalah seni dan obsesi adalah kebalikannya. Untuk itu mari kita bersama-sama untuk mulai mencintai sesama, karena dengan mencintai kita mengerti dan ketika kita mengerti kita memahami.

Dalam hal ini kita tidak hanya diajak untuk mulai memahami dan mengerti. Kita juga tidak hanya diajak untuk menutup diri dan berhenti pada pengertian dari mencintai sesama. Tetapi kita diajak untuk melakukan dan mempraktekan apa yang telah kita mengerti sebagai upaya memberi inspirasi kepada semua orang. Memang tidak mudah menjadi seorang penggerak akan tetapi kita juga tidak bisa diam melihat apa yang telah terjadi di dunia ini. Benar kita krisis mencintai

Banyak contoh yang bisa kita ambil sebagai contoh untuk tolok ukur dalam mencintai misalnya kisa cinta dari roman Romeo dan Juliet, epos Ramayana dan masih banyak lagi.

Plato sendiri mendefinisikan cinta sebagai sesuatu yang hakiki, tulus dan tak bersyarat. Definisi cinta ini kemudian dikenal sebagai cinta platonis. Dalam cinta platonis ini kita diajak untuk saling mengerti, jujur serta menghargai Batasan-batasan yang ada. Tetapi yang paling penting di dalam cinta platonis kita diajarkan untuk memberi dan menerima. Dengan demikian kamu akan menjadi pribadi yang sadar dan tidak menuntut.

Memang kita tidak dapat mengikuti jalan sesulit ini akan tetapi selalu ada di saat teman atau sahabat kita dalam kesulitan juga merupakan cara kita mencintainya dengan setulus hati. Dari praktek-praktek kecil ini kita bisa mulai mempelajari dan menerapkan cinta platonis ini di kehidupan sehari-hari sehingga kita dapat menerima semua dengan apa adanya. Dengan demikian ia akan merasa diterima dan dicintai sebagai seorang manusia.

Hal yang paling berharga bagi manusia adalah ketika kita sebagai sesamanya juga menganggapnya sebagai manusia. Terlepas bagaimana ia hidup, ia berperilaku dan lain sebagainya, ia tidak akan pernah meninggalkan hakikatnya sebagai manusia, karena itu ia berhak untuk mendapatkan cinta dari kita sebagai sesamanya dan mencintainya merupakan kewajiban kita sebagai sesama manusia dalam representasi dari makhluk akal budi yang bisa mencintai. Karena dengan memberi kita menerima dan dengan menerima kita mencintai.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya