Menakar Kualitas Wajah Pendidikan Di Tengah Gelombang Pandemi NCoV-19

Pembelajar Kajian Ilmu Politik Pemerintahan
Menakar Kualitas Wajah Pendidikan Di Tengah Gelombang Pandemi NCoV-19 07/06/2020 548 view Pendidikan pixabay.com

Menjalarnya jenis virus baru yang berasal dari Kota Wuhan Provinsi Hubei, China kini telah menyusup pada semua lini-lini kehidupan. Tidak terkecuali pada lini pendidikan, di mana virus baru tersebut telah membuat proses pendidikan menjadi kacau dan tidak sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Hal tersebut tentu saja menjadi hambatan di dalam menciptakan kualitas sumber daya manusia yang unggul.

Pada tahun 2045 Indonesia akan berusia 100 tahun di mana pada usia emas tersebut ditargetkan jika kualitas sumber daya manusia berkualitas dapat tercapai. Melalui kualitas sumber daya manusia yang unggul maka akan membawa negara ini menjadi lebih maju di kancah internasional. Oleh karena itu kualitas pendidikan menjadi acuan demi menciptakan mutu sumber daya manusia unggul di masa mendatang.

Harus disadari jika kualitas sumber daya manusia yang unggul akan berbanding lurus dengan penyelenggaraan kualitas pendidikan. Kualitas pendidikan yang buruk maka sumber daya manusia yang ada akan menjadi tidak berkualitas. Sebaliknya, jika pendidikan yang diselenggarakan berkualitas maka dipastikan akan mampu menciptakan sumber daya manusia yang unggul.

Kualitas pendidikan saat ini masih dalam pusaran pandemi NCoV-19. Virus tersebut dapat menginfeksi jika terjadi kontak antar manusia dengan manusia ataupun droplet yang disebarkan sehingga mengakibatkan proses pendidikan saat ini sementara masih diliburkan. Gerakan belajar dari rumah (SfH) menjadi andalan bagi pemerintah agar di saat pandemi NCoV-19 merebak tidak menghambat pemerintah dalam mewujudkan tujuannya yakni menciptakan sumber daya manusia unggul melalui kualitas pendidikan yang lebih baik.

Kebijakan belajar dari rumah (SfH) sebenarnya menjadi kebijakan dadakan yang diputuskan oleh pemerintah agar penularan pandemi NCoV-19 bisa diputus mata rantai penyebaranya. Namun di sisi lain, pendidikan yang tengah berjalan harus berubah drastis mengingat proses belajar mengajar tidak diperbolehkan datang ke sekolah seperti biasanya. Kalimat “sangat berbahaya”menjadi alasan sehingga proses belajar mengajar dialihkan menggunakan sistem dalam jaringan (daring).

Proses pembelajaran tersebut memaksa tenaga pendidik ataupun siswa untuk beradaptasi terhadap situasi ini. Hal tersebut dikarenakan mayoritas institusi pendidikan kita belum terbiasa menggunakan pembelajaran dalam jaringan (daring). Berbeda dengan Universitas Terbuka atau lembaga pendidikan lainnya yang sudah terbiasa menggunakan pembelajaran jarak jauh. Oleh karena itu kebijakan belajar dari rumah (SfH) telah membawa konsekuensi serius terhadap proses pembelajaran di tengah pandemi NCoV-19 saat ini.

Kebijakan study from home (SfH) membawa tantangan serius terhadap terselengaranya proses kegiatan belajar mengajar. Kegiatan pembelajaran yang biasanya bertatap muka antara guru dan siswa secara mendadak dialihkan dengan sistem pembelajaran jarak jauh sehingga membuat sebagian tenaga pendidik ataupun siswa mengalami kelabakan. Semua siswa belajar dari rumah dan begitupun dengan guru yang mengajar juga dari rumah. Setidaknya ada beberapa tantangan yang dihadapi atas kebijakan study from home (SfH) bagi guru ataupun siswa saat ini.

Pertama, kebijakan study from home (SfH) menuntut guru dan siswa untuk bisa menggunakan teknologi informasi yakni gawai ataupun laptop. Pembelajaran melalui platform webinar, google classromm, ataupun semacamnya dalam kebijakan study from home (SfH) membuat sebagian guru dan siswa mengalami kesulitan. Tidak semua guru dan siswa memiliki piranti tersebut sehingga itu menghambat proses kegiatan belajar mengajar secara daring. Hal tersebut juga diperparah kondisi sebagian guru dan siswa dengan penguasaan teknologi yang masih rendah.

Kedua yakni tidak semua guru dan siswa memiliki akses internet yang memadai. Bagi kaum millenials yang terbiasa menggunakan akses internet tentunya tidak bermasalah. Di sisi lain hal tersebut akan menjadi masalah jika banyak siswa dan guru yang berasal dari pelosok dan pinggiran yang kadang memiliki akses internet yang terbatas.

Ketiga yakni berkaitan dengan masalah biaya. Bagi status ekonomi kelas menengah ke atas tentu aspek biaya bukan menjadi persoalan. Namun, bagi guru dan siswa yang berada dalam status ekonomi menengah ke bawah maka akan terasa. Banyak sebagian guru ataupun siswa yang hidup dengan keterbatasan sehingga dengan membeli paketan atau kuota internet akan membebani mereka.

Kebijakan study from home (SfH) menjadi satu-satunya jalan agar proses pendidikan di tengah pandemi NCoV-19 dapat berjalan. Sudah menjadi ciri kebijakan study from home (SfH) jika penugasan yang diberikan oleh guru terhadap siswanya menumpuk banyak. Hal tersebut secara psikologis membuat siswa tidak begitu nyaman dengan kebijakan study from home (SfH).

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sebanyak 76.7% siswa tidak senang dengan pembelajaran daring. Mereka beralasan jika tugas yang diberikan guru terlalu berat jika dibandingkan pembelajaran non daring (Alinea.id 27/04/2020). Hal senada juga dialami dalam pembelajaran antara mahasiswa dan dosen. Berdasarkan survei terhadap mahasiswa, 88,5 % mahasiswa merasa bosan dengan kebijakan study from home (SfH) (kumparan.com 18/04/2020). Mahasiswa beralasan jika melalui kebijakan study from home (SfH) maka mereka tidak bisa berinteraksi dengan teman dan tidak aktif berorganisasi secara langsung. Data tersebut mengonfirmasi jika kebijakan study from home (SfH) tidak begitu efektif bagi keberlangsungan proses kegiatan belajar mengajar.

Gerakan belajar dari rumah telah membuat siswa menjadi tidak nyaman. Hal tersebut akan berdampak kepada kualitas pendidikan di masa mendatang. Dalam kondisi pandemi NCoV-19 ini situasi pendidikan dipertaruhkan. Di samping pemerintah memutus mata rantai penularan pandemi NCoV-19 di saat yang sama pemerintah memiliki beban berat yakni menciptakan kualitas sumber daya manusia unggul demi menyongsong Indonesia emas tahun 2045. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh pemerintah untuk tetap melangkah mewujudkan pendidikan berkualitas di tengah pandemi ini. Oleh karena itu evaluasi terhadap proses pendidikan belajar mengajar dalam pusaran pandemi ini menjadi penting agar mewabahnya virus ini tidak menghambat proses pendidikan yang ada.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya