Menafsir Kebaikan Semu Israel

Asesor SDM Aparatur Ditjen Pendidikan Islam Kemenag
Menafsir Kebaikan Semu Israel 08/02/2022 219 view Politik detiknews.com

Dalam konteks politik, apa yang terlihat di permukaan sebagai sebuah kebaikan tak selamanya berjalan seiring dengan niat yang mendasarinya. Sangat mungkin kebaikan yang ditunjukkan hanya untuk menutupi niat negatif sebagai motif sesungguhnya. Operasi Tetangga Baik (Good Neighbor Operation) yang dijalankan Israel di Suriah adalah salah satu contohnya.

Mudah menemukan politik dan kebijakan yang penuh intrik ala Israel pada Palestina, misalnya. Suguhan informasi mengenai hal demikian tidak sulit ditemukan. Namun, Operation Good Neighbor menjadi paduan sempurna nalar hipokrisi sekaligus pembiaran secara berjamaah.

Dalam konteks demikian, pemboman Israel atas pelabuhan Latakia di Suriah pada Desember tahun lalu terasa sebuah hal yang biasa saja. Tidak terdengar riuh kecaman dan protes keras sesama negara Timur Tengah, apalagi langkah Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk mengambil tindakan yang diperlukan sesuai derajat kesewenang-wenangan Israel. Ironis, karena pemboman ini jelas melanggar kehormatan Suriah sebagai sebuah negara berdaulat, meski bukan tindakan baru bagi Israel. Sayangnya, dalam langgam politik Israel, tindakan seperti ini berpotensi menjadi perulangan di masa depan.

Di sudut lain Suriah, Israel terus membangun Dataran Tinggi Golan. Wilayah strategis yang menghubungkan Suriah, Israel, Libanon, dan Jordania ini direbut Israel pada Perang Yom Kippur pada 1973 dan disahkan secara sepihak oleh Knesset sebagai wilayah Israel pada 1981. Pemboman Latakia dan aneksasi Golan secara umum menandai politik berdarah Israel pada Suriah, satu-satunya negara Arab tersisa yang berkemungkinan memberi perlawanan pada Israel saat ini.

Namun, seperti biasa, media AS dan Israel bergandengan tangan saling memberi dukungan dalam membentuk opini publik terkait pemberitaan pemboman Latakia dan langkah politik apa pun dari Israel. Tidak lama setelah pemboman, The Washington Post menurunkan laporan yang menyebut aksi Israel itu untuk mencegah Suriah lebih jauh mengembangkan senjata gas sarin. Dalam tuduhan Israel, gas-gas beracun tersebut akan digunakan untuk membunuh lawan dan warga yang antirezim Bashar Al Assad.

Peran Media

Israel menilai bahwa asumsi The Washington Post tersebut sepenuhnya benar. Terkait hal itu, Jerusalem Post bahkan membuat analogi pemboman Latakia dengan penyelamatan kamp Auschwitz yang digunakan untuk membantai Yahudi. Bagi mereka, korban yang berjatuhan karena pemboman Israel tidak ada apa-apanya dibanding kematian 12 ribu warga Yahudi tiap hari di kamp tersebut. Tentu saja analogi ini sangat tendensius, imajinatif, sekaligus janggal.

Jika media sekelas The Washington Post saja terkesan "mengamini" pemboman tersebut, apa yang bisa diharap baik dari media besar dunia lainnya? Aneksasi terhadap wilayah negara lain dapat dijalankan dengan cara halus atau kasar, atau malah keduanya sekaligus. Israel dengan nyata menunjukkannya di wilayah Dataran Tinggi Golan dengan variasi serangan militer ke berbagai wilayah Suriah lainnya.

Hamid Dabashi, Guru Besar Studi Iran di Columbia University New York, menyejajarkan aneksasi Israel atas Dataran Tinggi Golan dengan tindakan yang dilakukan ISIS dalam mendirikan kekhalifahan di wilayah lain Suriah (Raqqa dan sekitarnya). Sama-sama mengklaim wilayah kedaulatan Suriah, baik Israel maupun ISIS sesungguhnya memenuhi kriteria kritik Dabashi.

Bedanya, masih menurut Dabashi, Israel didukung oleh sekumpulan jurnalis berdasi rapi di media ternama The New York Times dan media AS sejenis lainnya untuk membenarkan apapun tindakan militer dan aneksatif Israel, sementara ISIS tidak. Satir Dabashi jelas membuat merah telinga Israel dan para pendukungnya, namun kenyataan yang terjadi menunjukkan relevansinya.

Setali tiga uang dengan Golan, aneksasi Israel begitu masif terjadi di bumi Palestina. Dari semenjak negara Israel didirikan hingga hari ini, menurut Adalah, lembaga yang menaungi minoritas Arab di Israel, tidak ada kota baru yang dibangun otoritas Palestina di wilayah dalam perbatasan dengan Israel.

Kontras, 600 lebih kota baru telah dibangun Israel. Makin hari, wilayah Palestina makin terkikis dan warganya terus diisolasi akses kewilayahan dan hajat hidupnya. Intimidasi dan aneksasi untuk kepentingan wilayah juga dilakukan terhadap penduduk Arab Badui di Gurun Negev yang berbatasan dengan Mesir dan Jordania.

Dengan begitu, tindakan aneksasi tersebut telah menjadi cetak biru langkah politik Israel. Menurut Suriah Observatory for Human Right (SOHR), pada tahun 2021, Israel telah melancarkan setidaknya 28 serangan militer pada 70 target dengan menewaskan 120 warga Suriah. Dalam hitungan Reuters, penyerangan Latakia menandai serangan ketujuh Israel ke Suriah hanya dalam Desember saja.

Hipokrisi

Kedaulatan sebuah negara jelas sebuah hal yang paling mendasar dalam konteks berbangsa dan bernegara. Pada titik ini, bahkan semisal Assad benar mengembangkan gas beracun, sesuatu yang jelas dia katakan tidak pada pelbagai kesempatan, hal tersebut tidak bisa menjadi landasan yang bisa digunakan Israel untuk melanggar kedaulatan Suriah.

Hipokrisi adalah langkah paling lunak yang digunakan Israel dalam menjalankan politiknya. Selebihnya, dengan enteng mereka memeragakan kekerasan dan tindakan militer. Dalam upaya untuk menunjukkan wajah yang “manusiawi”, mereka di antaranya meluncurkan Operasi Tetangga Baik (Good Neighbor Operation ) mulai 2016.

Operasi ini secara demonstratif menunjukkan tentara Israel (Israel Defense Force/IDF) dan paramedisnya membantu dan merawat warga Suriah dari berbagai usia yang tengah dilanda peperangan tiada akhir. Sekilas, tindakan tersebut terlihat sangat positif. Namun, media Foreign Policy mencatat bahwa di balik tindakan tersebut, Israel secara khusus juga membantu dan mengobati para petempur anti Assad. Operasi Tetangga Baik tidak sepenuhnya bermaksud mulia, jika bukan sejatinya malah bermotif buruk.

Harus diakui, saat ini mereka adalah yang terdepan dalam kemajuan teknologi dan militer di kawasan Timur Tengah. Berbagai teknologi yang dikembangkan di pusat-pusat teknologi mereka telah menghasilkan inovasi yang dibutuhkan dalam menghadapi risiko kelangkaan air, perubahan iklim, dan di kawasan Timur Tengah.

Berbagai kemajuan teknologi dan militer serta citra humanistik Israel mampu menjadi tekanan dan daya tawar yang mempengaruhi peta politik Timur Tengah dewasa ini. Namun demikian, di balik posisi kuat di Timur Tengah, politik hipokrisi adalah satu kecenderuangan yang patut terus diwaspadai sebagai langgam politik Israel. Dengan membantu dan menyerang sekaligus ke Suriah, Israel dengan baik memerankan diri sebagai negara bermuka dua untuk kepentingan zionistiknya. Menandai politik manipulatif Israel menjadi penting sebagai pengingat langkah bersama.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya