Meminimalkan Problematika Pembelajaran Jarak Jauh

Guru SDN Sidorejo, Kab. Sidoarjo, Jatim
Meminimalkan Problematika Pembelajaran Jarak Jauh 22/07/2021 181 view Pendidikan thestatesman.com

Melonjaknya kasus Covid-19 mengharuskan pembelajaran tatap muka (PTM) yang sedianya akan diselenggarakan awal tahun ajaran baru 2021/2022 ditunda. Anak didik terpaksa harus belajar dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ) lagi. Tak ayal ini membuat kecewa sebagian besar siswa dan orangtua. Oleh karena itu, guru ditantang untuk mendesain PJJ yang bisa meminimalkan problematika sebab kekecewaan diawal bisa jadi sumber masalah yang akan datang.

Sebagaimana dirasakan selama setahun lebih, PJJ malah tidak menyelesaikan persoalan pendidikan di masa pandemi. Banyak problematika baru muncul dalam penyelenggaraan PJJ. PJJ justru membuat motivasi belajar siswa terus menurun. Ini disebabkan siswa bosan, tidak bertemu tatap muka dengan pendidik dan temannya. Terlebih banyaknya tugas yang diberikan guru, sementara tidak semua siswa punya perangkat untuk mengakses pelajaran online seperti ada yang terkendala sulit dan mahalnya koneksi internet.

Tidak hanya itu, konon PJJ menyebabkan timbulnya persoalan sosiologi belajar. Hubungan sosial guru, siswa, dan orangtua murid terganggu. Dampaknya, masing-masing pihak terjebak dalam suasana saling menyalahkan dan merasa benar sendiri.

Guru berharap dengan PJJ siswa belajar di rumah didampingi oleh orang tua. Siswa merasa tidak nyaman belajar dengan pendampingan orang tua karena “berbeda cara” dengan gurunya. Pada sisi yang lain, orang tua siswa merasa memiliki banyak keterbatasan untuk pendampingan belajar. Tidak sedikit orang tua yang patah arang dan uring-uringan, yang kemudian malah berbuntut meningkatnya kasus kekerasan anak dalam rumah tangga baik fisik maupun sosial.

Karena itu, PJJ kali ini harus diupayakan seminimal mungkin agar tidak menimbulkan problematika seperti yang sudah terjadi. Guru perlu mengajak orang tua untuk bekerjasama terlibat dalam mensukseskan pendidikan anak dengan PJJ. Kerja sama yang dimaksud adalah guru dan orang tua disiplin menjalankan perannya masing-masing dalam rangka mensukseskan pendidikan anak.

Ada tiga bentuk kerja sama yang dapat diterapkan antara guru dan orang tua. Pertama, dalam proses belajar. Dalam PJJ, proses belajar dipindahkan ke rumah. Namun, bukan berarti peran guru digantikan orang tua. Agar proses pembelajaran tersampaikan dengan baik dan lancar, guru sebaiknya mendesain pembelajaran yang menarik, kreatif, dan interaktif. Sehingga siswa mampu memahami materi yang disampaikan dengan baik. Di samping itu juga, guru harus tetap mengontrol dan memastikan bahwa siswa mengerjakan tugas yang diberikan dengan penuh tanggung jawab.

Sementara itu peran orang tua adalah memastikan sarana dan prasarana seperti jaringan internet dan kuota tersedia dengan baik. Juga orang tua mengontrol kedisiplinan anak, agar tugas dikerjakan dengan baik. Tanpa harus ikut mengambil peran anak dalam mengerjakan tugas yang seharusnya dikerjakan anak.

Kedua, dalam evaluasi hasil belajar. Dalam PJJ, pentingnya peran guru dalam mendesain model evaluasi yang mampu menggambarkan hasil belajar yang valid. Seperti dengan memberikan soal esai sehingga siswa terkondisi untuk mengerjakan secara mandiri.

Sedangkan peran orang tua, mengondisikan anak dengan baik sehingga dapat mengikuti evaluasi belajar sesuai jadwal yang sudah diberikan. Dalam hal ini, orang tua diharapkan mendukung guru untuk terlaksananya proses evaluasi belajar yang jujur.

Ketiga, menghadirkan kegembiraan dalam PJJ. Sebagian guru kita belum siap mengajar melalui PJJ karena literasi digital mereka rendah. Dikutip dari American Library Association, literasi digital artinya kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk mencari, mengevaluasi, membuat dan mengkomunikasikan konten/informasi digital. Konten digital adalah segala sesuatu dalam format digital, yakni teks, gambar, suara, animasi, simulasi, video, atau gabungannya (multimedia) yang berisi pesan untuk mempermudah proses belajar mengajar.

Kemampuan literasi digital guru yang rendah yang kemudian membuatnya kesulitan dalam membahasakan materi yang biasa dilisankan ke dalam format digital yang mudah diterima di pikiran murid. Jika guru tak lincah berteknologi, jatuhnya hanya menggelontorkan tugas demi tugas kepada murid. Alhasil, anak didik cenderung tak bisa gembira dalam PJJ sebab terbebani dengan segudang tugas dari guru.

Makanya, guru hendaknya rajin mengikuti pelatihan. Harapannya guru dapat meningkatkan literasi digitalnya secara bertahap mulai dari kemampuan mencari sumber belajar digital, mengevaluasi hingga membuat konten. Sehingga akan berdampak pada peningkatan kualitas mengajarnya.

Sedangkan dari pihak orang tua, menghidupkan dan menggembirakan perasaan anak-anak dengan membesarkan hati anak-anaknya menghadapi situasi ini. Untuk menemani dan membesarkan hati anak-anak, hanya butuh orang tua yang bijak, tidak mengandalkan kecukupan ekonomis dan berpendidikan tinggi. Orang tua yang suportif akan aktivitas pembelajaran anaknya (apapun situasinya) sekurangnya telah mengambil sebagian beban anaknya.

Kegembiraan anak-anak kita dalam menjalani proses sekolah di zaman kini tergantung karakter bentukan dalam keluarga. Ki Hadjar menyebut ibu dan bapak di keluarga menjadi contoh laku sosial bagi anak-anak. Satu hal yang luput dari pembiasaan di keluarga adalah berpikir positif. Melihat setiap pengalaman dari sudut pandang yang positif itu pun hasil imitasi laku sosial orangtua.

Kegembiraan pendidikan yang dialami anak-anak tentu gabungan kinerja guru yang efektif dan keluarga yang selalu membekali berpikir positif. Berpikir positif adalah pilihan cara memaknai pengalaman. Berpikir positif membuat kegembiraan pun tetap hadir dalam situasi yang penuh impitan.

Dengan demikian, kerja sama antara guru dan orang tua diharapkan menjadi kunci suksesnya PJJ. Yakni, anak tetap mendapatkan haknya untuk belajar dan aktivitas pembelajaran pun tetap efektif dan menyenangkan. Semoga.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya