Memilih Toleransi

Mahasiswa
Memilih Toleransi 30/11/2021 860 view Agama beritasatu.com

Mengapa kata "toleransi" belakangan ini sering kali terdengar di lini masa kehidupan kita dalam bernegara dan beragama? Kata toleransi tidak akan muncul dengan sendirinya. Tentu ada sebab yang melatar belakangi yakni antonim dari kata toleransi itu sendiri, intoleransi.

Kita tidak perlu terlalu jauh melangkah dalam ranah etimologi dan terminologi arti kata toleransi. Tapi, kita satukan persepsi saja, bahwa secara general atau umum, sikap menghargai dan menghormati perbuatan (verbal maupun non verbal) orang lain adalah toleransi.

Sikap menghargai dan menghormati orang lain dimaknai sebagai membiarkan mereka melakukan sesuatu dengan caranya sendiri selama mereka tidak merugikan siapapun (dirinya maupun orang lain) serta tanpa ada unsur memaksa dalam mengajak dan mengharuskan untuk melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan.

Setelah kita punya pemahaman yang sama terhadap kata toleransi, artinya kita bisa satu makna untuk kata intoleransi, yaitu suatu perbuatan yang tidak mencerminkan sikap toleransi. Jadi, selama perbuatan itu tidak berada dalam koridor toleransi, berarti selama itu, kita melakukan intoleransi (perbuatan kontra toleransi).

Namun, satu hal yang perlu dipahami, cakupan toleransi adalah hubungan sesama manusia, bukan yang lain. Jadi, ketika ada seseorang ingin membawa makna toleransi ke ranah spiritual maupun hal supranatural, berarti orang itu sejak awal sudah rancu dalam berargumen terkait toleransi. Jadi, sedini mungkin kita menghindari perdebatan yang tak berguna (tidak satu makna dalam pokok permasalahan).

Nah, dalam memahami ranah bernegara dewasa ini, berarti kita akan memahami bahwa kita akan ada dalam satu payung yang bernama negara. Negara identik dengan satu tujuan, satu wilayah, dan satu rasa. Jadi, seseorang yang sejak awal sudah tidak sejalan dengan konsep bernegara, berarti indikator ke arah intoleransi sudah ada.

Begitupun, terkait ranah beragama. Setelah kita paham konsep bernegara, di mana negara yang kita pijak, "satu rasa" dalam negara sudah kita maknai, berarti kita akan paham dan mengerti dalam konsensus "beragama" (bagi yang beragama).

Agama adalah keyakinan. Beragama adalah menjalin dan menjalani keyakinan itu. Bernegara adalah berpijak di tempat kita beragama. Ini akan seirama, selama kita mau bersama.

Kemudian setelah mengenali objek pembahasan tadi, kita akan masuk ke inti permasalahan, yakni mengapa ada toleransi dan bagaimana kita bertoleransi. Ini yang kemudian kita akan bahas dengan menyeruput kopi terlebih dahulu.

Mengapa Toleransi?

Kejadian-kejadian yang terjadi di berbagai belahan dunia, baik di negeri sendiri (Indonesia) maupun negeri orang lain, terkait isu terorisme sering kali menjadi isu perhatian dunia. Bukan tanpa sebab, karena terorisme merupakan perbuatan yang dampaknya sangat besar, baik dari segi materiel, nonmateriel dan tidak jarang merenggut nyawa orang lain.

Ketika bicara terorisme, berarti itu sudah dalam intoleransi tahap puncak, yang mana sistem dalam terorisme sudah terorganisir dengan baik dan rapi. Walaupun ada pemulihan setelah kejadian terjadi, sebenarnya itu cuman mengatasi bagian hilirnya (dampak), bukan pada hulunya (sebab). Makanya, yang menjadi solusi bersama adalah mengapa itu bisa terjadi? dan langkah apa agar itu tidak terjadi?.

Terorisme merupakan perbuatan yang taruhannya adalah nyawa manusia. Sedangkan, ketika kembali pada pembahasan awal kita, ini akan mengarah pada perbuatan intoleransi (merugikan orang lain). Maka yang perlu dipahami di sini, untuk mencegah terorisme, maka perbuatan intoleransi sekecil apapun harus dicegah dari awal. Agar tidak berkembang ke tahap yang lebih besar dan serius.

Sederhananya begini, siklus dalam perbuatan merugikan orang lain yakni, Intoleransi-Fanatisme-Radikalisme-Terorisme. Dalam artian, ada tahap-tahap menuju ke sana (menjadi teroris). Maka, untuk mencegah itu, sedini mungkin dihindari permulaan siklus tersebut, yakni intoleransi.

Bagaimana Toleransi?

Ketika kita paham makna toleransi, maka kita tak akan melakukan intoleransi. Sederhananya begitu. Kita diberi akal untuk memilih sebuah pilihan. Dalam pilihan itu, kita sudah mengetahui sisi baik dan buruk (ketika dilihat dari dampaknya). Maka, ketika kita sadar, otak bekerja, dan akal berfikir, maka secara otomatis, apa yang terjadi pada diri kita adalah karena perbuatan kita juga, bukan orang lain (dalam konteks "memilih" tadi).

Maka, seyogianya ketika kita sudah tau mana baik atau buruk, menghargai atau menghina, peduli atau tak acuh, kanan atau kiri, bersatu atau bercerai, individu atau kelompok, dan segala hal yang berkaitan dengan kewarasan memilih, maka intoleransi tidak akan pernah terjadi.

Dan, contoh-contoh kasus, kejadian, dan peristiwa yang berkenaan dengan sikap intoleransi itulah yang kemudian menjadi pembelajaran, bukan menjadi bahan belajar untuk mencoba melakukan itu.

Karena apapun itu dan selama apapun, kutipan "Apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai" akan selalu menjadi prinsip hidup bagi semua orang. Maka sedari awal, perbanyaklah perbuatan baik dan seminimal mungkin mencegah perbuatan buruk (merugikan orang lain).

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya