Memerangi Sampah Plastik Menyelamatkan Bumi

Penulis Buku Cerita Anak 'Si Aropan'
Memerangi Sampah Plastik Menyelamatkan Bumi 13/07/2020 1580 view Opini Mingguan pixabay.com

Yuval Noah Harari dalam bukunya Sapiens: A Brief History of Humankind menyebut toleransi bukan ciri Homo Sapiens. Kita, Homo Sapiens, sering mengukuhkan diri sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna. Tapi, kesempurnaan yang kita klaim secara sepihak itu, nyatanya menjadikan kita sebagai makhluk paling buas, serakah, dan tidak mencerminkan atributif kemanusiaan kita sendiri. Kita, manusia, berada di urutan terdepan sebagai makhluk yang paling bersalah atas rusaknya bumi.

Betapa tidak, berbagai riset ilmiah menunjukkan manusia—dengan segenap ambisi dan nafsunya—menjadi predator paling berbahaya dibandingkan dengan predator lainnya. Los Angeles Times pada tahun 2015 memaparkan fakta-fakta mengerikan. Pertama, manusia membinasakan populasi ikan pada rasio 14,1 kali lebih besar daripada hewan predator laut. Kedua, manusia sesungguhnya 9,2 kali lebih kejam dibandingkan hewan karnivora darat. Ketiga, naluri membunuh dalam diri manusia 3,7 kali lebih tinggi dibandingkan binatang-binatang buas saat memangsa hewan-hewan herbivora.

Tapi, perlu dicermati bahwa apa yang dilakukan hewan-hewan pemangsa itu merupakan kodrat alam. Mereka melakukannya karena naluri. Dan itu sesuai dengan mekanisme food chain (rantai makanan) yang pada prinsipnya dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Berbeda dengan manusia. Kita memangsa karena rasa tamak. Artinya, alam telah memberikan begitu banyak manfaat untuk mencukupi kebutuhan kita. Namun, kita menginginkan lebih. Celakanya, keinginan itu justru merusak tatanan alam. Konon, kerakusan manusia ditengarai telah menghilangkan sebanyak 20 persen spesies hewan buas setiap tahunnya.

Yang semakin membuat aneh, ketika karena perbuatan kita terjadi kerusakan lingkungan, kita menuduh alam semakin tidak bersahabat. Padahal, semua itu karena ulah kita. Maka benarlah kata Albert Einstein soal kekonyolan manusia. Dia menyebut demikian, Two things are infinite: the universe and human stupidity; and I’m not sure about the universe.

Tak hanya soal mangsa-memangsa, kita juga produsen sampah terbesar sejagad raya. Saat ini, isu soal lingkungan yang menjadi perhatian publik adalah perang melawan sampah plastik. Banyaknya sampah plastik sudah menjadi kekhawatiran dunia (global concern). Lihat saja bagaimana paus sperma (Physeter macrocephalus) yang mati membusuk setelah terdampar di Pulau Kapota, Wakatobi November 2018 lalu. Saat dibedah, isi perut paus itu dipenuhi oleh sampah plastik yang beratnya mencapai 5,9 kg. Paus sperma itu hanyalah satu dari sekian banyak satwa laut yang harus meregang nyawa secara sia-sia karena ulah manusia.

Bahaya Sampah Plastik

Harus diakui bahwa saat ini kita sangat sulit melepaskan diri dari plastik. Ketika berbelanja ke minimarket, supermarket dan pasar-pasar tradisional, misalnya, kita acap menggunakan kantong plastik. Saat minum di cafe dan restoran, kita sering memakai sedotan plastik. Wadah tempat minuman kita juga terbuat dari plastik. Ikat-mengikat kardus dan karung sering menggunakan tali plastik. Memang plastik tidak mudah rusak, relatif ringan, mudah dibawa dan harganya cenderung terjangkau.

Apalagi, biasanya kantong plastik atau wadah makanan dan minuman yang terbuat dari plastik digunakan sekali atau dua kali saja, kemudian dibuang dan diganti dengan yang baru. Di sinilah bahaya itu terletak. Plastik tidak bisa terurai oleh mikroorganisme dalam waktu singkat. Plastik berbeda dari sampah-sampah organik yang bisa mengalami proses dekomposisi (pelapukann) dan terurai menjadi bahan yang lebih kecil. Meski sudah tertimbun dalam tanah, butuh waktu ratusan bahkan ribuan tahun bagi sampah plastik untuk bisa terurai. Karena sulitnya diuraikan itulah maka sampah plastik punya efek destruktif pada peradaban manusia.

Zat kimia dari sampah plastik dapat mencemari tanah. Dampaknya, tingkat kesuburan tanah berkurang dan racun dalam zat-zat kimia tadi bisa membunuh organisme pengurai di dalam tanah. Selain mengancam makhluk hidup di darat, sampah plastik juga menjadi momok yang mengerikan bagi ekosistem di laut.

Periksalah data Helmholtz Centre for Environmental Research. Setiap tahun, terdapat lebih dari 8 juta ton sampah plastik yang terbuang ke laut. Senada dengan itu, Science Advances menyebut bahwa selama 60 tahun terakhir, manusia menghasilkan sampah plastik seberat 6,3 milyar ton. Jika tidak disikapi secara serius, pada tahun 2050 jumlah sampah plastik diyakini akan melebihi jumlah ikan di laut. Pada akhirnya, manusia juga akan terkena imbasnya ketika mengkonsumsi lauk yang berasal dari satwa laut sebab plastik ternyata bisa menyebabkan kanker. Bayangkan ketika ikan laut yang kita makan sudah terkontaminasi oleh zat-zat kimia berbahaya karena plastik, sangat mengerikan bukan?

Memerangi Sampah Plastik

Mengurangi ketergantungan pada plastik harus dimulai dari masing-masing individu. Kesadaran akan bahaya plastik harus diikuti dengan tindakan-tindakan nyata. Dalam menjalani rutinitas saban hari, pelajar, mahasiswa, karyawan dan pekerja—untuk sebatas memberi contoh—sering membeli air mineral atau minuman kemasan botol plastik. Kebiasaan-kebiasaan buruk ini harus ditinggalkan. Membawa minuman sendiri dari rumah dengan menggunakan wadah ramah lingkungan akan jauh lebih bijak dan berpengaruh secara signifikan.

Malah, kalau mau berpikir kreatif, sambil mereduksi pemakaian produk-produk berbahan plastik, kita bisa membangkitkan perekonomian rakyat kecil. Misalnya adalah mengganti kantong-kantong plastik dengan kerajinan-kerajinan berbahan bambu. Dan sudah banyak kampanye memerangi sampah plastik yang dilakukan negara-negara lain yang bisa kita adopsi.

Perancis, misalnya, mengambil kebijakan ekonomi untuk menekan penggunaan plastik. Harga produk-produk yang dijual dalam kemasan plastik, terutama yang tidak bisa didaur ulang, dinaikkan. Sebaliknya, harga produk dalam kemasan plastik yang dapat didaur ulang dibuat lebih murah.

India melarang keras penggunaan plastik sekali pakai. Ghana dan Belanda memberikan contoh konkrit bagaimana mendatangkan manfaat dari sampah plastik. Di Kota Rotterdam, Belanda, ada sebuah taman mengapung yang terbuat dari sampah plastik. Taman mengapung itu berhasil menarik minat wisatawan dan digunakan sebagai tempat bermukimnya unggas dan ikan. Di Ghana, jalan-jalan mulai dibangun dengan menggunakan sampah-sampah berbahan plastik yang dicampur dengan pasir. Bahkan konon jalan-jalan itu lebih kuat dan tahan lama dibandingkan dengan jalan berbahan aspal biasa.

Pada titik ini kita bisa mengambil satu kesimpulan: meski pada satu sisi manusia memiliki sifat serakah, di sisi lain Tuhan juga mengaruniakan kecerdasan yang sangat tinggi. Dan dengan kecerdasan itu, permasalahan sampah plastik seharusnya bisa kita atasi.

Sebagai penutup, jika saat ini kita sudah mulai merasakan beragam penderitaan akibat dampak buruk sampah plastik, anak-anak kita di masa mendatang akan menghadapi kesulitan yang akan jauh lebih berat. Oleh karena itu, setiap orang tanpa terkecuali harus terlibat dan mengambil tindakan nyata meskipun sederhana. Karena, seperti kata pepatah bahasa Inggris, a journey of a thousand miles begin with a single step. Mari kita selamatkan bumi.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya