Membangun Proyek Ilmu Manajemen yang Emansipatif Transformatif

Pekerja Barang Dagangan dan Menulis di Komunal Nokturnal
Membangun Proyek Ilmu Manajemen yang Emansipatif Transformatif 06/06/2020 1327 view Lainnya Pixabay.com

Saya menyelesaikan studi di salah satu perguruan tinggi di Indonesia timur dengan program studi manajemen. Program studi itu saya ambil karena dalam pemaknaan saya, bahkan mungkin sebagian besar yang memilih prodi itu, prospek pekerjaannya terinsiunasikan akan menjadi seorang manajer perusahaan.

Pemahaman yang dangkal itulah yang membuat saya harus menyelesaikan studi lebih dari empat tahun. Untunglah dalam perjalanan menyelesaikan studi, saya mendapatkan sebuah pengetahuan atau mungkin lebih cocok disebut ilham. Tepatnya semester empat saya mulai mengenal teori dasar Marx.

Awalnya pengetahuan itu saya dapatkan dari kumpulan tulisan bung Martin Suryajaya di Indoprogress. Selepas itulah saya tidak lagi serius dalam mengikuti perkuliahan sehari-hari. Ini disebabkan karena pembahasan yang saya dapatkan sebagian besar mengenai perusahaan dan iklim bisnis. Imbasnya saya tidak lagi serius dalam mengikuti perkuliahan sehari-hari.

Tetapi pertanyaan seketika muncul di permukaan, apakah benar apa yang saya lakukan ini, yaitu tidak serius mengikuti proses belajar karena menganggap keilmuan itu digunakan atas landasan dan tujuan agar sistem kapitalisme tetap bertahan? Jawaban pertanyaan ini akan saya jawab di akhir tulisan.

Kegelisahan saya pun bertambah ketika buku-buku yang saya konsumsi dan menjadi referensi bacaan untuk menunjang kegiatan selama perkuliahan, hampir seluruhnya ialah perihal bagaimana cara agar bisnis dapat bertahan. Tanpa membahas problem struktural yaitu bagaimana kelas pekerja yang tertindas karena relasi eksploitatif dalam sistem kapitalisme.

Atas segala kegelisahan itulah tulisan ini saya buat untuk mencoba membuat pijakan dasar agar ilmu manajemen punya esensi emansipasi pada kelas yang tertindas, juga disaat bersamaan punya esensi transformatif menuju sistem sosalisme.

Mengenal Singkat Perihal Manajemen

Penggunaan kata 'manajemen' sendiri berasal dari bahasa Inggris, yaitu management yang artinya mengatur dan mengelola. Sementara kata management sendiri diambil dari bahasa Latin yaitu manus, yang artinya tangan.

Jika merujuk pada pemakanaan asal kata tersebut, mengatur dan mengelola, berarti manajemen sebagai bentuk praktis tindakan manusia, sudah ada ribuan tahun yang lalu. Didirikannya piramida Mesir, pembuatan tembok Cina, dan bahkan penurunan Nabi Adam adalah sebagai bentuk tindakan praktis manajemen. Karena dalam kepercayaan agama, penurunan Adam dimuka bumi pastilah ada kekuatan adi kodrati yang mengatur dan mengelola itu.

Terlepas dari praktis historisnya, dalam mendefinsikan manajemen, menurut Sulastri bahwa tidak ada definisi yang baku yang disetujui secara universal oleh para ahli tentang manajemen. Ada yang memaknainya sebagai suatu ilmu, seni, atau bahkan proses. Itulah mengapa manajemen bisa dimaknai tergantung sudut pandang pendefinisian yang digunakan.

Saya akan mengambil definisi manajemen yang sederhana dan singkat. Menurut Stoner, Freeman, dan Gilbert, manajemen adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengendalian, aktivitas anggota organisasi, dan kegiatan yang menggunakan semua sumberdaya organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditentukan.

Ilmu Manajemen yang Emansipatif dan Transformatif

Melihat realitas yang ada, banyak organisasi yang dibuat oleh gerakan kiri sulit untuk mempertahankan eksistensinya. Salah satu penyebabnya ialah karena pengaturan dan pengelolaan organisasi yang masih serampangan dalam proses menjalankannya. Dan akar permasalahannya ada pada tidak digunakannya suatu keilmuan komprehensif dalam menjaga eksistensi organisasi itu sendiri.

Saya teringat dengan Karl Marx, yang biasanya pendapatnya sering dikutip oleh gerakan kiri. Penting diketahui bahwa Marx sendiri mendekati dan membedah kapitalisme dengan ilmu pengetahuan atau sains. Bahkan ini menjadi salah satu alasan kenapa Marx tidak bisa menyelesaikan magnum opusnya Das Capital jilid II dan III , karena fokus mengkritik Das Capital Jilid I-nya, selain juga karena kondisi kesehatan Marx.

Atas dasar itulah kenapa kita tidak mencoba bahkan mendesak diperlukannya suatu keilmuan bagi gerakan kiri agar kesadaran, semangat dan ikhtiar tidak sia-sia. Dan disinilah potensialitas ilmu manajemen punya andil yang besar menjadi salah satu studi keilmuan yang bisa digunakan gerakan kiri dalam upaya mengakhiri sistem kapitalisme.

Definisi manajemen yang sudah disinggung sebelumnya sebagai ilmu tentang perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengendalian, aktivitas anggota dan kegiatan yang menggunakan semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditentukan. Atas dasar inilah kita bisa menjadikan ilmu manajemen sebagai suatu landasan dalam menjalankan keberlanjutan organisasi gerakan kiri. Dan sebagai tujuan utamanya yaitu mengakhiri sistem kapitalisme.

Pertanyaan diawal tulisan sayapun terjawab. Kita tidak serta merta harus menolak mempelajari suatu keilmuan hanya karena keilmuan itu ditujukan untuk kepentingan segelintir individu dalam hal ini melanggengkan sistem kapitalisme. Di sini perlu jadi catatan bahwa sistem kapitalisme bisa tetap bertahan salah satu adalah dengan menggunakan keilmuan komperehensif itu sendiri, salah satunya adalah ilmu manajemen.

Sudah saatnya menurut hemat saya, mulai saat ini kita mencoba mengarahkan basis keilmuan yang didapatkan dalam ruang pembelajaran, misalnya dalam tulisan ini ilmu manajemen untuk membuatnya punya esensi sebagai keilmuan dengan nafas emansipatif pada masyarakat tertindas sekaligus nafas transformatif untuk tujuan sistem yang berkeadilan (sosialisme)

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya