Membangun Budaya Literasi di Indonesia

mahasiswa
Membangun Budaya Literasi di Indonesia 12/02/2024 50 view Pendidikan bulelengkab.go.id

Temen-temen tahu tidak bahwa Indonesia termasuk dalam daftar negara dengan tingkat literasi yang rendah? Istilah Indonesia darurat literasi pasti sering temen-temen temukan dalam platform digital yang sering kalian akes atau mungkin kalian pernah dengar dalam sebuah percakapan, tetapi apa kalian mengerti betul arti dibalik istilah literasi itu sendiri?

Menurut UNESCO, kemampuan literasi adalah kecakapan kita untuk mengidentifikasi, memahami, menginterpretasikan, menciptakan, dan mengomunikasikan sesuatu dalam dunia yang berubah dengan begitu cepat, jenuh akan informasi, serba digital, dan berbahasa tulis.

Literasi umumnya di pahami sebagai kemampuan kognitif untuk membaca dan menulis, literasi juga mencakup kemampuan seseorang untuk memahami istilah huruf, angka, dan simbol yang dilihatnya sebagai informasi untuk dianalisis sebagai keterampilan berpikir kritis.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univerity (CCSU) pada tahun 2016, minat baca di Indonesia berada dalam urutan 60 dari 61 negara. Sangat memprihatinkan bahwa negara kita berada pada urutan kedua dari bawah yang mana berdasarkan data UNESCO, hanya 0,001%. Hal ini berarti dari 1000 orang Indonesia hanya ada 1 orang yang gemar membaca.

Survei lain pada tahun 2019 yang dilakukan oleh Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) menyatakan Indonesia menempati peringkat ke-62 dari 70 negara. Yang berarti masuk dalam 10 negara dengan tingkat literasi rendah.

Bukan hal yang dilebih-lebihkan, bawasannya Indonesia memang berada pada kondisi darurat dalam persoalan literasi. Kondisi ini merupakan imbas dari rendahnya alokasi anggaran, dimana sekolah-sekolah tidak memiliki perpustakan dengan buku dan fasilitas yang layak, bahkan menurut data dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tahun 2018 ada sebanyak 36,22% Sekolah Dasar di Indonesia yang masih belum memiliki perpustakaan. Pemerintah belum dapat menganggarkan dana untuk perpustakaan daerah secara signifikan.

Hal ini menunjukkan untuk persoalan literasi masih menjadi hal yang harus dibenahi di Indonesia. Mengapa demikian? Karena bagaimana anak-anak bisa terbiasa dengan rutinitas membaca jika kurangnya dukungan fasilitas perpustakaan yang menyediakan bacaan lengkap? Sedangkan anggaran untuk fasilitas anggota Dewan Perwakilan Rakyat terlihat sangat memadai bahkan terlihat berlebihan jika dibandingkan dengan kinerja mereka yang sering mengecewakan.

Jika kepedulian pemerintah maupun masyarakat kurang terhadap rendahnya literasi, ini menjadi cerminan bahwa pada umumnya masyarakat belum bisa menganggap hal tersebut sebagai suatu hal yang penting. Budaya membaca masih dinomorduakan, dianggap tidak lebih penting dari pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Padahal, budaya literasi itu sangat berperan dalam melahirkan dan membangun masyarakat cerdas, yang nantinya para menerus akan membentuk bangsa berkualitas.

Berdasarkan laporan data Kemedikbud Ristek, nilai budaya literasi di Indonesia pada tahun 2022 mengalami peningkatan 5,7%, yang mana berada di angka 57,4 poin. Meski mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya, budaya literasi di Indonesia masih dalam kategori rendah

"Buku adalah jendela dunia" sebuah majas metafora tersebut cukup mejelaskan bahwa dengan membaca buku kita bisa mendapatkan beragam pengetahuan yang belum kita ketahui. Hal ini harus terus ditanamkan khususnya bagi para orang tua sebagai pendidik utama bagi anak-anaknya yang merupakan generasi masa depan bangsa ini.

Dengan menumbuhkan minat masyarakat untuk gemar membaca merupakan sebuah upaya dalam hal peningkatan mutu sumber daya manusia yang cepat beradaptasi dengan perkembangan global. Masih banyak masyarakat yang menganggap aktivitas membaca sebuah hal yang membosankan dibanding scrolling sosial media seharian, mereka lebih banyak menggunakan waktu untuk kegiatan daring ketimbang menaruh fokusnya untuk membaca buku.

Menurut hasil tes PISA, anak-anak Indonesia cenderung memiliki 'self-efficacy' yang rendah dibandingkan dengan anak-anak dari 61 negara lain yang ikut serta dalam tes tesebut. Self-efficacy adalah keyakinan seseorang tentang kemampuannya untuk mencapai hasil tertentu atau melakukan tugas tertentu. Dengan kata lain, anak-anak Indonesia kurang memiliki kepercayaan diri bahwa mereka dapat berkontribusi terhadap perubahan. Padahal, menuju Indonesia emas 2045, di mana Indonesia akan mendapatkan bonus demografi, kita sangat membutuhkan sumber daya manusia yang dapat berkontribusi terhadap perubahan.

Dalam menyambut masa pergantian presiden 2024, kita tentu mengharapkan perubahan untuk kemajuan negeri ini, terlebih dalam pendidikan. Hal ini karena rendahnya minat baca masyarakat, sangat memengaruhi kualitas bangsa.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya