Media Sosial Telah Menjadi Candu?

Mahasiswa
Media Sosial Telah Menjadi Candu? 24/07/2020 466 view Lainnya pixabay.com

Kata candu seringkali identik dengan konotasi negatif. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mendengar tentang orang yang pecandu rokok, pecandu alkohol, pecandu narkoba, pecandu game, pecandu makanan tertentu, dan berbagai macam bentuk pecandu yang lain. Kata pecandu berarti bahwa orang yang kecanduan tidak dapat melepaskan diri dari apa yang ia candu.

Misalnya, pecandu rokok, itu artinya rokok tidak dilepaskan dari rutinitas hariannya. Demikian pun bentuk candu yang lain. Apa dampaknya ketika sesuatu telah menjadi candu? Apakah media sosial telah menjadi candu? Kita diskusikan lebih lanjut.

Media Sosial dan Dampaknya

Media sosial menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari generasi yang hidup hari ini. Media sosial adalah suatu hal yang melekat dengan kehidupan sehari-hari. Apalagi di masa pandemi ini.

Di tengah kesendirian dalam mematuhi protokol pemerintah untuk tetap “di rumah saja”, adalah suatu hal yang lumrah setiap orang mengisi waktu untuk bergumul dengan media sosial. Akibatnya, media sosial menjadi bagian dari langkah untuk menghilangkan rasa sepi. Bagaimana tidak, dengan bermedia sosial, orang bisa berkomunikasi dengan siapa saja sebagaimana diinginkannya. Pertanyaannya, benarkah dengan bermedia sosial, rasa sepi bisa sirna?

Para pengguna media sosial pada umumnya paham, bahwasannya media sosial memiliki dua dampak yang berbeda. Dampak itu, tak lain dan tak bukan adalah dampak positif dan dampak negatif. Tentang apakah memberi dampak positif atau dampak negatif, penulis berpikir bahwa kita sepakat, hal itu bergantung bagaimana kita menggunakannya.

Akan ada dampak positif sejauh kita menggunakannya untuk hal-hal positif dan akan ada dampak negatif sejauh kita menggunakannya untuk hal-hal negatif. Akan tetapi, penjelasannya tidak sesederhana itu. Ada pembahasan yang begitu panjang, mengapa terjadi demikian. Jika kita bertanya lebih lanjut, mengapa pengguna menggunakan media sosial untuk hal-hal negatif dan mengapa tidak memanfaatkannya untuk hal-hal yang positif? Ini perbincangan yang menarik.

Setiap pengguna media sosial berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda, latar belakang lingkungan yang berbeda, latar belakang pergaulan yang berbeda, dan tentunya latar belakang pendidikan yang berbeda. Latar belakang tentunya mempengaruhi cara seseorang bertingkah, entah bersikap dalam kehidupan nyata maupun bertingkah bagaimana bermedia sosial.

Misalnya, orang-orang yang berasal dari latar belakang lingkungan yang hobinya mendaki gunung. Mereka akan memposting foto-foto atau video yang berhubungan dengan pendakian di media sosialnya. Sementara ibu-ibu yang lingkungannya sibuk dengan gosip, tiap hari pasti membuat postingan yang beraroma gosip. Hal yang pertama perlu disadari bahwa lingkungan memberi pengaruh terhadap cara orang bermedia sosial.

Lalu bagaimana dengan lingkungan yang bermasalah? Misalnya keluarga yang bermasalah. Apakah memiliki pengaruh terhadap cara orang bermedia sosial. Hemat penulis, persoalan dalam kehidupan sehari-hari memberi pengaruh terhadap cara orang bermedia sosial. Dalam hal ini, lingkungan itu memberi pengaruh, tetapi bukan menentukan. Sebab masih ada beberapa orang yang berasal dari latar belakang keluarga atau lingkungan yang kurang kondusif tetapi mampu menempatkan diri dalam bermedia sosial.

Dalam konteks latar belakang keluarga atau lingkungan yang kurang kondusif, media sosial kerap kali menjadi pelarian. Ketika orang tidak mampu menyelesaikan masalah dalam kehidupan nyata, mereka mencari jawaban di media sosial. Bukan hanya mencari jawaban, lebih tepatnya menghibur diri di tengah lingkungan yang tidak memberi kenyamanan. Akibatnya, orang kadang merasa asing dari kehidupan nyata. Dalam hal ini, media sosial tidak menyelesaikan persoalan tetapi malah menambah persoalan baru.

Media Sosial Sebagai tempat untuk Pelarian

Dunia memiliki berbagai macam persoalan. Mulai dari masalah dalam keluarga, masalah dalam lingkungan pergaulan, masalah di tempat kerja, masalah di sekolah, dan berbagai macam masalah yang lain. Tidak mudah menemukan solusi untuk setiap persoalan. Kadangkala membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menemukan solusi. Ketika berhadapan dengan masalah, setiap orang tentunya memiliki cara masing-masing.

Di era media sosial ini, orang rentan mencari jawaban untuk persoalannya di media sosial. Orang mulai melihat beranda, membuat status untuk masalahnya, lalu posting. Berharap bahwa mendapatkan komentar yang memberikan pencerahan untuk dirinya. Akan tetapi, setiap orang yang bermedia sosial tentunya tidak mengenal kita secara lebih mendalam, tidak mengetahui persoalan yang sesungguhnya, tidak memahami konteks, tetapi pandai memberi solusi. Namun sayang, solusi itu kadang tidak tepat sasaran, sebab mereka memberikan solusi berdasarkan pendapat mereka tanpa melihat persoalan secara langsung. Di sisi lain, tak dapat dipungkiri, ada pula yang memberi jawab.

Saya tentunya tidak sedang mengatakan media sosial itu buruk. Tetapi, saya hendak mengatakan ini. Ketika orang salah memanfaatkannya, maka dampaknya juga dapat menghancurkan dirinya sendiri.

Kata “pelarian” untuk kalimat “media sosial sebagai tempat untuk pelarian” memiliki konotasi yang negatif. Kata dasarnya adalah “lari”. Ketika orang bermasalah dan mencari kenyamanan dari persoalan yang ia hadapi dengan bermedia sosial, seseorang sedang melarikan diri dari persoalan yang ia hadapi.

Melarikan diri dari sebuah persoalan tentunya bukanlah memberi jawaban tetapi malah membuat masalah itu tidak dapat menemukan solusinya. Sebab media sosial memberikan kenyamanan dan membuat orang lupa dengan persoalannya. Untuk menenangkan suasana batin mungkin baik dengan menghibur diri dengan bermedia sosial. Akan tetapi, ketika seseorang kembali kepada kehidupan nyata, persoalan itu tetap ada. Akibatnya, media sosial itu memanjakan dan tidak mendewasakan dalam menyelesaikan sebuah persoalan.

Dalam konteks ini, media sosial hanya memberi hiburan sementara. Ketika kembali kepada realitas, persoalan itu tetap ada. Contoh sederhananya mungkin seperti orang yang menyelesaikan persoalan dengan mengkonsumsi alkohol. Barang kali ketika ia mengkonsumsi alkohol, ia merasa tenang. Seolah-olah persoalan yang dihadapi telah sirna.

Tetapi, ketika kembali ke kehidupan nyata, persoalan itu tetap ada. Kesimpulannya, pelarian itu tidak memberikan solusi tetapi akan menambah persoalan baru. Sebab, bisa saja seseorang bisa menjadi candu dengan apa yang menjadi tempat pelariannya.

Media sosial itu bisa menjadi candu. Persoalan-persoalan dalam kehidupan di dunia membuat seseorang mencari kenyamanan di dunia maya. Di satu sisi, ini membuat seseorang bisa “survive” dengan kehidupan yang keras. Ketika ada masalah, orang bermedia sosial sehingga menghilangkan pikiran buruk tentang masalah yang dihadapi.

Untuk konteks para pekerja di Kota Jakarta misalnya, kesibukan kerja membuat seseorang mencari hiburan. Setiap pagi pergi ke kantor, pergi pagi dan pulangnya sore. Mereka melihat tempat dan orang-orang yang sama setiap hari. Hal ini rentan dengan fenomena kejenuhan. Karena itu, kehadiran media sosial memberi hiburan di tengah kejenuhan yang dihadapi. Ini tentunya di satu sisi membawa dampak positif. Media sosial memberi hiburan di tengah kejenuhan yang dihadapi.

Kecanduan itu bisa terjadi ketika seseorang tidak mampu melepaskan diri dari media sosial. Dalam konteks ini, media sosial membelenggu kebebasannya. Ada kerisauan ketika dalam satu hari tidak bermedia sosial. Segala hal yang berlebihan atau kita menyebutnya overdosis itu tentunya membawa dampak negatif untuk kehidupan sehari-hari. Pekerjaan bisa terganggu, jadwal terganggu, sering terlambat karena setiap hari sibuk dengan bermedia sosial.

Media sosial Tetap Memiliki Sisi Positif

Dari perbincangan dalam tulisan ini, satu hal yang juga perlu disadari bahwa media sosial tetap memiliki sisi positif. Komunikasi sangat mudah dengan adanya media sosial. Apalagi di masa pandemi ini, banyak hal yang dilaksanakan secara online. Mulai dari pelajaran, transaksi jual beli, jasa pengiriman barang secara online, dan contoh-contoh yang lain.

Kesimpulannya adalah mungkin bukan media sosial yang salah tetapi bagaimana pengguna menggunakannya. Mari bijak bermedia sosial. 

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya