Media Sosial: Cahaya dan Arah di Tengah Wabah

Mahasiswa
Media Sosial: Cahaya dan Arah di Tengah Wabah 03/04/2020 510 view Lainnya Piqsels.com

Bukan hal baru lagi bagi kita jika berbicara tentang media sosial. Kehadirannya seakan menjadi bagian dari kebutuhan pokok manusia. Setiap waktu yang kita habiskan dalam sehari, sebagian besarnya digunakan untuk mengakses media ini.

Perlahan namun pasti, media sosial mulai menggeser media massa yang menjadi idola di massa lalu. Era baru dimulai, eksistensi media sosial menjadi primadona di masyarakat modern. Kehadirannya membawa banyak perubahan di masyarakat, ada yang positif ada juga yang negatif.

Perubahan yang positif sangat kita harapakan dari kemunculan media sosial ini, meskipun perubahan ke arah negatif tak sepenuhnya dapat kita bendung. Berbagai informasi baik privat maupun publik, disalurkan melalui media ini untuk di sebarkan ke orang lain. Informasinya sangat beragam, semua fenomena di dunia akan dengan mudah tersebar, termasuk informasi mengenai pandemik Covid-19 atau yang lebih dikenal masyarakat dengan corona.

Virus yang ditemukan pertama kali di Negara Tiongkok ini, begitu mudah tersebar beritanya karena pengaruh media sosial, di samping media massa yang juga memberitakan tentang wabah ini. Berbeda dengan media massa yang informasinya harus benar-benar akurat, media sosial tidak mengenal aturan itu. Meskipun ada kebijakan dari pemilik aplikasi dan pemerintah mengenai larangan mengedarkan atau menyebarluaskan berita hoax, aturan itu dianggap masa bodoh oleh pengguna media sosial.

Di tengah pandemik Covid-19 ini, benar atau tidaknya informasi itu bukan persoalan, intinya informasi itu disebarkan dahulu agar orang juga mengetahui. Hal inilah yang mengakibatkan banyaknya informasi yang simpang siur, tidak terkontrol, menciptakan kepanikan, menciptakan banyak persepsi, serta membangun budaya masyarakat untuk menyimpulkan informasi pandemik ini secara liar tanpa pembanding.

Covid-19 yang saat ini melanda dunia adalah wabah yang sangat berbahaya dan telah memakan korban ribuan orang. Perlu kepastian informasi yang mengedukasi masyarakat untuk mawas diri dan melakukan tindakan preventif yang sesuai prosedur kesehatan. Harapan dari media sosial saat ini adalah, menjadi cahaya dan arah bagi ketidakpastian dan kebimbangan di masyarakat.

Peran media sosial harus menjadi nomor satu dan berdiri di garis depan untuk mengedukasi masyarakat. Sesama pengguna media sosial harus berperan aktif untuk sama-sama mengontrol informasi yang beredar di masyarakat. Sebisa mungkin untuk tidak menyebarkan berita yang belum dipastikan kebenarannya, serta membiasakan diri untuk mengecek dan mencari sumber pembanding untuk dibandingkan dengan informasi yang diperoleh.

Fakta di lapangan saat ini, menunjukan bahwa masyarakat kita tidak semuanya memiliki pengetahuan yang luas. Ada masyarakat kita yang minim pengetahuan karena berbagai faktor, termasuk faktor pendidikan. Karena kekurangan informasi, maka masyarakat kita akan dengan cepat menjadikan informasi yang beredar, sebagai informasi yang benar. Untuk masyarakat yang terdidik dan memiliki pengetahuan luas, diharapkan mampu menjadi pengedukasi yang handal, yang menyajikan informasi akurat berdasarkan data. Melalui media sosial, mari kita ciptakan kebenaran yang sebenar-benarnya untuk mengarahkan masyarakat kita pada jalan yang benar.

Fakta lain yang terjadi di masyarakat kita adalah penggunaan singkatan dan bahasa asing oleh pemerintah. Penggunaan bahasa asing dan singkatan-singkatan oleh pemerintah, membuat beberapa masyarakat kita kebingungan. Covid-19, social distancing, physical distancing, ODP, PDP dan suspect adalah contohnya. ODP (orang dalam pemantauan) misalnya, sering dianggap masyarakat sebagai orang yang sudah positif Covid-19. Hal ini karena masyarakat disuguhkan dengan informasi ODP Covid-19, yang mana masyarakat kita menganggap yang ada kata covid-19 itu sebagai orang yang sudah positif.

Akibat dari salah pemahaman ini, masyarakat kita menjadi panik dan mendiskriminasikan ODP. Pendiskriminasian yang dilakukan masyarakat akan mengakibatkan stres dan depresi pada ODP. PDP (pasien dalam pengawasan) juga akan mengalami nasib yang sama jika pola pikir masyarakat kita seperti ini. Kejadian seperti ini harus bisa kita perbaiki melalui edukasi yang baik. Peran media sosial harus lebih dominan, karena masyarakat kita lebih banyak menggunakan media sosial. Hal-hal semacam itu sebisa mungkin kita antisipasi untuk membangun pemahaman yang benar di masyarakat.

Selain fakta-fakta diatas, fakta lain yang terjadi di masyarakat berkaitan dengan Covid-19 adalah, media sosial dijadikan jembatan benturan kepentingan politik masing-masing pihak. Sudah bukan cerita baru bagi kita jika mendengar hal ini. Permainan politik para politisi akan selalu menghiasi media sosial dalam situasi dan kondisi apapun. Mereka akan mempolitisasi apapun termasuk termasuk pandemik Covid-19 ini. Media sosial akan menjadi alat bagi mereka untuk memainkan kepentingan politik mereka.

Akibat kepentingan politik yang berbenturan antar politisi, substansi masalah tidak lagi dibahas melainkan jualan janji dan menjelek-jelekan lawan politiklah yang tersaji. Kebijakan yang dibuat oleh lawan politik akan dinilai secara subjektif dan bukan secara objektif. Dampaknya pada masyarakat adalah, masyarakat akan membenci pemimpin dan tidak mengikuti kebijakan yang dibuat. Ini menjadi masalah yang serius, peran media sosial harus mampu menetralisasi situasi ini. Sesama pengguna media sosial, mari saling mengarahkan masyarakat kita untuk lebih objektif dalam mengambil sikap serta harus menjauhi politik praktis di tengah wabah Covid-19 ini.

Fakta yang terjadi di masyarakat tentang media sosial yang memberi pengaruh dalam kaitannya dengan Covid-19 memang sangat banyak. Pengaruh baik dan buruk akan saling berdampingan. Pengaruh baik harus kita tingkatkan untuk membantu menyelesaikan pandemik ini, sedangkan pengaruh buruk harus sebisa mungkin dicegah.

Memberi pengaruh baik melalui media sosial bagi masyarakat adalah tindakan mulia. Menjadi pengguna media sosial yang baik, harus menjadikan media sosial sebagai cahaya dan arah bagi masyarakat. Masyarakat butuh kepedulian kita di tengah keterbatasan mereka, mereka butuh orang-orang yang mampu memberikan pemahaman lebih bagi mereka. Dalam situasi bencana seperti ini, media sosial harus dikontrol, dimanfaatkan untuk sarana pengedukasian masyarakat, menjauhkan informasi hoaks, serta bukan jadi sarana politik praktis.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya