Masyarakat dan Gaya Hidup Konsumerisme

Mahasiswa STFT Widya Sasana Malang, Alumni UWD Pontianak
Masyarakat dan Gaya Hidup Konsumerisme 16/12/2021 430 view Ekonomi 4.bp.blogspot.com

Sekarang ini, budaya konsumerisme mulai mendarah daging di antara masyarakat kita. Budaya konsumerisme tidak hanya menyerang kaum berdompet tebal, tetapi juga orang muda. Bahkan sejak kecil, anak-anak sudah diperkenalkan dengan budaya konsumerisme. Kehendak yang serba dikabulkan, menciptakan mental untuk membeli tanpa memikirkan kegunaannya. Hanya dengan melihat iklan, orang dengan mudah berhasrat untuk memiliki barang yang baru saja dilihatnya di media massa dan media sosial.

Idealnya, orang membeli barang-barang untuk kebutuhan hidupnya. Kebutuhan pangan, sandang dan papan mungkin teori umum dalam memahami kebutuhan primer kita sebagai makhluk ekonomi. Kebutuhan-kebutuhan baru seperti ponsel cerdas, laptop, kendaraan, gaya dan hobby terkadang melebihi kebutuhan yang utama. Belum lagi biaya-biaya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan di luar pangan, sandang dan papan yang biasanya malahan jauh lebih besar. Gaya hidup berkecukupan sepertinya kurang diminati lagi untuk masyarakat masa kini.

Di era modern saat ini, orang membeli barang-barang bukan karena urgensi. Gaya hidup yang semakin meningkat biasanya membawa dampak pemenuhan keinginan yang tak terkontrol. Ini terlihat dari penggunaan online shop yang secara intens dimanfaatkan masyarakat dewasa ini. Orang bisa menghabiskan waktu dan biaya untuk memesan barang-barang yang tidak terlalu penting. Mentalitas ‘yang penting beli’ mengaburkan cita rasa pemenuhan kebutuhan menjadi semacam pemborosan dan prestise.

Masyarakat secara perlahan-lahan telah menjadi korban iklan. Bukti paling nyata tampak di media televisi. Biasanya iklan-iklan bermunculan lebih banyak daripada tayangan film. Bahkan iklan-iklan tersebut terselip di antara film-film yang notabene disukai oleh masyarakat. Kalangan yang paling banyak diserbu oleh iklan-iklan ini biasanya kaum hawa. Iklan ini muncul dalam bentuk kosmetik, makanan, shampo, ponsel dan lain-lain. Tayangan iklan yang berulang-ulang tersebut memberi efek sugesti secara tidak langsung. Instruksi untuk membeli di bawah alam sadar terbawa suatu saat ketika korban iklan ini sedang berbelanja.

Di balik iklan yang ada di media massa, ide kapitalisme menyerang tanpa disadari. Pendapat ini bukan tanpa dasar. Menurut perspektif filsafat Herbert Mercuse yang ditulis oleh Dr. Valentinus Saeng, perubahan gaya hidup masyarakat modern mengarahkan pada manipulasi kebutuhan. Ada semacam praktek dominasi, represi, alienasi dan ekploitasi terhadap individu dan masyarakat secara rasional dan total. Dimunculkanlah istilah daya serap pasar, daya beli masyarakat, tingkat konsumsi menjadi kenyataan yang tidak disadari mengenai sentralitas dan esensialitas dunia kebutuhan dalam desain raksasa penguasa kapitalis. Sehingga masyarakat saat ini telah menjadi sapi perah untuk menguntungkan kaum kapitalis.

Menurut teori konsumsi tanda Baudrilard, tindakan konsumsi barang dan jasa tidak lagi berdasarkan kegunaan, tetapi mengutamakan tanda dan simbol yang melekat pada barang dan jasa itu sendiri. Internet menjadi contoh paling real yang menimpa masyarakat saat ini. Kebutuhan orang akan internet sudah menjadi kebutuhan utama. Ketika kuota internet habis, dunia serasa mati. Akhirnya orang berusaha keras untuk mendapatkan akses internet dengan membeli kuota internet atau berlangganan provider.

Perilaku konsumtif berkaitan erat dengan gaya hidup. Masih berkaitan dengan teori konsumsi tanda, orang tidak lagi mengkonsumsi barang dan jasa berdasarkan pada kegunaan, tetapi mengutamakan simbol atau citra yang melekat pada barang. Akibatnya, terjadilah pemenuhan kebutuhan terus menerus dan cenderung berlebihan. Gaya hidup bermedia sosial menimbulkan kegelisahan bagi individu apabila internet terputus. Hal tersebut tidak lagi dalam ranah ketidaksadaran, tetapi sungguh disadari oleh banyak orang.

Masyarakat harus mulai menyadari cara hidup sederhana dan mengembalikan orientasi konsumsi demi kebutuhan hidup. Tidak mustahil untuk menekan konsumerisme dengan pengendalian diri. Pengendalian diri juga bertalian dengan pemahaman tentang konsep kebutuhan yang benar. Selama ini masyarakat disuguhkan aneka ragam kemudahan teknologi yang dipahami sebagai pembantu kehidupan. Tetapi dalam kenyataannya, manusia malah yang dikuasai dan dijadikan sapi perah bagi keuntungan kaum kapitalis.
.
Jangan mudah tergoda pada iklan dan merek barang. Bahkan jika itu sangat-sangat menggelitik hasrat untuk membeli. Pikirkan kembali nilai kegunaan barang tersebut. Jika memang sangat penting bagi kebutuhan hidup (sandang, pangan, papan), hendaknya diutamakan. Akan tetapi jika barang atau jasa tersebut tidak terlalu mendesak, kita secara bijak mengatakan tidak.

Jika dikaitkan dengan moral bangsa kita, konsumerisme bukanlah ciri khas bangsa Indonesia. Dasar negara kita Pancasila menjadi tuntunan bahwa perwujudan ekonomi Pancasila bukan saja dinilai dari materi tetapi juga kualitas manusianya. Investasi yang paling ideal adalah pada manusia sebagai sumber daya. Artinya bahwa perekonomian negara harus mampu disikapi secara arif dan bijaksana dengan cara menilai kualitas yang dimiliki manusia dengan memaknai kebutuhan ekonomi negaranya.

Mari mulai membiasakan untuk membeli yang sungguh dibutuhkan. Kita mengembalikan fungsi orientasi pada kebutuhan hidup dan menolak segala bentuk konsumerisme. Meskipun membutuhkan usaha yang besar, tetapi kesadaran untuk mulai berubah menjadi kunci keberhasilan dalam melawan konsumerisme. Maka dari itu, ‘belilah yang penting’ bagi kebutuhan hidup, dan jangan ‘yang penting beli’ karena keinginan semata. Hal ini demi menciptakan kebiasaan untuk hidup baik dan benar sebagai masyarakat Indonesia yang hebat.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya