Masa Depan KBBI Selepas Covid-19

Staf Pengajar di Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Citra Bangsa (UCB), Kupang, NTT
Masa Depan KBBI Selepas Covid-19 12/05/2020 1716 view Lomba Esai id.wikipedia.org

Corona Virus Disease 2019 atau lebih dikenal dengan Covid-19—dalam Bahasa Indonesia—penyakit virus korona (peviko) sungguh memorakkan tatanan kehidupan dunia dalam segala aspek: politik, ekonomi, sosial, hukum, budaya, dan tak terkecuali bahasa. Pandemi ini mengakibatkan dunia fokus untuk menangani virus ini. Pasalnya, virus ini sungguh misterius-menakutkan. Ada begitu banyak pembahasan mengenai dampaknya di masa depan. Misalnya saja, pembahasan mengenai persoalan non bahasa (bisa jadi paling banyak dibahas), tapi tidak demikian dengan persoalan bahasa. Bahasa nyaris tanpa persoalan. Tapi, pada akhirnya ternoda pula. Semacam bahasa jua turut terpapar virus tersebut walau dengan tingkat keparahan yang kecil.

Seturut data yang dihimpun dari Liputan6.com (diakses, 10 Mei 2020 pukul13.05 Wita), ada sejumlah kata atau istilah (baru) yang muncul di tengah pandemi covid-19, baik dalam Bahasa Inggris maupun dalam Bahasa Indonesia. Istilah-istilah tersebut di antaranya corona virus, severe acute respiratory syndrome corona-virus 2 (SARS-COV-2), corona virus disease 2019 (covid-19), physical (social) distancing, lockdown, work from home (WFH), isolasi, karantina, kejadian luar biasa (KLB), orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), suspek, pasien positif, pasien negatif, outbreak, epidemi, pandemi, imported case, local transmission, swab test, hazardous materials suit (hazmat suit), specimen, screening patient, klaster, tracking patient, fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes). Ada pula istilah ‘covidiot’ dalam kamus daring urbandictionary.com. Terdapat beberapa definisi penting dari kata tersebut, yaitu: “Someone who ignores the warnings regarding public health or safety; someone who is overhyped and/or fear-mongered by politicians regarding the politicizing of the corona-virus/influenza; a person who makes themselves look like an idiot during or after a pandemic”.

Dalam tulisan ringkas ini, saya tidak akan membahas batasan kata-kata atau istilah-istilah tersebut di atas, termasuk kata atau istilah ‘covidiot’ secara khusus. Akan tetapi, saya hanya menghadirkan kata-kata atau istilah-istilah tersebut sebagai bukti bahwa bahasa pun turut “terpapar” covid-19. Akibatnya, perencanaan bahasa, khususnya Bahasa Indonesia mungkin urgen dipikir ulang. Perencanaan bahasa perlu dilakukan mengingat merambahnya kata-kata atau istilah-istilah baru, juga perubahan dalam penggunaan bahasa: kata-kata atau istilah-istilah yang sudah ada di dalam kamus. Perubahan ini turut mempengaruhi struktur bahasa, khususnya perbendaharaan kata. KBBI edisi V mungkin harus direvisi lagi. Kata-kata atau istilah-istilah tersebut di atas mesti dibatasi secara jelas dan dicarikan padanan dalam Bahasa Indonesia secara tepat, sehingga tidak menimbulkan kekacauan berbahasa.

Di sini perencanaan bahasa berperan penting karena melaluinya kepentingan pembinaan bahasa, pengembangan bahasa, dan pemertahanan bahasa dapat diwujudkan. Perencanaan bahasa, menurut Salzmann, dkk (2012:292), dilakukan sebagai usaha bijak, umumnya pada level negara, guna mengatasi persoalan komunikasi akibat penggunaan bahasa. Ini menunjukkan bahwa perencanaan bahasa akan berhasil bila negara aktif merumuskan perencanaan bahasa secara matang. Negara mesti menjamin masyarakat dengan penggunaan bahasa yang tidak kacau di masa depan. Sebab, kata-kata atau istilah-istilah sekaitan dengan covid-19 sebagian besar belum terdapat di dalam KBBI. Sekalipun kata-kata atau istilah-istilah sudah ada di dalam kamus, pun masih dipersoalkan. Sebagai contoh, adanya perbedaan pandangan mengenai istilah ‘pulang kampung’ dan ‘mudik’ baru-baru ini.

Seturut gejala kebahasaan tersebut, hemat saya, kegiatan perkamusan (edisi revisi) di Indonesia akan dilakukan kembali. Dan, akan ada pembaruan terhadap pewatasan sejumlah kata atau istilah yang dipertentangkan. Basis argumentasi saya adalah pertama, ternyata, dalam KBBI, kata-kata atau istilah-istilah setautan dengan covid-19 belum ditemukan. Ini berarti bahwa kemungkinan besar para penyusun kamus entah versi cetak ataupun versi daring akan memikirkan kembali edisi revisi. Kegiatan penyusunan kamus (leksikografi) akan kembali dilakukan, sedangkan leksikologi, salah satu cabang linguistik yang menelaah leksikon beserta makna yang dikandungnya, akan ramai dipelajari. Atau, mungkin akan dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan tinggi, khususnya kurikulum kebahasaan. Kemungkinan berikutnya adalah minat penelitian ke arah leksikologi dan leksikografi akan meningkat.

Kedua, para penyusun kamus, khususnya KBBI, akan berjuang mewatasi kembali istilah ‘pulang kampung’ dan ‘mudik’ yang sempat dipertentangkan beberapa waktu lalu. Saya yakin, para penyusun KBBI akan berjuang merumuskan kembali kata-kata atau istilah-istilah yang kabur, bermakna ganda-membingungkan. Ini karena KBBI merupakan salah satu referensi kamus andalan yang paling banyak digunakan di Indonesia. Kamus ini dipercayai masyarakat Indonesia sebagai “kitab kata” nan tepat untuk menyelisik makna kata.

Karena itu, menurut Kridalaksana (1985:115), kegiatan perkamusan yang dapat dilakukan untuk memperkaya perbendaharaan kata dalam KBBI adalah mengisi kekurangan tenaga leksikografi dengan kursus dan latihan; mengadakan penelitian yang akan menunjang kamus standar, seperti perbendaharaan kata dalam semua variasi Bahasa Indonesia, baik dalam pelbagai dialek sosial dan regional maupun dalam variasi-variasi khas yang mewakili pelbagai cabang kehidupan. Tidak hanya itu, tapi sejarah asal-usul kata (etimologi) dan sistem dokumentasi leksikologi harus dilakukan secara tepat. Kegiatan penerjemahan atau pengindonesiaan kata/istilah asing juga harus disiapkan secara matang. Setelah itu, baru diadakan penyusunan kamus standar edisi revisi.

Dengan demikian, yang akan terjadi dengan masa depan KBBI adalah akan ada edisi revisi dan bertambahnya perbendaharaan kata dari penyusunan sebelumnya. Tak sekadar penambahan kata, tapi pemberian makna terhadap setiap kata juga akan dilakukan dengan cermat, serba hati-hati, sehingga tidak menimbulkan kekacauan. Pemberian makna terhadap kata akan dan mesti dilakukan dengan pengetahuan yang mumpuni dalam berbagai hal, termasuk membaca perkembangan kata seturut pengguna(-an) dan zaman. Ini semua harus dilakukan guna menghasilkan “kitab kata” terpercaya. Kalau tidak, KBBI hanyalah daftar kata atau daftar istilah usang.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya