Makna Hidup dalam Kacamata Frankl dan Kaitannya dengan Mental Health

Makna Hidup dalam Kacamata Frankl dan Kaitannya dengan Mental Health 01/08/2022 31 view Lainnya acetutors.com.sg

“Setiap orang memiliki tugas unik dan makna hidupnya masing-masing.” Kalimat ini masih terngiang di kepala saya usai membaca salah satu masterpiece milik Frankl Man’s Search for Meaning. Jarang ditemui satu buku yang selalu berimplikasi positif kepada pembacanya, bahkan hampir semua pembacanya. j menjadi salah satunya. Buku ini memberi kesan yang mendalam bagi saya secara personal dalam merefleksikan kembali makna dari hidup.

Victor Frankl yang merupakan seorang dokter dan professor dalam bidang neurologis dan psikiatris, korban holokaus Nazi yang selamat pada masa perang dunia kedua. Lewat buku ini ia tuangkan sedikit pengalamannya selama tiga tahun mendekam di kamp kosentrasi. Saya pikir tidak perlu lagi menggambarkan bagaimana rupa kamp tersebut. Sudah cukup banyak literatur yang mengulas tentang hal ini, walau tetap saja masih ada yang tidak percaya dengan kejadiannya.

Kembali kepada Man’s Search for Meaning, pengalaman Frankl selama mendekam di dalam kamp kematian Nazi, telah menjadi penyempurna atas teori barunya dalam dunia psikoterapi yakni logoterapi. Sejatinya ia dipaksa untuk membuktikan kata-katanya sendiri. Lewat berbagai penderitaan yang dialaminya di dalam kamp tersebut, ia dipaksa menilai apakah hidupnya masih memiliki makna? Nyatanya ia dapat membuktikan hal tersebut, menurutnya bahkan dalam penderitaan sekalipun manusia dapat menemukan makna hidupnya.

Lantas apa yang dimaksud dengan logoterapi? Singkatnya, logoterapi adalah cara dalam dunia psikoterapi untuk membantu seseorang dalam menemukan makna hidupnya, agar kemudian hal ini menjadi motivasi baginya dalam menjalankan kehidupan. Maka, meskipun ia hidup dalam sebuah penderitaan “ yang jelas tak dapat terhindarkan” -semisal kematian, cacat, kecelakaan atau seperti yang dialami Frankl yakni disiksa dalam kamp Nazi - hidupnya masih memiliki makna. Manusia sendirilah yang akan menemukan makna hidupnya lewat pertanyaan-pertanyaan yang diberikan hidup padanya. Ia hanya perlu menjalankankan hidupnya dengan penuh tanggung jawab. Menurut Frankl inilah cara untuk membuktikan eksistensi seorang manusia. Terkait hal ini, jelas terlihat bahwa hidup bukan hanya sekedar mencari kesenangan dan kenikmatan sebagaimana dasar aliran psikoanalisis Freud, juga bukan sebuah ajang untuk mencari kekuasaan atau keunggulan sebagaimana menjadi dasar psikologi Adler.

Menurut Frankl, setiap manusia memiliki keinginan untuk mencari makna hidup (will to meaning). Saya berpikir bahwa hal ini relatable dengan kehidupan masayarakat sekarang, terlebih lagi bagi para kaum muda. Sebagaimana disebut Frankl, will to meaning akan menimbulkan semacam frustasi eksistensial yakni frustasi yang terjadi pada seseorang karena tak kunjung menemukan makna hidupnya. Dalam kasus yang lebih lanjut hal ini dapat mengganggu kesehatan mental bahkan berujung pada bunuh diri.

Sedangkan untuk usia yang lebih tua, kebanyakan orang mengalami semacam kehampaan eksistensial, di mana mereka bahkan tidak tahu harus melakukan apa akibat bayaknya waktu senggang yang mereka miliki. Krisis ini sering dialami oleh para pensiunan dan manula. Namun jangan salah, bagi para kaum muda kehampaan eksistensial juga kerap terjadi. Istilah yang populer bagi anak muda dengan seambrek waktu sengggangnya yang hanya diisi dengan bermalas-malasan biasa disebut sebagai kaum rebahan.

Setuju atau tidak, banyaknya waktu senggang yang tidak diisi oleh kegiatan yang produktif akan memicu tiga hal yang disebut Frankl sebagai depresi, agresi dan kecanduan. Akibat terhambatnya cara seseorang untuk menemukan makna hidupnya, maka tak jarang orang tersebut menyelewengkan nya dalam bentuk mencari kesenangan, bisa berupa candu obat-obatan, gadget, juga kebanyakan malah terimplementasi dalam bentuk pelecehan seksual. Maka, bila akhir-akhir ini kita sering melihat berita pelecehan dan bentuk penyelewenagan seksual lainnya, boleh jadi karena orang tersebut sudah tidak tahu orientasi dan makna dari hidupnya.

Tentu akan muncul pertanyaan, jadi bagaimana cara agar mengetahui makna hidup serta kaitannya dengan kesehatan mental? Perlu digarisbawahi, makna hidup dalam teori logoterapi Frankl tidak berarti menggeneralisasikan makna hidup secara keseluruhan (yang biasanya bersifat abstrak dan melangit). Bagi Frankl, makna hidup yang ia maksud lebih kepada makna spesifik dari hidup seseorang pada suatu saat tertentu. Agar lebih mudah, mungkin dapat dianalogikan seperti seorang pencatur kelas dunia yang ditanya apa teknik permainan catur terbaik, tentu ia tidak bisa mengutarakan satu cara saja, sebab teknik terbaik akan berbeda tergantung pada kondisi bidak caturnya. Begitu pula cara memahami makna hidup. Tidak dapat digeneralisasi. Setiap orang memiliki makna hidup yang berbeda-beda tergantung situasinya. Kuncinya adalah bertanggung jawab dalam menjalankan hidup. Dalam hal ini saya jadi teringat dengan kata-kata bijak Nietzsche yaitu “ Dia yang memiliki mengapa untuk hidup hampir bisa menghadapi semua bagaimana”.

Demikian pula perlu kita diketahui, untuk menggapai makna hidup mau tidak mau seseorang harus dan pasti mengalami suatu penderitaan sebab penderitaan merupakan bagian dari hidup (bagaimanapun tidak ada hidup yang mulus-mulus saja). Sekarang tinggal manusialah yang berusaha untuk meminimalisir rasa takut dan sifat lemah dalam diri mereka untuk menghadapi beragam pertanyaan yang diberikan hidup padanya. Karena sejalan dengan itu, mereka akan menemukan makna hidupnya. Sebagaimana Frankl, “ Seorang manusia harus mengalami ketegangan batin bukan keseimbangan batin”. Maka tak perlu malu untuk menangis. Bila ingin menangis, menangislah. Sebab ketegangan batin merupakan klimaks dari pencarian sebuah makna hidup yang menjadi prasyarat agar tercapainya kesehatan mental.

Dengan demikian, masalah yang sering dihadapi oleh pemuda kekinian seperti quarter life crisis juga mental health harusnya bisa diatasi bila ia mengetahui makna hidupnya. Kembali lagi, cara menggapainya yakni dengan bertanggung jawab dalam menjalani hidupnya. Mitch Albom dalam bukunya Tuesdays with Morrie menuliskan, bahwa Morrie Schwartz (gurunya) pernah mengatakan “ Apabila kita belajar tentang cara menghadapi maut, berarti kita belajar tentang cara menjalani hidup”. Maka, mari bercermin dan bertanya pada diri, apakah kita sudah berani untuk hidup?

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya