Mahasiswa: Monster Bagi Para Penguasa

Mahasiswa Terujung
Mahasiswa: Monster Bagi Para Penguasa 17/01/2020 916 view Politik pxhere.com

Gonjang-ganjing melemahnya peranan KPK dalam memberantas Korupsi sedang hangat-hangatnya hari-hari ini. UU-KPK dan sebangsanya yang disahkan oleh para wakil rakyat beberapa waktu lalu adalah dalang dari berbagai masalah yang melanda negeri ini.

Kejumudan hukum-hukum tersebut tidak ubahnya seperti candaan sampah beberapa program komedi televisi lokal yang menghina nalar dan logika. Pemberlakuan hukum-hukum tersebut dapat dipastikan tidak akan mampu menyigi korupsi di republik.

Diberlakukannya hukum abal-abal ini justru akan menenggelamkan rakyat Indonesia ke dalam lumpur hisap. Dipertegas oleh Haris Azhar, bahwa “hukum-hukum baru ini justru akan menambah populasi gembel di Indonesia”.

Berbanding terbalik saat masa pemilihan: jangankan berbicara tentang pemberantasan korupsi, andaikata terdengar saja beberapa masyarakat di lokasi pemilihannya terkena bisul, berbondong-bondonglah calon wakil rakyat tersebut menjenguk serta memberikan santunan sebagai bentuk belasungkawa dan tidak lupa pula membawa fotografer untuk merekam aksinya; setelah mereka terpilih, jangankan mempedulikan pemilihnya, membedakan yang mana benar dan salah saja mereka gagap.

Beberapa waktu yang lalu, para mahasiswa berusaha menjawab kerisauan masyarakat akan hukum-hukum yang tidak lagi berpihak pada mereka, dengan cara mengaktifkan kembali parlemen jalanan untuk mengkritisi dan mengevaluasi kinerja wakil rakyat di Senayan dan menuntut presiden Jokowi untuk memberlakukan Perppu.

Anehnya, gerakan mahasiswa yang hampir serentak dilakukan di seluruh Indonesia dengan tujuan mengkritisi wakilnya yang sudah salah jalan ini, kemudian mendapatkan kecaman dari beberapa pihak dengan bahasa-bahasa akrobatik: di tumpangi ISIS-lah, di tumpangi kelompok radikal-lah, ditumpangi golongan yang belum menerima kekalahan-lah.

Tanpa mereka sadari, kecaman mereka tersebut menjadi senjata makan tuan, sebab yang sedang mereka hadapi bukan sembarang golongan: akan tetapi golongan terdidik yang punya catatan besar di pentas sejarah bangsa Indonesia.

Benang Merah Peradaban

Sejarah mencatat, bahwa mahasiswa adalah golongan yang paling berpengaruh dalam mendorong lokomotif bangsa bergerak menuju kemajuan; mereka juga adalah golongan yang paling berjasa dalam membebaskan bangsa Indonesia dari berbagai macam ketidak-adilan serta kesewenang-wenangan yang mereka terima dari penguasa.

Catatan sejarah tentang keterlibatan mahasiswa dalam membebaskan bangsa Indonesia dari berbagai macam praktik pembodohan yang dilakukan para elit politik bukan hanya terjadi semenjak Indonesia merdeka, bahkan jauh sebelum bangsa Indonesia mengenal kata politik pembebasan, yaitu semenjak 1908.

Ketika itu kaum terpelajar Indonesia yang belajar di Belanda membentuk perhimpunan Indonesia, dan golongan terpelajar Jawa membentuk Budi Utomo. Tujuan mereka hanya satu, guna mencerahkan bangsa Indonesia lewat pendidikan, dan kemudian berkembang menjadi gerakan politik yang bertujuan untuk membebaskan Indonesia dari segala macam bentuk penjajahan.

Kegemilangan generasi terdidik ini dalam memegang kendali bangsa tidak hanya berhenti di sana, mereka juga ikut merumuskan sumpah sakti: yaitu bertanah air yang satu, tanah air Indonesia; mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia; menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia (sumpah pemuda, 1928), yang kemudian menjadi tonggak penting bangsa Indonesia dalam bergerak menuju cita-cita nasional, yaitu kemerdekan Indonesia.

Setelah Indonesia merdeka pun, peran mahasiswa dalam mengontrol penguasa tidak berhenti sama sekali. Mereka tetap menjadi golongan yang paling kritis mengecam setiap tindak-tanduk pemerintah yang merugikan rakyat, walaupun itu adalah Soekarno sekalipun (yang ketika itu dipuja di sana dan di sini karena pengaruh besarnya dalam memerdekakan bangsa Indonesia).

Aksi 1966 yang dilakukan oleh mahasiswa untuk mengkritisi kebijakan Soekarno dengan tiga tuntutan rakyat (Tritura) yang mereka bawa, menjadi saksi bagaimana kritisnya mereka terhadap pemerintahan Soekarno.

Kemudian pada masa orde baru, mahasiswa juga tetap menjadi lokomotif pergerakan bangsa yang bertugas mengontrol setiap sikap pemerintah dalam berkuasa, walaupun ada upaya penggembosan dari orde baru untuk mempersulit langkah mahasiswa di kampus.

Namun mahasiswa tetap berhasil lepas dari jeratan tersebut dengan membangun jaringan perjuangan antar sesama mahasiswa dari kos ke kos; gubuk ke gubuk; hutan ke hutan, hingga akhirnya berhasil menjungkir-balikan kekuasaan Soeharto dari singgasananya dan menuntut reformasi sejadi-jadinya pada tahun 1998. Dengan kata lain, semakin kuat tekanan yang menghimpit gerakan mahasiswa, semakin besar pula daya tolak dari dalam untuk keluar dari tekanan.

Tindakan Represif Bukan Jawaban

Dari berbagai fakta dan sindiran sejarah tersebut, maka telah jelas letak duduknya bahwa upaya pengerdilan dan tindakan represif yang dilakukan oleh golongan elit terhadap gerakan mahasiswa bukan jawaban untuk menyelesaikan persoalan ini, bahkan tergolong perbuatan yang sia-sia. Mungkin tujuannya mulia, yaitu untuk menjaga kesakralan penguasa, apalagi acara pengangkatannya di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, kabarnya dihadiri langsung oleh penguasa laut selatan.

Masalahnya adalah bukankah pergerakan mahasiswa di masa lalu semakin membesar karena narasi yang mengerdilkan tuntutan mereka dan tindakan represif aparat?

Jika seandainya para elit berkaca pada peristiwa sejarah, maka mereka akan sadar bahwa revolusi dan reformasi yang terjadi di negeri ini: mula-mula bangkit pertama kali di kalangan intelektual, baru kemudian merambat ke masyarakat. Jika sudah demikian, maka akan lebih banyak masalah yang akan dihadapi oleh pemerintah dan para elit.

Barangkali apa yang dikatakan Soekarno tentang jangan sekali-kali melupakan sejarah (Jas Merah), merupakan sebuah bentuk sindiran pada bangsa Indonesia, yang acapkali lupa pada akarnya, sehingga sering jatuh ke lubang yang sama.

Sebagaimana yang kita lihat hari ini, berbagai indikator yang membuat gerakan mahasiswa semakin berurat dan berakar menjadi gerakan yang lebih besar dalam menumbangkan ketidak-adilan sedang terulang kembali; seperti upaya pengerdilan dan tindakan represif aparat militer.

Poin penting yang harus disadari oleh pihak pemerintah adalah, golongan mahasiswa yang mengemban tugas ini murni bergerak untuk keperntingan rakyat pinggiran yang selama ini sengsara akibat korupsi yang mendarah daging dalam tubuh kekuasaan. Kesengsaraan itu akan semakin bertambah dengan membatasi dan membabat upaya pemberantasan korupsi yang dilakukan KPK.

Oleh karena itu, jika tidak ingin digilas oleh lokomotif zaman, sebagaimana penguasa sebelumnya, maka pemerintah dan para elit harus berupaya seramah mungkin meladeni kehendak mahasiswa, kemudian lakukan audiensi yang beradab untuk menerima aspirasi yang dibawa oleh kelompok mahasiswa.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya