Madah Requiem Pendidikan Tinggi

Mahasiswa
Madah Requiem Pendidikan Tinggi 14/03/2021 215 view Pendidikan doktergenz.hipwee.com

Sudah satu tahun lebih sejak penyebaran virus corona di Indonesia diumumkan oleh pemerintah. Pandemi telah menelan banyak korban. Di antara mereka barangkali adalah orang-orang terdekat kita.

Tak dapat dimungkiri, wabah besar ini memengaruhi segala aspek kehidupan setiap insan tanpa terkecuali. Perjumpaan dengan siapa pun harus berjarak, cuci tangan setiap saat,  kerumunan publik harus dihindari, senyum entah manis atau pahit pun harus tersembunyi dibalik masker. Itu semua adalah konsekuensi hidup di era pandemi. Sebuah nasib generasi kita saat ini.

Selain berdampak besar pada ekonomi dan kesehatan masyarakat, pandemi juga berdampak pada segi pendidikan. Meskipun harus melakukan social distancing, proses belajar dan mengajar tetap berlangsung meski harus secara daring. Inilah revolusi besar dunia pendidikan yang tak terhindarkan. Dari tingkat TK hingga doktoral, semua mengejar ilmu dari depan layar. Sesudah buku, internet adalah jendela dunia.

Di dalam negeri sebagian besar satuan pendikan baik pendidikan dasar maupun pendidikan tinggi telah melaksanakan proses belajar mengajar secara daring. Kira-kira kurang lebih satu tahun pembelajaran jarak jauh sudah diterapkan. Tentunya, pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar dengan cara demikian bukan tanpa hambatan dan tantangan.

Kuliah daring tentu membutuhkan perangkat gawai dan internet yang memadai, sementara tidak semua peserta didik mempunyai ekonomi yang cukup. Beberapa guru atau dosen yang biasa mengandalkan papan tulis atau pengajaran satu arah juga perlu beradaptasi dengan teknologi. Etiket studi para siswa pun tak dapat diamati secara langsung. Makna "Aku ada dalam kelas" dipertanyakan lagi. Apakah sekadar login di Zoom, memasang foto dan menatap layar sambil rebahan atau benar-benar hadir di hadapan guru?

Model studi via daring ini memang menyisakan banyak persoalan. Suka tidak suka, hal ini dilakukan demi kontinuitas pendidikan anak bangsa. Namun, kritik lain juga bermunculan. Salah satunya dari filsuf kontemporer kenamaan Italia, Giorgio Agamben.

Dalam beberapa kesempatan, Agamben menyatakan pendapat kontroversial pribadinya tentang penanganan Covid-19. Ia menyebut pandemi ini hanya sekadar flu biasa yang ditangani secara berlebihan. Bagi Agamben, keadaan darurat pandemi Covid-19 ini hanya akal-akalan pemerintah berdaulat untuk mengendalikan tubuh warganya.

Opini Agamben ini jelas menuai banyak kritik. Faktanya, pandemi ini telah menelan banyak korban meninggal. Sebab, pandemi ini bukan sekadar sakit pilek biasa. Beberapa orang lain menyebut pandangan Agamben liar dan tak lebih dari omongan orang tua berbahaya. Meskipun begitu, Agamben tak bergeming. Ia merasa telah berpendapat dalam kapasitasnya sebagai filsuf dan akademisi, bukan tenaga medis.

Jean-Luc Nancy, kolega dan sesama filsuf merespons perkataan Agamben dengan mengenang pengalaman personalnya. Sebelumnya, Nancy pernah dianjurkan dokter untuk transplantasi hati untuk mengatasi penyakitnya. Tetapi, Agamben menasihati dirinya agar menolak tawaran dokter itu. Andai Nancy mendengar Agamben, mungkin ia tidak hidup lebih lama.

Agamben memang filsuf politik. Ia melawan paham kekuasaan negara yang memanfaatkan situasi darurat untuk mengontrol hidup warga negaranya. Dalam Magnum Opus Agamben yang terkenal yakni Homo Sacer, ia berpendapat bahwa politik barat dilandasi atas kontrol dan penelantaran hidup manusia, alih-alih mengangkat derajat kehidupan manusia.

Pendapat yang sama dikemukakan Agamben untuk menilai realitas pandemi Covid-19 ini. Ia menilai pandemi adalah dalih penyebaran teknologi digital oleh para kapitalis secara meluas dan menyeluruh. Keharusan untuk menjaga jarak menjadi kesempatan produsen gawai dan platform digital memasarkan barang dagangannya.

Soal hidup studi para mahasiswa, ia menganggap hidup studi perguruan tinggi dan universitas telah mati. Kuliah daring bagi Agamben membunuh pengalaman hidup nyata. Gawai melenyapkan interaksi satu dengan yang lain secara langsung dan mengurungnya dalam layar spektral virtual.

Jika Nietszche memaklumkan kematian Tuhan seabad lebih yang lalu, maka kini Agamben menyatakan kematian ke(maha)siswaan (It: studentato, Ing: studenthood). Kematian ini ditandai oleh elemen kehadiran fisik yang menghilang secara definitif dalam proses edukasi formal. Pengajaran, diskusi, dan seminar yang merupakan bagian integral nan penting dalam pendidikan kini harus lenyap oleh karena pandemi.

Bagi Agamben, studi atau diskusi melalui gawai tidaklah optimal. Belajar juga tidak melulu didapat dalam wadah edukasi formal tetapi hingga setelah kelas berakhir. Itu semua dicirikan oleh perjumpaan, pertemuan masing-masing individu secara langsung untuk bertukar pikiran dan beradu pendapat. Pengalaman nyata dengan menyaksikan wajah, emosi, tensi, gestur, tidak didapat selama perkuliahan daring.

Maka, Agamben menganggap kerangka kurikulum, model studi skolastik, pengajaran di dalam kelas, interaksi antara professor dan mahasiswa, guru dan murid, bangunan-bangunan universitas, ketenangan dan fokus yang dibangun perpustakaan, yang telah diwariskan sepuluh abad sejak abad pertengahan telah mati. Inilah akhir dari era keuniversitasan dan kemahasiswaan. Requescat in pace, universitas.

Sebaliknya, setiap pelajar akan mendengar kuliah dan ceramah dalam perangkap kamar dan layar gawai mereka masing-masing. Kota-kota kecil di mana banyak komunitas studi dan diskusi berkembang, serta kota besar yang dulunya bermukim banyak kampus bergengsi sehingga kemudian bergelar kota pendidikan akan menghilang perlahan dari hidup eksistensial para pelajar. Saya jadi teringat betapa lengang Kota Malang dan kota-kota pendidikan lain di masa pandemi ini.

Lebih keras, Agamben mengultimatum para professor dan dosen yang tunduk pada kediktatoran telematika dan teknologi disetarakan dengan guru universitas pada tahun 1931 yang bersumpah setia pada Nazi. Agamben juga mengimbau mahasiswa untuk menolak model pembelajaran jarak jauh ini. Kembali lagi, alasan Agamben adalah bahwa semuai ini hanyalah akal-akalan pemerintah untuk menguasai kehidupan.

Membaca pemikiran Agamben ini, orang mungkin akan memandang rendah reputasi Agamben sebagai akademisi. Bagaimana mungkin? Corona yang secara faktual menelan banyak korban jiwa ini hanya dilihat sebagai teori konspirasi belaka. Secara kasar, orang mungkin membalas, Agamben belum melihat kematian saudara dekatnya sendiri.

Sebagai mahasiswa, saya juga tidak serta merta menerima pemikiran Agamben. Namun, ada baiknya bila kita melihat sisi lain. Kini semua orang begitu bergantung pada teknologi. Hidup manusia diserahkan dan seolah diperhambakan pada notifikasi dan layar-layar gadget.

Sebagai contoh sederhana, fokus belajar tentu mudah terganggu dengan berbagai macam distraksi media sosial yang menuntut kita untuk menggulirkannya setiap saat. Ketika terganggu, aplikasi teknologi lain akan menyediakan piranti digital agar kita menjadi lebih mudah fokus. Ketika perhatian telah terpusat pada studi, kita masih membutuhkan penerjemah cepat untuk memahami materi.

Lagi-lagi kita membutuhkan aplikasi penerjemah. Begitu seterusnya. Kita akan mudah terperangkap pada circulus vitiosus (lingkaran setan) perbudakan kapitalisasi teknologi. Sekalipun demikian, akal sehat harus senantiasa dipelihara. Terburu-buru kembali ke kelas dan berkerumun dengan sesama pelajar yang lain juga bukan sesuatu yang bijak, tetapi justru mematikan. Tetap belajar adalah ikhtiar terbaik seseorang pelajar dalam menunaikan tugasnya.

Kritik Agamben tidak sepenuhnya liar atau omongan lansia bangka belaka. Sejatinya ia memantik kita, para pelajar, untuk mempertajam kritik atas realitas yang terjadi. Banyak hal di dunia ini bukan sekadar realitas niscaya yang terberi begitu adanya, termasuk dampak pandemi corona. Kita diajak untuk terus bertanya dan mengkritisi.

Di sisi lain, Agamben secara tersirat meminta kita untuk benar-benar belajar, alih-alih berselancar ria di antah berantah dunia maya atau malah berhibernasi sepanjang hari. Non scholae, sed vitae discimus. Sebab untuk hiduplah kita belajar, bukan demi sekolah itu sendiri.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya