Learning Loss: Tantangan Berat Guru di Masa Pandemi

Pendidik
Learning Loss: Tantangan Berat Guru di Masa Pandemi 01/09/2021 66 view Pendidikan asliindonesia.net

Berdasarkan hasil observasi yang saya lakukan, selama kurang lebih tiga tahun menjadi guru (sebelum merebaknya pandemi Covid-19), ada fakta miris yang saya temukan. Di setiap angkatan siswa baru kelas VII di sekolah tempat saya bertugas, selalu saja ada, paling sedikit satu siswa yang masih belum fasih dalam hal membaca bahkan menulis.

Kondisi seperti ini memang jamak terjadi utamanya di sekolah-sekolah yang ada di pelosok. Buktinya, ketika saya berbagi cerita dengan rekan guru dari desa lain, saya menemukan situasi yang serupa. Saya menyimpulkan bahwa situasi dan kondisi cenderung demikian hampir di sebagian sekolah di pelosok desa.

Kesimpulan saya ini memang tidak dapat digeneralisasikan terhadap semua satuan pendidikan yang ada di Indonesia. Sebab capaian pendidikan antara siswa di desa dan di kota pun pada kenyataannya memang selalu berbeda. Ini dikarenakan pendidikan di kota melesat sangat cepat, namun di desa, maju dengan perlahan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani bahkan pernah berujar bahwa siswa pada jenjang SD kelas 3 di Jawa, bisa membaca 26 huruf lebih cepat per menit dibanding anak Papua, Nusa Tenggara, dan Maluku (News.Okezone.com). Apa yang disampaikan Sri Mulyani ini sedikit menemukan relevansinya.

Memang siswa dengan kondisi yang demikian jumlahnya tidak banyak jika disandingkan dengan jumlah siswa baru pada satu angkatan. Sekalipun dalam jumlah kecil, bias dari keterlambatan membaca dan menulis mempunyai implikasi kuat dalam keberlanjutan proses belajar mereka selama berada di satuan pendidikan.

Ambil contoh, bagaimana mungkin mereka dapat memahami operasi bilangan bulat yang materinya sedikit lebih rumit jika angka ratusan masih dibaca sebagai angka puluhan? Dengan kondisi siswa yang demikian maka jangan berharap untuk dapat menyajikan konten-konten pembelajaran di ruang kelas yang menuntun siswa untuk berada pada level berpikir kritis. Jika pun dilakukan, maka ibaratnya seperti mengenalkan ilmu kalkulus pada siswa SD kelas bawah.

Sebagai respon atas kondisi tersebut, sebagai guru mata pelajaran pun, terkadang saya merasa bimbang. Metode pembelajaran apa yang harus saya terapkan agar siswa dengan kondisi keterlambatan membaca dan menulis juga dapat mencapai tujuan pembelajaran bersama-sama dengan siswa lainnya. Jika saya harus kembali menjadi guru SD dengan fokus pada latihan membaca dan menulis, bagaimana dengan siswa saya yang lainnya?

Memang akan menjadi sebuah dilema, tetapi pada akhirnya dengan memberikan salinan materi untuk dicatat di rumah menjadi solusi akhir yang mau tidak mau harus saya pilih. Terpaksa metode konvensional tersebut saya lakukan karena keterbatasan waktu di sekolah.

Di situasi ini, lingkungan belajar di rumah memainkan perannya. Artinya ketika siswa dipaksakan untuk lulus ataupun naik kelas ke jenjang selanjutnya, sekalipun belum mahir membaca dan menulis, maka siswa tersebut wajib mendapatkan bimbingan tambahan dengan waktu belajar yang lebih lama.

Karenanya, peran lingkungan yang baik seperti kehadiran orang tua/wali murid menjadi begitu penting. Jika tidak, maka secara perlahan dapat dipastikan bahwa kelompok siswa tersebut akan sedikit mengalami learning loss (kehilangan pembelajaran) selama berada di satuan pendidikan. Learning loss pada situasi ini karena terlambat menyesuaikan pembelajaran dalam kelas.

Masalah Potensial

Di masa pandemi Covid-19, persoalan learning loss atau kehilangan pembelajaran juga merupakan salah satu masalah potensial yang dipastikan akan terjadi. Berbeda dengan kasus sebelum Covid-19 merebak. Learning loss di masa pandemi Covid-19 dapat terjadi disebabkan karena siswa yang sama sekali tidak dapat mengakses pembelajaran.

Keterbatasan infrastruktur pendukung Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) atau daring adalah letak masalah utamanya. Ya, memang negara kita terlampau luas. Anggaran Negara kita di bidang pendidikan pun terbatas sehingga tidak semua daerah dapat menjadi prioritas pembangunan secara bersamaan.

Namun, dengan kondisi wabah sekarang di mana belum juga menampakan tanda-tanda untuk berakhir, mentoleransi kondisi demikian juga sangat tidak bijak untuk mendongkrak kualitas pendidikan kita. Karenanya yang menjadi ketakutan saya dalam beberapa tahun ke depan adalah akan semakin banyak ditemukan kasus siswa yang pada jenjang menengah pun belum juga mahir dalam membaca atau pun menulis.

Apa yang saya takutkan rasanya memang terlalu dilebih-lebihkan. Tetapi pada kenyataannya, di masa wabah ini, tidak ada siswa yang tidak diluluskan. Siswa angkatan Covid-19 adalah siswa yang diharuskan lulus. Dengan pertimbangan masa wabah di mana kesehatan siswa adalah segala-galanya, capaian akademik siswa angkatan Covid-19 dibuat tanpa cacat sekalipun proses pembelajarannya banyak yang tersendat.

Dibayangkan saja selama masa pandemi ini, berapa banyak siswa SD kelas bawah yang sudah diluluskan atau dinaikan ke jenjang selanjutnya meskipun capaian akademik dasar seperti mahir membaca dan menulis diabaikan sebagai indikator kelulusan. Jika terjadi demikian, maka hasil observasi saya di awal tulisan ini bisa jadi dapat berubah. Bukan lagi minimal satu, bisa jadi sebagian.

Kalau terjadi demikian, maka sampai kapan pun kualitas pendidikan kita pun hanya begitu-begitu saja. Instrumen evaluasi secanggih apapun yang digunakan tetap tidak ada dampaknya. Sebab ini terkait proses bukan hasil akhir. Dan yang akan terjadi adalah guru akan kembali merasakan dilema memikirkan metode pembelajaran yang paling baik yang mampu meng-cover semua kekurangan dan kelebihan siswa di dalam kelas.

Tantangan Berat Guru

Dari gambaran masalah di atas, jika pandemi berakhir maka tantangan yang akan dihadapi guru akan semakin berat. Secara administrasi, tugas pokok dan fungsi guru memang tidak berubah. Tetapi masalah learning loss yang akan muncul di sekolah nantinya akan semakin kompleks.

Persoalan lain sepeti siswa yang kehilangan orang tua karena wabah ini juga akan turut mewarnai dunia pendidikan kita ke depannya. Ini akan berpengaruh terhadap lingkungan belajar mereka.

Jika selama pandemi, sudah tidak dapat mengakses pembelajaran dan ditambah lagi dengan kehilangan orang tua sebagai pengasuh utama, bisa dibayangkan bagaimana nasib anak tersebut nantinya. Karenanya, jika pandemi ini berakhir, maka guru di Indonesia harus disiapkan untuk menghadapi tantangan yang demikian.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya