Kurikulum Merdeka Minus Etika Perubahan Iklim?

Asesor SDM Aparatur Ditjen Pendidikan Islam Kemenag
Kurikulum Merdeka Minus Etika Perubahan Iklim? 23/07/2022 57 view Pendidikan kompas.com

Capain Pembelajaran Kurikulum Merdeka versi terbaru telah ditetapkan awal Juni ini. Hal demikian tertuang dalam Keputusan Kepala Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek Nomor 033/H/KR/2022 tentang Perubahan atas Keputusan Kepala BSKAP Kemendikbudristek Nomor 008/H/KR/2022 tentang Capain Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Kurikulum Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah pada Kurikulum Merdeka.

Sayangnya, perubahan iklim tidak menjadi entitas komprehensif dalam regulasi terbaru tersebut. Untuk semua mata pelajaran umum, perubahan iklim memang telah ditempatkan menjadi pokok bahasan yang memungkinkan para guru untuk menuangkannya dalam modul yang menjadi panduan pembelajaran sehari-hari. Namun demikian, konsep, pemahaman, dan materi tentang perubahan iklim sama sekali tidak ditemui dalam pembahasan pada semua mata pelajaran agama.

Peminggiran perubahan iklim dalam pembahasan Capaian Pendidikan Agama pada Kurikulum Merdeka, dengan sendirinya menunjukkan perangkat kurikulum pendidikan tidak memberi peluang pelibatan pertimbangan etika dan moralitas dalam pendidikan mengenai perubahan iklim. Etika dan moral sebagai nilai dan imbauan dasar dalam ajaran setiap agama tidak dianggap bagian penting kompetensi, pengetahuan, dan keterampilan siswa dalam memahami dan menghadapi problem perubahan iklim.

Lebih jauh, tiadanya pertimbangan etis dan moral tentang perubahan iklim dalam perangkat kurikulum berisiko menjadikan pemahaman tentang problem ekologi dan perubahan iklim menjadi nirmakna dan menulikan diri dari suara alam yang tengah sakit karena berbagai bencana akibat ulah manusia. Di titik ini keprihatinan warga dunia tercermin dari munculnya peristilahan ekosida dalam beberapa dekade terakhir.

Kontribusi Pendidikan Agama

Tidak adanya pembahasan mengenai perubahan iklim dalam capaian pembelajaran mata pelajaran pendidikan agama, patut disayangkan karena beberapa hal. Pertama, nilai agama adalah pondasi penting upaya pembangunan kesadaran umat beragama dalam pemahaman tentang perubahan iklim. Nilai ajaran Islam, misalnya, mampu memberi dasar yang kuat untuk pelestarian alam dan lingkungan serta mendorong umatnya untuk menjadi penjaga dan pengawalnya (Khalid, 2019; Abd-Matin, 2010). Ajaran dan pandangan yang senada, mudah didapatkan dalam agama besar lainnya.

Dengan semangat dan potensi penting peran agama dalam perubahan iklim, mengesampingkan basis pendidikan agama di dalamnya adalah langkah yang patut disayangkan dan perlu dikoreksi bersama.

Kedua, perubahan iklim telah menjadi perhatian penting secara global dengan menyertakan tekanan khusus pada etika dan moral. Hal ini terlihat dari berbagai laporan lembaga riset internasional, pelbagai konvensi warga dunia, dan utamanya pernyataan sikap dan imbauan lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Terbaru dan akan datang, Konferensi Tingkat Tinggi Kelompok Dua Puluh (G-20) di Bali menempatkan isu perubahan iklim sebagai salah satu bahasan dan topik utama, dengan anak muda diharapkan menjadi aktor sentral sekaligus memerankan diri selaku agen perubahan dalam kampanye dan tindakan nyata menghadapi perubahan iklim, kini dan seterusnya.

Beragam kesepakatan dan kesepahaman komunal tersebut eloknya menjadi spektrum dorongan etis untuk menjalankan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dalam jangka pendek dan panjang. Banyak ahli lingkungan dan perubahan iklim dengan lantang menyebut keterlambatan umat manusia dalam merespons perubahan iklim, dari akar masalah hingga dampak masifnya, di berbagai wilayah bumi. Namun banyak pula yang bersuara bahwa adaptasi dalam jangka panjang juga sangat dibutuhkan, di mana pendidikan dipandang berada di garis terdepan dan imbauan etis menjadi salah satu elemen substansialnya.

Ketiga, pendidikan agama adalah bekal penting bagi terbentuknya etika dan moral siswa dalam menjalani peran personal dan profesionalnya kelak. Dalam pemahaman ini, pendidikan agama bukan hanya dimaknai sebatas upaya hafalan nilai dan ajaran agama, namun lebih dari itu, pendidikan agama juga berupa aktualisasi dan simulasi proses kehidupan sesungguhnya dengan basis panduan nilai dasar agama.

Karakter pendidikan agama yang mengedepankan pentingnya budi pekerti dan akhlak mulia sangat berkaitan dengan urgensi adaptasi perubahan iklim yang menekankan urgensi perubahan gaya hidup boros sumber daya alam dan abai kerusakan masif yang diakibatkannya.

Keempat, pendidikan agama menempati posisi penting dalam rekognisi sosial. Dalam perspektif Budaya Timur, pendidikan agama mampu berperan penting sebagai penjaga dan penyeru kebaikan, nilai-nilai kewarganegaraan, penghargaan lingkungan, dan kemanusiaan.

Perspektif demikian setidaknya tercermin dalam buku Religious Education in Asia: Spiritual Diversity in Globalized Times (Kerry J Kennedy, et. al, 2022). Dalam buku ini Kennedy menilai, kawasan Asia telah mengembangkan kebijakan dan kebajikan bersama yang memungkinkan tumbuh kembangnya pendidikan agama dengan produktif. Kennedy melihat, pendidikan agama di seluruh kawasan Asia telah berkontribusi dalam berbagai upaya strategis, misalnya pembangunan karakter bangsa (Indonesia), dukungan kesadaran kewarganegaraan (China), kesalehan sosial (Thailand), kepemimpinan masa depan (Malaysia), dukungan terbentuknya nilai kewarganegaraan (Taiwan), dan pengaruh penting lainnya.

Gambaran peran pendidikan agama di kawasn Asia tersebut menegaskan sebuah benang merah, bahwa pendidikan agama telah berkontribusi terhadap pembangunan bangsa dan membentuk pengaruh regional dalam kehidupan dan pembangunan Asia. Dalam kualitas relasi keterhubungan seperti ini, perubahan iklim jelas berada di dalamnya, mengingat berbagai afirmasi masyarakat dunia yang terus menerus menempatkan perubahan iklim beserta dampaknya sebagai pokok keprihatinan dan kebijakan bersama.

Dengan beragam pertimbangan tersebut, regulasi capaian pembelajaran Kurikulum Merdeka untuk mata palajaran pendidikan agama, yang saat ini belum menyertakan pembahasan perubahan iklim sama sekali, perlu dikoreksi dan diperiksa ulang. Evaluasi terhadap regulasi tersebut diperlukan untuk menempatkan pemahaman dan pengetahuan tentang perubahan iklim menjadi bagian dari elemen esensial pendidikan agama dalam Kurikulum Merdeka.

Basis pandangan etis dan moral pendidikan agama, selain pemahaman perubahan iklim secara saintifik dalam mata pelajaran umum, akan membekali para peserta didik dengan kesadaran terhadap fenomena perubahan iklim dan pengelolaan lingkungan hidup dengan pertimbangan ajaran dan nilai agama. Pola pendidikan agama yang menekankan pemahaman, suri teladan, dan internalisasi praktik dalam kehidupan sehari-hari sangat berpeluang mewarnai moralitas dan gaya hidup generasi mendatang dalam menyikapi perubahan iklim.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya