Konten Vulgar di Tik Tok : Tidak Perlu Sampai Diblokir

Mahasiswa
Konten Vulgar di Tik Tok : Tidak Perlu Sampai Diblokir 19/04/2022 68 view Pendidikan pixabay

Membahas tentang media sosial, tentunya tidak akan lepas dari yang namanya Tik Tok. Platform media sosial satu ini sempat menjadi kontroversi, dan dianggap sebagai media orang-orang alay, serta memuat banyak konten negatif. Kementerian Komunikasi dan Informatika bahkan sempat memblokir platform ini selama satu minggu pada pertengahan 2018 lalu, akibat banyaknya laporan negatif yang masuk.

Dalam gempuran pandemi, anggapan tersebut mulai runtuh. Orang-orang yang suntuk dan bosan mulai mencari-cari bahan hiburan, yang mana hanya bisa didapat dari dunia maya. Tik Tok malah berbalik menjadi salah satu platform hiburan serta media pembelajaran yang massif digunakan masyarakat.

Meningkat tajamnya popularitas Tik Tok tidak kemudian menjadikan kontroversi seputaran media ini menjadi hilang begitu saja. Justru semakin banyak penggunanya, semakin banyak pula variasi konten-konten yang diupload.

Tik Tok menyediakan wadah bagi penggunanya dari berbagai kalangan untuk bisa mengekspresikan diri serta saling menyebarkan informasi. Banyaknya pengguna memungkinkan orang untuk lebih mudah terhubung secara luas, sehingga memudahkan tersebarnya informasi maupun isu serta kasus-kasus yang tidak tertangkap lensa media mainstream. Selain sebagai media sosial, Tik Tok juga berperan besar sebagai media penumbuh ekonomi bagi masyarakat yang sampai kini masih banyak terjebak dalam krisis pandemi.

Konten-konten positif dan kreatif yang semakin marak beredar, menaikan popularitas beberapa nama di sana sini. Impian banyak orang menjadi bintang, menemukan jalannya yang mudah lewat Tik Tok, yang mana kemudian mendorong lebih banyak orang lain untuk ikut serta dalam euphoria ini. Orang-orang kini terdorong untuk viral dan terkenal.

Alfath Megawati, psikolog klinis dari Tiga Generasi mengatakan, salah satu motif yang mendasari keinginan seseorang untuk viral, adalah keinginan untuk dilihat dan diakui kehebatannya. Alfath mengatakan bahwa ini sudah menjadi sifat dasar manusia yang senang jika dirinya menoreh apresiasi.

Rollo May, mengembangkan pemahaman manusia yang didasarkan pada eksistensialisme, yaitu keinginan untuk menampakkan dirinya. Dengan kata lain, pada dasarnya manusia memang selalu ingin untuk diakui eksistensinya. Dengan adanya teknologi maju saat ini, keinginan dasar manusia itu bisa semakin diekspresikan.

Di antara banyaknya orang yang mencari popularitas media lewat karya serta bakat mereka, tersebar juga mereka yang memilih jalan pintas. Dengan berpegang pada harapan ‘viral’ orang rela melakukan apa saja, sekalipun hal tersebut membahayakan nyawanya ataupun menjatuhkan harga dirinya sendiri.

Sayangnya tidak ada pemberian pembatasan yang jelas pada video-video yang bisa diupload di Tik Tok. Selain itu, alogaritma yang tidak jelas membuat hampir semua konten video akan ditampilkan di beranda, sekalipun kita tidak pernah mengaksesnya. Akibatnya hampir semua video bebas disebarkan dan ditonton di Tik Tok tanpa batasan umur. Alhasil, tidak mengherankan bila kemudian banyak konten-konten vulgar dan tidak pantas yang tersebar di Tik Tok. Hal ini tentunya akan memberi dampak negatif pada pengguna yang masih di bawah umur.

Maka wajar saja bila beberapa orang sampai saat ini masih menentang Tik Tok, terlepas dari sisi positif yang diberikan platform tersebut. Seperti salah satu tulisan bapak Waode Nurmuhaemin,M.Ed. Menurutnya, konten-konten vulgar yang tersebar bebas di Tik Tok bisa merusak moral anak muda. Konsep pengguna yang harus bertanggung jawab juga tidak bisa diterapkan pada Tik Tok, mengingat sekali lagi batasan dan alogaritmanya yang masih belum jelas. Pada akhirnya, platform Tik Tok seharusnya diblokir oleh pemerintah.

Tik Tok sama halnya dengan media sosial lainnya, memiliki sisi positif serta negatifnya. Hanya karena media satu ini sedang dalam puncak popularitasnya, maka lebih banyak disorot. Jika mau melihat lebih jauh, media sosial lainnya seperti twitter, juga memuat banyak konten-konten yang lebih vulgar dan bisa diakses dengan mudah. Maka seharusnya bila ingin diblokir, blokir juga media-media lainnya yang memuat konten vulgar dengan bebas.

Bisa jadi permasalahannya terletak pada pengguna Tik Tok yang tersebar dari semua kalangan, sampai anak-anak juga banyak mengaksesnya. Namun perlu diingat juga, generasi sekarang merupakan generasi digital yang lahir di tengah-tengah derasnya arus digitalisasi. Mereka merupakan digital native yang secara alami lebih cepat menyerap cara penggunaan teknologi. Tidak menutup kemungkinan anak-anak digital native dengan rasa ingin tahu yang masih tinggi, mengakses media-media lainnya yang sebenarnya hanya diperuntukan bagi orang dewasa. Bila sudah demikian, maka pemblokiran salah satu platform tidak memiliki arti lagi.

Daripada memblokir Tik Tok, lebih baik bila pemerintah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk memperbaiki regulasi penggunaan media Tik Tok. Dengan regulai yang lebih jelas, orang lebih bisa mengontrol penggunaan Tik Tok, khususnya pada anak-anak.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya