Konten Komunikasi Buruk Merusak Karakter

Konten Komunikasi Buruk Merusak Karakter 12/06/2021 84 view Agama vecteezy.com

Rasul Paulus, salah satu rasul yang menyebarkan kekristenan sampai ke Asia dan Eropa melalui perjalanannya mewarisi banyak harta karun pengajaran yang amat relevan ketika digali untuk keperluan zaman modern ini.

Pada perjalanan misinya yang kedua sekitar tahun 49-52 Masehi, Paulus sempat tinggal di kota yang bernama Korintus selama 18 bulan dengan hidup sebagai pembuat tenda serta mengajar firman Allah kepada masyarakat kota yang adalah salah satu kota Polis Yunani.

Ketika Paulus sudah meninggalkan Korintus, ia banyak mendengar dari keluarga Kloe bahwa jemaat di sana mendapatkan berbagai macam masalah dan tantangan yang cukup mengkhawatirkan terutama soal dasar-dasar iman Kristen, sehingga Paulus merasa perlu untuk menjelaskan dan menasehati jemaat mereka soal dasar-dasar iman Kristen tersebut.

Salah satu soal yang dibahas panjang lebar adalah soal Kebangkitan orang mati, sebab ada ajaran yang berkembang pada masa itu bahwa tidak ada kebangkitan orang mati dan hal ini membawa perpecahan di kalangan orang Kristen setempat.

Jadi, bilamana kami beritakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. Lebih dari pada itu kami ternyata berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan, bahwa Ia telah membangkitkan Kristus -padahal Ia tidak membangkitkan-Nya, kalau andaikata benar, bahwa orang mati tidak dibangkitkan. Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Dan jika Kristus tidak dibangkitkan , maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus. Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia. Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. (Surat Rasul Paulus Kepada Jemaat di Korintus Pasal 15:1-20)

Pandangan Yunani tentang kebangkitan orang mati sangat dipengaruhi oleh ajaran Filsuf-filsuf yang berkembang pesat pada masa itu. Mereka percaya pada dualistis tubuh dan jiwa. Jiwa dinilai lebih tinggi daripada tubuh, sehingga tubuh tidak dianggap terlalu penting. Pikiran dan ide soal tubuh yang akan dibangkitkan sangat terdengar asing di kepala orang Yunani. Hal inilah yang menyebabkan pertentangan serius antara kepercayaan Kristen dan Yunani pada zaman Rasul Paulus tersebut.

Paulus dengan tegas dan keras menyatakan inti doktrin Kristen adalah Yesus Kristus telah mati dan telah bangkit pada hari yang ketiga. Sebab kalau andaikata Kristus tidak dibangkitkan maka sia-sialah seluruh iman Kristen dan tidak ada gunanya seseorang seperti Paulus bersusah-susah bersaksi tentang iman yang diyakininya.

Paulus pada suratnya kepada jemaat di Korintus sempat menuliskan satu pernyataan yang luar biasa yaitu” pergaulan yang buruk merusak kebiasaan baik”. Kata pergaulan dalam bahasa aslinya yaitu Yunani dapat berarti komunikasi. Jadi, komunikasi atau pertukaran informasi yang sesat atau mengandung kebohongan dapat merusak karakter, etos dan kebiasaan baik.

Tampaknya pada masa zaman secanggih sekarang, hal ini masih amat relevan mengingat sangat banyaknya berita bohong baik itu yang disebarkan secara sengaja maupun tidak sengaja yang berkembang di masyarakat.

Kembali lagi kepada jemaat Korintus yang sepertinya banyak terhasut berita-berita dan ajaran sesat yang berkembang pada waktu itu menjadi korban dari sebuah pergaulan/komunikasi yang jahat dan sesat. Rasul Paulus mengingatkan cara menyanggah yaitu dengan memperkuat komunikasi dan hubungan yang baik dengan orang-orang Kristen lainnya serta kembali sadar serta mereview ajaran yang telah dibangun oleh Kristus dan para rasul terdahulu.

Kesesatan secara rohani dapat berawal dari pilihan komunitas yang salah dan komunikasi yang paling salah adalah karena isi komunikasinya adalah kebohongan. Kemudian indikator terbaik untuk mengetahui apakah keimanan kita mengalami kesesatan adalah dengan melihat apakah karakter atau etos ibadah kita mengalami stagnasi atau penurunan. Kalau secara substansi masih menjalankan ibadah tetapi secara kualitas kita sebetulnya semakin rusak maka sangat penting kita memulai suatu check-up rohani.

Konten komunikasi harus mengalami penyaringan oleh doktrin yang sehat. Itulah sebabnya pentingnya sebuah pengajaran yang sehat dan sistematis.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya