Kode Merah Krisis Perubahan Iklim

Asesor SDM Aparatur Ditjen Pendidikan Islam Kemenag
Kode Merah Krisis Perubahan Iklim 19/08/2021 1027 view Lainnya news9live.com

Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) merilis laporan Climate Change 2021: The Physical Science Basis (09/08/2021). Laporan ini adalah sebuah asesmen mendalam mengenai perubahan iklim dalam tiga tahun terakhir berdasar 14.000 studi saintifik oleh 234 pengamat dari 66 negara. Mengomentari hasil laporan IPCC seraya menimbang gagalnya capaian kesepakan global dan risiko ke depannya, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebutnya sebagai “kode merah kemanusiaan”.

Guterres layak cemas dan publik dunia patut mengamini. Pasalnya, publikasi IPCC yang telah disetujui oleh 195 negara tersebut memiliki beberapa garis besar materi laporan yang mengkhawatirkan. Pertama, temperatur bumi diperkirakan akan naik 1,5 kali pada dua dekade mendatang. Kedua, permukaan laut naik rata-rata 20 cm. Ketiga, gelombang panas dan hujan besar telah memengaruhi 90 persen wilayah bumi dan akan lebih lebih sering melanda kawasan Asia. Keempat, Samudera Hindia memanas lebih cepat dari rerata global. Dan kelima, perubahan iklim sepenuhnya karena tindakan dan perilaku manusia.

Dalam laporan ekstensifnya, IPCC menyebutkan bahwa sejak 1975 bumi telah kehilangan 40 persen kandungan es Antartika, konsentrasi karbon dioksida kini yang merupakan tertinggi dalam sejarah bumi, dan temperatur bumi yang menjadi 1.09 derajat celsius lebih tinggi dari rata-rata suhu sejak era praindustri. Hal ini akan menyebabkan kondisi akumulatif yang mendorong terjadinya gelombang panas, kekeringan, siklon, dan hujan besar yang akan sering terjadi.

Dalam ingatan 30-40 hari ke belakang, perubahan iklim dengan gelombang panas telah menghantam kawasan Amerika Utara (menewaskan setidaknya 200 orang) dan British Columbia di Kanada (setidaknya 233 korban nyawa). Selain itu, perubahan iklim juga telah dan sedang menyebabkan kebakaran hebat di Australia, Yunani, Turki, dan Siberia, serta bencana banjir di berbagai kawasan Eropa. Di Indonesia sendiri, beberapa jenis bibit siklon relatif baru telah diidentifikasi dengan perkiraan dampak yang cukup mengkhawatirkan.

Krisis dan Kegagalan Global

Kode merah kemanusiaan tersebut juga menjadi penanda sekitar tiga dekade kegagalan para pemimpin dunia untuk menjalankan berbagai kesepakatan global mengenai lingkungan dan perubahan iklim. Seringkali, publik mendengar betapa hasil KTT Bumi di Rio de Janeiro tahun 1992, Protokol Kyoto tahun 1997, dan Paris Agreement tahun 2015 menjadi bidak catur dan permainan barter politik ekonomi para pemimpin dunia.

Publik dunia diliputi sinisme perdagangan dan konsesi karbon atas operasi korporasi besar yang disinyalir penuh pat gulipat dan korupsi. Publik dunia juga masih merekam dengan baik bagaimana kepatuhan terhadap Protokol Kyoto dan Paris Agreement kerap menjadi ajang saling gertak negara adi daya dengan sandera dan jualan pengaruh kekuatan ekonomi dan politik yang begitu kuat serta kerap berjalan semaunya.

Di tengah keputusasaan seperti itu, isu perubahan iklim sering menjadi asesoris dan wacana dengan kadar kegenitan yang meresahkan pada panggung para politisi dan para pemimpin pemerintahan. Tidak mengherankan jika isu perubahan iklim kerap menjadi catatan kaki pada setiap konferensi global dan selalu hadir sebagai cameo speech dalam panggung kampanye para pemimpin dunia. Ironisnya, sering kali pemberitaaan perubahan iklim berada dan menghiasi bagian dalam halaman media, diapit kabar selebritas dan tren fesyen.

Akibatnya, perubahan iklim juga tak ubahnya sebutan sambil lalu (passing mention). Padahal, perubahan iklim akan melanda siapapun tanpa memandang status sosial dan latar belakang ras atau daerah tertentu.

Lebih dari itu, dampak perubahan iklim tidak pernah menunggu kesiapan dan diplomasi manusia, serta perangkat rumitnya politik lingkungan negara-negara industri. Telah lama para ahli iklim dan lingkungan mengkhawatirkan temuan besar mengenai kondisi mencairnya gletser di Greenland dan Antartika yang terjadi lebih cepat dari prediksi. Mencairnya es di kedua tempat tersebut memerlukan ribuan hingga jutaan tahun bagi bumi untuk membuatnya kembali membeku.

Perubahan iklim tersebut akan memicu beragam bencana alam seperti banjir dan siklon yang tak terduga dan tak terprediksi sebelumnya. Beragam bencana alam sebagai dampak perubahan iklim adalah harga yang harus dibayar atas sikap acuh terhadap peringatan para saintis lingkungan dan iklim selama ini.

Langkah Nyata Bersama

Laporan IPCC dan keresahan yang muncul dalam refleksi kode merah kemanusiaan menjadi data dan semangat penting Konferensi Perubahan Iklim yang akan diselenggarakan di Glasgow, Skotlandia, November mendatang. Semangat global tetap diperlukan sebagai bagian instrospeksi dan restrospeksi bersama atas capaian dan kendala dalam merespons perubahan iklim dengan segala dampaknya.

Dalam upaya tersebut, meskipun berupa himbauan berulang, pentingnya upaya mengurangi emisi gas rumah kaca tetap menjadi pilihan utama. Pengurangan emisi ini menjadi strategis dalam konteks memberi ruang fluks energi dan mengurangi beban energi atmosfer dalam meredam panas bumi. Dalam kaitan ini, setidaknya terdapat dua hal penting.

Pertama, perlunya upaya konstruktif dan komprehensif untuk mewujudkan dekarbonisasi sektor primer dengan ratifikasi berbagai regulasi terkait pada tataran global maupun internal negara-negara penghasil emisi gas. Terkait tataran regulatif ini, Indonesia telah memiliki beragam regulasi mengenai penghitungan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dalam bidang pertanian, industri, dan limbah.

Kedua, perubahan gaya hidup, kebiasaan, dan kurikulum pendidikan mengenai perubahan iklim. Perubahan gaya hidup terkait dengan budaya dan pemanfaatan teknologi yang melengkapi kebutuhan manusia. Pendidikan seyogianya mampu menghasilkan generasi yang melek dan sadar perubahan iklim karena generasi mendatang akan menghadapi berbagai tantangan dan akumulasi dampak perubahan iklim kemarin dan kini.

Gaya hidup dan kebiasaan berkorelasi erat dengan proses dan budaya disiplin diri. Dalam kaitan ini, pendidikan berada di garis terdepan untuk ikut mewarnai dan mengisi gaya dan pola hidup generasi mendatang dalam berinteraksi dengan alam dan lingkungan. Pendidikan harus mampu menjadi corong utama nilai dan kebajikan untuk merespon perubahan iklim yang makin nyata dan kecemasan mengenai kode merah kedaruratan perubahan iklim.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya