Kesenjangan Kesejahteraan Guru

Kesenjangan Kesejahteraan Guru 12/09/2021 37 view Pendidikan klikbmr.com

Setelah beberapa waktu yang lalu ramai pemberitaan tentang kasus Guru TK yang terjerat pinjaman online demi menempuh pendidikan strata satu, kali ini kasus serupa juga kembali terjadi pada dua guru di Salatiga Jawa Tengah dan sukabumi Jawa Barat. Kedua guru tersebut selain mendapat teror juga mendapat ancaman penyebaran foto bugil hasil editan.

Sebagai sesama guru, saya tentu merasakan apa yang dirasakan oleh para guru tersebut. Jangankan untuk membayar kuliah, untuk makan sehari-hari saja, gaji dari menjadi seorang guru masih sangat kurang dan harus memperoleh pendapatan dengan pekerjaan sampingan atau cara lain.

Seperti Impian Nopitasari dalam tulisannya “sambat-sambat sarjana pendidikan” di detik.com beberapa waktu lalu yang bercerita jika temannya yang merupakan seorang guru honorer belum menerima gaji selama enam bulan. Sehingga, makan sehari-harinya juga sangat irit sampai harus memetik daun-daunan yang bisa dimakan di lahannya. Saya jadi teringat jika banyak teman saya yang berprofesi guru juga mengalami hal yang sama.

Bedanya, teman-teman saya tinggalnya di perkotaan yang padat penduduk. Sehingga, tidak ada lahan untuk bisa menanam tanaman yang bisa dikonsumsi. Di luar jam sekolah, banyak teman saya yang berubah profesi dari seorang guru menjadi tukang tambal ban, tukang ojek, pengumpul barang bekas/rosokan, pengusaha kios bensin, satpam, kurir, pelayan di food court, dan ada juga yang membuka usaha seperti berjualan donat maupun toko klontong. Saya bersama istri yang juga seorang guru menyambi berjualan nasi kotak yang dipasarkan secara online untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.

Kegiatan di luar sekolah itu, secara tidak langsung akan membawa pengaruh kepada kualitas mengajar seorang guru di dalam kelas. Sebagai contoh, teman saya seorang guru yang juga bekerja sebagai pramusaji di sebuah food court. Jam kerja di sekolah dimulai dari pukul 07.00 sampai dengan pukul 15.00, kemudian dilanjutkan dengan bekerja di food court mulai dari pukul 16.00 sampai dengan pukul 23.00, begitu seterusnya setiap hari. Tentu waktu istirahat yang sangat minim itu akan memengaruhi kebugaran maupun persiapan guru dalam mengajar keesokan harinya di sekolah.

Saya juga sempat mengalami tidak fokus ketika melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas. Hal ini disebabkan minim persiapan dan lebih banyak pada kegiatan promosi dan membantu memasak untuk pesanan nasi kotak di usaha kecil saya. Sementara, di kelas malah sering membicarakan digital marketing seperti algoritma di Instagram, Facebook, Website dan sejenisnya. Terkadang juga lebih banyak memotivasi anak-anak untuk berwirausaha dari pada fokus pada tujuan pembelajaran yang seharusnya dicapai pada mata pelajaran saat itu.

Memang tidak semua guru bernasib sama seperti itu. Banyak juga guru yang secara ekonomi sangat mapan. Guru yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan bersertifikat pendidik, tentu gaji dan tunjangan profesi pendidik yang diperoleh sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Selain itu guru yang berstatus PNS juga masih mendapatkan tunjangan gaji ke-13 dan 14. Bahkan guru-guru seperti ini tak jarang ketika berangkat ke sekolah sudah mengendarai mobil yang menurut saya sangat istimewa. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan guru honorer maupun guru yayasan di sekolah swasta.

Jangankan mendapatkan tunjangan seperti gaji ke-13, gaji pokok yang diperoleh dari menjadi seorang guru honorer maupun guru yayasan kebanyakan masih sangat jauh dari upah minimum kabupaten/kota setempat. Padahal beban tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang guru juga sama dengan guru yang berstatus PNS.

Permasalahan ini sebenarnya sudah sangat lama, akan tetapi sampai sekarang belum juga menemukan titik solusi. Gagasan pengangkatan guru PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian kerja) sebenarnya menjadi solusi baik. Meskipun demikian, realitanya juga masih sangat rumit untuk dapat mendaftar menjadi guru tersebut.

Kondisi guru merupakan cerminan bagaimana kualitas pendidikan nasional. Jangan berbicara kurikulum, perangkat pembelajaran, maupun evaluasi pembelajaran yang ideal sebelum menyelesaikan masalah kesenjangan kesejahteraan guru. Pertama, perbedaan status guru tentu menyebabkan kecemburuan sosial di kalangan para guru yang pada akhirnya memengaruhi semangat kerja para guru. Kedua, fokus guru dalam mendidik di sekolah akan terpecah jika masalah kesejahteraan masih sangat timpang karena guru akan disibukkan dengan fokus kerja yang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya