Keseksian Komodo dan Pembangunan Berkelanjutan

Mahasiswa
Keseksian Komodo dan Pembangunan Berkelanjutan 24/10/2020 854 view Politik Berita PUPR, 20/07/2020

Jika investasi adalah indikator keseksian, maka benarlah komodo jauh lebih seksi dari Luna Maya. Komodo menjanjikan masa depan yang lebih nyata dan massal bagi pembangunan nasional. Komodo adalah gambaran sempurna tentang 'seksi' di mata investasi.

Dalam rilis dari kementrian PU beberapa waktu lalu disebutkan bahwa ada 10 KSPN (Kawasan Strategis Pembangunan Nasional) yang menjadi prioritas pemerintah. Dari 10 KSPN Prioritas, pemerintah memilih lima yang menjadi KSPN Super Prioritas yakni Danau Toba, Borobudur, Manado-Likupang-Bitung, Mandalika, dan Labuan Bajo. Sehubungan dengan hal itu, Kepala BPIW (Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah) Hadi Sucahyono menyatakan Kementerian PUPR menugaskan BPIW untuk membuat perencanaan secara terpadu melalui Rencana Induk Pariwisata Terpadu (RIPT) atau Integrated Tourism Master Plan (ITMP).

Banyak investor raksasa yang kemudian tertarik dengan proyek ini. Tidak lama setalah rilis itu dikeluarkan Kemen PU, Australia segera menyiapkan dana kurang-lebih sebesar US 1 miliar untuk pengembangan destinasi pariwisata di Labuan Bajo, Manggarai Barat. Menurut Ketua Tim Percepatan 10 Destinasi Prioritas Kementerian Pariwisata Hiramsyah S. Thaib, ketertarikan Australia untuk menanamkan modalnya di Labuan Bajo cukup beralasan. Selain memiliki potensi alam yang indah, jarak antara NTT dengan Australia pun dapat ditempuh 2,5 jam dengan kapal pesiar.

Proyek Geopark Pulau Rinca

Proyek geopark yang dinamakan jurrasic park pada Pulau Rinca ini telah menuai banyak kontroversi. Muncul pro/kontra dimana-mana. Dipihak pemerintah (pro), dalilnya jelas. Pengembangan parwisata serta mempromosikan kesejahteran ekonomi masyarakat di sekitar kawasan dengan mengembangkan potensi secara berkelanjutan. Setidaknya demikian yang diterangkan menteri PUPR Basuki Hadimuljono, pada Kompas.com (16/09/2020).

Sementara itu di pihak kontra, banyak argumen yang muncul sebagai antithesis dari tujuan pemerintah mengadakan proyek raksasa tersebut. Pembelaan terhadap alam, etika-etika pembangunan, perlawanan terhadap pembangunan sumur bor, dan sebagainya menjadi alasan mengapa kemudian proyek geopark tersebut menghasilkan penolakan keras dari berbagai elemen masyarakat.

Bila mengacu pada SK Menteri Kehutanan Nomor 306 Tahun 1992 tentang Pembentukan Taman Nasional Komodo (TNK), dijelaskan bahwa TNK adalah kawasan konservasi alami yang utuh dari satwa Komodo dan ekosistem lainnya, baik di darat maupun di udara. Peraturan ini mengindikasikan pengutamaan keutuhan ekosistem di TNK. Dengan kata lain, segala hal yang berpotensi mengganggu keutuhan ekosistem TNK berarti melanggar peraturan ini.

Dengan adanya pembangunan geopark ini, hampir pasti ada elemen ekosistem yang rusak atau terganggu. Pembangunan sendiri mengindikasikan bagaimana ekosistem alami dikawinkan dengan konsep kemudahan dan kesejahteraan manusia. Khusus bagi pembangunan infrastruktur pariwisata seperti ini, pembangunan ruang baru bagi kemudahan akses pariwisata tentunya merubah wajah ekosistem.

Ekosistem yang dikenai pembangunan cepat atau lambat akan mengalami perubahan. Pembelaannya sederhana. Segala elemen dalam ekosistem itu saling berkaitan. Jika satu saja elemen yang dipengaruhi (dirusaki), maka akan berpengaruh bagi elemen lain. Sebut saja pengadaan sumur bor. Pengambilan sumber air pada satu titik seyogyanya akan mengurangi debit air pada titik lain. Apalagi mengingat 70% Pulau Rinca adalah daerah padang savanna yang relatif tidak menyimpan begitu banyak cadangan air.

Dalam Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.66/Dep.Keh/1965, disebutkan bahwa pada tahun 1980 sebelum menjadi taman nasional, suaka marga satwa ini (Komodo) didirikan untuk melindungi komodo dan habitatnya. Di sana terdapat 277 spesies hewan yang merupakan perpaduan hewan yang berasal dari Asia dan Australia, yang terdiri dari 32 spesies mamalia, 128 spesies burung, dan 37 spesies reptilia. Bersama dengan komodo, setidaknya 25 spesies hewan darat dan burung termasuk hewan yang dilindungi, karena jumlahnya yang terbatas atau terbatasnya penyebaran mereka.

Tujuan utama dibuatnya Taman Nasional Komodo sebenarnya untuk melindungi komodo dan habitatnya. Promo pariwisata kemudian hanya muncul akibat embel-embel devisa dan investasi. Komodo dan masa depannya kian seksi. Pulau Rinca dalam hal ini menjadi incaran banyak pihak, baik para investor ataupun para pelaku tender. Banyak usul kebaruan dengan kedok kemudahan dan pariwisata yang profitabel digunakan untuk merealisasikan proyek-proyek pembangunan.

Pembangunan Berkelanjutan?

Istilah (kedok) pembangunan berkelanjutan pada kondisi dan sudut pandang tertentu mendatangkan pertanyaan yang mengiang pada pikiran publik. Pembangunan seperti apa yang selanjutnya akan dijalankan oleh pemerintah pada Taman Nasional Komodo? Munculnya pertanyaan seperti ini seyogyanya sangat kondusif. Proyek geopark sebenarnya ada karena tuntutan pariwisata dan potensi investasi. Dalam hal ini, jika tuntutan pariwisata dan potensi investasi semakin berkembang, maka pembenahan (istilah lain dari pembangunan) akan terus dilakukan. Dengan kata lain, melalui logika pembangunan berkelanjutan, maka bukan tidak mungkin pembangunan geopark adalah gerbang bagi pembangunan-pembangunan raksasa berikutnya.

Walaupun proyek geopark ini sebenarnya merupakan proyek yang benar-benar memperhatikan kelestarian lingkungan, hemat saya pembangunan yang demikian pasti akan tetap mengganggu keseimbangan ekosistem. Pembangunan pada ekosistem alami seperti geopark sangatlah mustahil untuk tidak mengubah wajah ekosistem, baik secara penampilan ataupun secara esensial. Dapat dilihat banyaknya spesies hewan langka lain yang ada di daerah Pulau Rinca (TNK). Pembelaan promosi pariwisata komodo dan kesejahteraan masyarakat kawasan TNK tidaklah begitu esensial dibanding kelestarian ekosistem besar kawasan itu.

Terkait esensi dan hasil yang ingin dicapai pembangunan ini, ada beberapa bahasan mendasar yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah dan juga masyarakat, antara lain; bila kemudahan pariwisata menjadi pertimbangan utama pembangunan geopark ini, maka agaknya pengorbanan yang diberikan terlampau besar. Pemerintah ingin agar turisme dijalankan dalam ‘kemudahan’ namun dengan merubah wajah ekosistem, dan bukan tidak mungkin masa depan komodo.

Disatu sisi, kemudahan pariwisata ini mengurangi sensasi menikmati Komodo dan kehidupan liarnya. Komodo menjadi semacam property kebun binatang dengan geopark sebagai kebunnya dan dengan rancangan yang menyatu dengan alam sebagai kedoknya. Tidak berlebihan jika dikatakan geopark akan mengkikis keseksian komodo. Kehadiran turisme dengan segala perangkat kemudahannya menjadikan komodo binatang pameran. Dapat saja Pulau Rinca dianalogikan sebagai stadion sepak bola. Komodo dapat diberi bola karet untuk bermain, dan para turis akan bersorak dari bangunan geopark (tribun penonton).

Pertanyaan lain yang timbul setelah pembangunan ini selesai adalah mengenai keberadaan pelaku wisata lokal. Perubahan pada wajah fisik pariwisata dalam kondisi tertentu berarti perubahan pada sistem pariwisata. Alur tour guide yang sebelumnya sudah dijalani oleh para pelaku wisata tentunya akan berubah karena kahadiran geopark ini. Belum lagi dengan aturan-aturan baru, sebut saja retribusi dan sebagainya yang akan semakin kompleks.

Sejauh ini belum ada kejelasan tentang nasib para pelaku wisata lokal. Wajar saja banyak dari kalangan mereka yang ikut memprotes proyek raksasa geopark itu. Banyak dari mereka berpendapat bahwa projek geopark itu hanya mangakomodasi kepentingan investor tanpa mempertimbangkan detail nasib dari industri (pelaku) pariwisata lokal.

Ada beberapa kesimpulan yang dapat ditarik dari wacana besar pembangunan geopark ini, antara lain; jika memang proyek geopark adalah proyek yang ramah lingkungan, maka masyarakat seharusnya sudah tahu dengan baik. Komunikasi yang dilakukan oleh pemerintah kepada masyarakat kawasan TNK ataupun para pelaku wisata, serta pihak lain yang melayangkan protes terhadap proyek geopark rupaya kurang efektif.

Publikasi kaget dari masterplan/rancangan proyek ini sontak membuat masyarakat dan pihak-pihak berkepentingan kaget dengan hal ini. Walaupun sebenarnya rencana pembangunan sudah ada sejak lama, masyarakat dan para pelaku wisata seharusnya diberi sosialisasi terlebih dahulu. Pandangan-pandangan negatif dari masyarakat adalah hal yang sangat wajar, karena ini terkait dengan ‘merubah alam Pulau Rinca serta wajah pariwisata di daerah Taman Nasional Komodo. Publikasi/komunikasi yang lebih detail baik dari segi arsiteksur, ekosistem (flora/fauna, air, dan sebagainya), warga sekitar, dan segala macam diskursus lainnya terkait pembangunan ini mestinya dikomunikasikan dengan jelas oleh pemerintah.

Komunikasi yang jelas dan efektif terkait rencana pembangunan geopark ini akan mencegah masalah-masalah mispersepsi tentang penggunaan dan kebijakan turunan setelah pembangunan geopark ini mulai selesai dirampungkan. Masyarakat termasuk para pelaku wisata akan punya dalil kuat untuk menolak kebijakan pemerintah, karena segala diskursus mengenai pembangunan geopark ini sudah dikomunikasikan dengan jelas oleh pemerintah. Sebaliknya pemerintah juga akan memiliki patokan untuk menjalankan pariwisata berbasis geopark sehingga bisa mempertanggungjawabkannya kepada masyarakat.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya