Kesadaran Berlaku Kasih Sayang; Deradikalisasi Agama Perspektif Usul FIkih

Mahasantri Mahad Aly Salafiyah Syafi'iyyah Situbondo
Kesadaran Berlaku Kasih Sayang; Deradikalisasi Agama Perspektif Usul FIkih 05/03/2021 86 view Agama pixabay.com

Agama dirisalahkan oleh Tuhan melalui seorang utusan dengan cara kasih sayang. Saat ini, banyak yang mengaku paham agama tapi membungkus agama dengan kekerasan. Sama saja dengan seorang lelaki mengaku cinta pada gadis lalu menyuguhkan perilaku bengis sebagai wujud cintanya pada gadis itu.

Alasan mereka melakukan tindak kekerasan atas nama agama, semata demi ajaran agama dilaksanakan. Tentu lebih krusial (dibandingkan alasan mereka) alasan utusan Tuhan dalam berdakwah yakni, demi agama diyakini. Dan perlu dipahami, agar agama diyakini tidak pernah para utusan tuhan berbuat kekerasan.

Tuhan tidak ingin agama diyakini karena ketakutan dan atau keterpaksaan. Bayangkan apa yang terjadi jika yang diutus Tuhan menyampaikan risalah adalah malaikat pencabut nyawa; setiap dijumpai orang enggan beriman maka nyawanya akan melayang. Seandainya itu benar terjadi, niscaya agama diyakini sebab ketakutan bukan sebab pilihan nurani.

Sekian kali dalam sejarah, malaikat menawarkan diri pada rasul SAW untuk meluluhlantahkan kaum yang enggan beriman, namun rasul SAW tidak pernah menerima tawaran itu. Rasul SAW tidak pernah berdoa kepada Tuhan agar kaum musyrik dibinasakan sebab keengganan mereka untuk beriman. Ini semua terjadi karena kesadaran rasul SAW bahwa tidak baik jika agama diyakini atas dasar ketakutan atau keterpaksaan.

Sehubung ruh agama adalah kasih sayang, yakini saja mereka yang melakukan tindak kekerasan atas nama agama tidak direstui oleh agama; oleh apa yang diatas-namakan mereka. Mereka salah? Tentu saja. Haruskah menghentikan kesalahan mereka? Jika iya, siapa yang bisa menghentikan mereka dan dengan cara apa?

Mereka sebenarnya hanya tidak menyadari bahwa agama adalah kasih sayang. Untuk membuat kesadaran seseorang, terkadang mudah dan sering kali susah. Untuk menyadarkan orang akan sesuatu yang bisa diindra, cukup suguhkan sesuatu itu pada salah satu indranya dengan benar. Untuk menyadarkan mereka relatif lebih sulit karena kasih sayang dalam agama bukan benda yang dapat diindra, apalagi ketidak-sadaran mereka diasuh oleh kepentingan politik, sosial-politik dan sebagainya.

Dalam Usul Fikih terdapat pembahasan tentang wāzi’ (hal yang dianggap bisa mengendalikan aplikasi syariat). Wāzi’ menurut kitab Qawā’id al-Aḥkām fi Maṣāliḥ al-Anām (Imam Izzuddin bin Abdissalam; Sulṭān al-‘Ulamā) dirinci menjadi tiga yaitu Wāzi’ ṭabi’iy, Wāzi’ syar’iy. dan Wāzi’ sulṭāniy.

Wāzi’ ṭabi’iy adalah kendali dalam diri manusia berdasarkan tabiatnya untuk melakukan suatu hal yang diinginkan syariat, semisal keharaman tidak boleh mencelakakan anak akan dilakukan oleh sang ibu sebab kendali tabiat dalam dirinya berupa kasih sayang kepada anak. Wāzi’ syar’iy merupakan kendali berupa aturan-aturan syariat dari teks-teks nas dan ijtihad ulama untuk melakukan apapun yang dianggap baik oleh syariat, semisal teks nas tentang himbauan melakukan salat (memandang salat sebagai pekerjaan yang dianggap baik oleh syariat). Wāzi’ sulṭāniy merupakan kendali berdasarkan otoritas pemerintah atau penguasa untuk merealisasikan suatu hal yang diinginkan syariat, semisal pemerintah memaklumatkan larangan menjual ganja sebagai antisipasi agar ganja tidak disalah gunakan (memandang ganja bisa digunakan mabuk-mabukan dan syariat tidak menganggap baik mabuk-mabukan).

Pembahasan wāzi’ sering kali dikaitkan dengan keefektifan syariat. Dan dipahami bahwa syariat hanya mempunyai satu orientasi yakni, kemaslahatan. Salah satu nilai kemaslahatan adalah kedamaian, maka tidak berlebihan ketika mengkaitkan pembahasan wāzi’ dengan probem kedamaian.

Kedamaian sosial tentu tidak akan tercapai bilamana terdapat oknum yang melakukan tindak kekerasan demi kepentingan mereka menegakkan agama. Mereka berlaku anarkis demi agama (kata mereka) karena tidak menyadari bahwa keberadaan agama hanya menyetujui kasih sayang sekaligus tidak setuju kekerasan, pemaksaan dan sebagainya, seperti yang diulas di awal tulisan ini. Maka dalam permasalahan ini, kunci mewujudkan kedamaian adalah kesadaran mereka tentang tidak ada restu dari agama untuk melakukan kekerasan sehingga kesadaran ini menyebabkan mereka tidak berlaku anarkis dan arogan demi menegakkan ajaran agama.

Dari tiga wāzi’ di atas, kendali apa yang dipandang bisa membentuk kesadaran seseorang agar tidak bertindak keras, anarkis dan arogan demi agama? –sekalipun tidak menjamin kesadaran yang dinginkan ini dapat terwujud melalui salah satu atau beberapa wāzi’ di atas.

Jika berpikir benar “rasul sebagai pembawa risalah agar agama diyakini tidak pernah melakukan kekerasan dan pemaksaan agar orang-orang meyakini agama Tuhan yang dibawanya, lalu pantaskah demi kepentingan terlaksananya aturan-aturan agama seseorang betindak anarkis (pertanyaan), jawabannya pasti tidak” maka secara naluri tabiat kebenaran berpikir ini seseorang dengan kendali dirinya sendiri tidak akan melakukan kekerasan atas nama agama –wāzi’ ṭabi’iy untuk kesadaran tidak bertindak keras, anarkis dan arogan demi agama.

Di dalam nas banyak penegasan agar berlaku secara kasih sayang (baik dalam Alquran maupun hadis), salah satunya adalah sabda rasul SAW man kāna yu’min billāhi wa al-yaumi al-ākhiri fal yukrim jārahu “orang mukmin/muslim harus menghormati tetangganya”; menghormati sosial. Dari hadis ini tentu dipahami tidak akan ada penghormatan jika ada kekerasan –wāzi’ syar’iy untuk kesadaran tidak bertindak keras, anarkis dan arogan demi agama.

Pemerintah bisa menjadi kendali kedamaian semisal dengan cara membuat aturan yang akan menghukum setiap tindak kekerasan atas nama agama pun bisa dengan cara mengatur semua lembaga pendidikan agar menggalakkan pendidikan moderasi sosial beragama –wāzi’ sulṭāniy untuk kesadaran tidak bertindak keras, anarkis dan arogan demi agama.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya