Kepongahan Kita Di Tengah Wabah Corona

Kepongahan Kita Di Tengah Wabah Corona 23/03/2020 996 view Opini Mingguan pixabay.com

Pemerintah beberapa waktu lalu telah menetapkan wabah corona (covid 19) sebagai situasi darurat (emergency situation). Kondisi darurat yang ditetapkan negara sangat tepat dan relevan ditengah penyebaran virus corona yang sangat cepat dan massif. Hal ini didasari dengan situasi di masyarakat yang semakin kompleks, ruwet dan menimbulkan kepanikan karena penyebaran virus corona yang menjatuhkan korban. Virus ini di beberapa negara seperti, China dan Italia telah mewabah dan semakin akut sehingga dibutuhkan penanganan yang serius dan komperhensif.

Di Indonesia sendiri, virus ini telah tersebar ke beberapa daerah seperti, Jakarta, Malang, Surabaya dan beberapa daerah di luar Jawa. Korban dari penyebaran virus ini mulai meningkat setiap hari dan amat disayangkan jika tidak cepat direspon dan diupayakan gerakan cepat (gercap) dalam melakukan upaya preventif guna meminimalisir meluasnya virus corona menyerang lebih banyak korban. Jumlah pasien positif virus corona per Jumat (20/3), bertambah menjadi 369 orang. Sebanyak 32 orang diantaranya meninggal dunia, dan 17 orang dinyatakan sembuh (CNNIndonesia.com;20/03/2020).

Dengan tingkat penyebaran yang cepat (epidemi), pemerintah menginstruksikan masyarakat agar menjauh dari kerumunan banyak orang (social distancing) guna meminimalisir penyebaran virus corona. Hal ini dilakukan sebagai langkah preventif agar penularan (transmission) dari satu orang ke orang lain tidak malah berkembang-biaknya virus corona. Melalui kebijakan lock down dan instruksi work from home, pemerintah sebetulnya mau memberikan pengarahan dan pemahaman dengan tujuan agar penyebaran virus corona bisa ditangkal.

Namun kebijakan lock down malah menimbulkan kontroversi di ruang publik. (Agar bisa memperjelas kondisi) perdebatan menyeruak tatkala sebagian orang menganggap kebijakan lock down sangat tidak realistis dan salah kaprah. Dalam logika mereka, kebijakan ini sangat mengganggu iklim ekonomi Indonesia sehingga mengakibatkan keterpurukan ekonomi dan akhirnya berimbas pada melonjaknya harga barang di pasaran.

Logika ekonomi di tengah wabah corona harus diperhitungkan sebagai parameter dalam menetapkan suatu kebijakan seperti lock down. Sementara di sisi lain, kebijakan lock down dari sebagian masyarakat dianggap sangat diperlukan guna mencegah virus ini menyebar ke setiap daerah. Di sinilah kebijakan lock down mendapatkan tempat untuk diperdebatkan.

Dalam kondisi seperti ini sebetulnya menurut hemat saya, ada dua poin krusial yang menjadi pertimbangan. Pertama, mempertimbangkan aspek ekonomi melalui penetapan kebijakan lock down, sementara yang kedua mempertimbangkan aspek kemanusiaan dari semakin membengkaknya korban penularan virus corona. Namun dalam situasi demikian, menurut saya kebijakan lock down sudah sangat tepat di tengah massifnya penyebaran virus corona. Kebijakan untuk mengunci masuk-keluar dari suatu wilayah/daerah/negara (lock down) sangat bersinggungan dengan aspek kemanusiaan.

Pemerintah menetapkan wabah corona sebagai situasi darurat dan itu berarti penetapan kebijakan lock down sangat realistis dengan penyebaran yang semakin destruktif. Di satu sisi, jika kita membiarkan keluar-masuk wilayah/negara di tengah penyebaran virus hanya akan membuka lebih banyak virus masuk ke setiap wilayah dan daerah.

Lantas pertanyaan yang harus diutarakan, bagaimana dengan nasib dan kondisi masyarakat kelas bawah (lower class) ketika pintu keluar-masuk daerah/negara dibiarkan di tengah gempuran corona yang semakin panik dan menjatuhkan banyak korban, sementara di satu sisi akses mereka dalam pemenuhan kesehatan sangat terbatas? Jika dibiarkan justru akan menghadirkan logika kapitalis dengan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, seperti misalkan melonjaknya harga masker dari yang semula dengan harga Rp. 2000, tiba-tiba menjadi Rp. 7000 serta menimbulkan persoalan penimbunan masker. Bukankah dalam kondisi seperti ini kalimat orang bijak sangat tepat “mencegah lebih baik daripada mengobati”?

Dalam situasi seperti ini kita tidak bisa hanya bergantung pada kebijakan bekerja dari rumah (work from home) dan menjauhi bentuk perkumpulan atau menjaga jarak (social distancing). Melainkan kebijakan lock down amat sangat diperlukan dalam kondisi darurat. Logika yang mesti diawetkan dalam kondisi tertekan akibat penyebaran virus corona ialah mengutamakan kepentingan bersama (altruisme) bukan malah memperhatikan kepentingan ekonomi yang jelas-jelas bersumbu kapitalis. Ini logika yang sama sekali tidak berdasar di tengah mengudaranya virus corona yang semakin mensegregasi banyak korban. Aspek kemanusiaan harus dengan sendirinya menjadi titik pangkal di tengah ancaman corona yang semakin membabi-buta.

Logika yang bersumbu ekonomi di tengah ancaman penyebaran virus corona mempertegas posisi kita sebagai manusia kapitalis. Dalam kondisi yang semakin akut dan menular kepada orang banyak hingga menjatuhkan banyak korban akibat penyebaran covid 19, tidak rasional jika kita malah memperdebatkan aspek ekonomi akan terpuruk karena kebijakan lock down. Logika ini menurut hemat saya sangat tidak berdasar dan terlalu naïf dengan tidak mempertimbangkan berapa banyak korban lagi yang akan kita tanggung dari penularan virus ini dan seberapa besar biaya yang akan kita keluarkan jika kebijakan lock down tidak kita lakukan.

Dalam kondisi negara sedang dihantui virus corona, prinsip altruisme harus ditanamkan dalam diri agar kita tidak terjebak dalam kepongahan yang semakin akut. Justru kepongahan kita semakin mempertegas bahwa kita tidak menaruh harapan yang sama dalam memerangi virus corona.

Untuk itu, kebijakan lock down harus tetap dilakukan mengingat semakin banyak korban yang sudah berjatuhan. Dalam kondisi yang membaik, pemerintah perlu menonaktifkan kebijakan lock down jika kondisi di masyarakat sudah dirasa aman. Yang diperlukan sebetulnya ialah koordinasi pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dalam memberlakukan kebijakan lock down.

Kesalahan beberapa waktu kemarin, pemerintah pusat memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk memberlakukan lock down namun dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama pemerintah malah mengambil sikap bahwa kebijakan lock down menjadi keputusan pemerintah pusat. Di sinilah elemen pemerintah perlu bersinergi dan koordinasi guna menghadirkan keputusan.

Pada akhirnya, kita mesti menaruh harapan besar bahwa kita mampu keluar dari zona keterpurukan akibat virus corona yang melanda. Seperti negara Italia, ketika kondisi negara dicekam dengan tingkat penyebaran yang meluas dari virus corona, warga negaranya menaruh semangat dan harapan kepada pemerintah dan sesama mereka melalui pajangan bendera diluar rumah sebagai bentuk solidaritas bahwa pemerintah bisa mengatasi persoalan ini.

Di sinilah etika warga negara yang baik itu ditunjukan oleh Italia dan harapannya Indonesia mampu mengambil sikap serupa melawan virus corona dengan semangat dan harapan yang sama. Mengutip kalimat dari Nasaruddin Umar (Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta) “Keteladanan lebih efektif daripada khotbah. Tak ada guna saling menyalahkan. Lebih tragis lagi jika ada yang memolitisasi”.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya