Kemiskinan, Kemiskinan Ekstrem dan Pertanian

Kemiskinan, Kemiskinan Ekstrem dan Pertanian 16/03/2022 159 view Ekonomi pixabay.com

Persentase penduduk miskin Indonesia pada bulan September 2021 sebesar 9,71 persen, turun 0,43 persen poin terhadap Maret 2021 dan turun 0,48 persen poin terhadap September 2020 ungkap Margo Yuwono Kepala BPS saat menyampaikan berita resmi statistik 17 Januari 2022.

Angka yang cukup menarik dan bahkan mungkin menyenangkan bagi Bangsa Indonesia. Saat pandemi covid -19 masih membayangi kehidupan negeri ini, tapi masih mampu mencapai penurunan angka kemiskinan. meski jika dicermati berdasarkan status wilayah perkotaan dan perdesaan, maka terlihat jelas ketimpangan yang terjadi.

Persentase penduduk miskin di perdesaan bulan September 2021 berada pada angka 12,53 persen jauh di atas angka persentase penduduk miskin perkotaan yang sebesar 7,60 persen. Meski penurunan kemiskinan di perdesaan terjadi dua kali lipat dari penurunan penduduk miskin di perkotaan, 0,57 persen penurunan angka penduduk miskin di pedesaan, dibanding 0,29 persen penurunan yang terjadi di perkotaan.

Kemiskinan merupakan masalah kronis bangsa ini, sehingga sangatlah wajar jika informasi kemiskinan menjadi “menu” yang menarik perhatian. Terlebih lagi dengan melandanya pandemi covid-19 sejak awal 2020 menjadikan kemiskinan suatu hal yang diperhatikan “lebih”. TNP2K dalam webistenya http://tnp2k.go.id/ menuliskan bahwa arahan presiden dalam rapat terbatas tanggal 4 Maret 2020 tentang strategi percepatan pengentasan kemiskinan serta rapat terbatas tanggal 21 Juni 2021 tentang strategi penanggulangan kemiskinan kronis menyebutkan agar pengentasan kemiskinan dilakukan secara terkonsolidasi, terintegrasi dan tepat sasaran melalui kolaborasi intervensi, sehingga kemiskinan ekstrem dapat mencapai tingkat nol persen pada 2024.

Kemiskinan Ekstrem

Kemiskinan ekstrem adalah sebuah indikator yang merupakan proporsi penduduk di bawah garis kemiskinan internasional atau persentase penduduk dengan pendapatan kurang dari 1,9$ pada PPP (Purchasing Power Parity) per kapita per hari. Sementara untuk kemiskinan dihitung menggunakan garis kemiskinan setara 2,5$ PPP per kapita per hari.

Pada Bulan Maret tahun 2021 (untuk Bulan September 2021 belum tersedia) tingkat kemiskinan ekstrem Indonesia mencapai angka 4,0 persen dengan angka kemiskinannya 10,14 persen. Provinsi Papua Barat menjadi pemegang angka tertinggi kemiskinan ekstrem, disusul Papua, NTT dan Maluku. Sementara itu Provinsi Bangka Belitung merupakan provinsi dengan kemiskinan ekstrem terendah. Namun secara agregat, tiga besar provinsi pemilik jumlah penduduk miskin ekstrem terbesar adalah provinsi-provinsi di Pulau Jawa dengan jumlah masing-masing di atas 750 ribu.

Beberapa karakteristik penduduk miskin ekstrem Maret 2021 yang mungkin menarik diperhatikan, antara lain persentase penduduk miskin ekstrem 15 tahun ke atas menurut status bekerja adalah 56,76 persen bekerja dan 5,23 persen pengangguran. Sisanya 38,01 persen merupakan penduduk bukan angkatan kerja. Lebih mendalam lagi membacanya didapatkan bahwa sebagian besar penduduk miskin ekstrem Maret 2021 bekerja di sektor pertanian yaitu 60,63 persen. Diikuti perdagangan, akomodasi, makan minum 13,66 persen, kemudian industri pengolahan 8,99 persen dan konstruksi 6,71 persen serta lainnya 10,01 persen. Dalam sektor pertanian tersebut sebagian besar penduduk miskin ekstrem bekerja sebagai pekerja keluarga atau tidak dibayar dan berusaha dibantu buruh tidak tetap/tidak dibayar.

Selanjutnya jika mengamati penduduk miskin ekstrem dengan pendekatan rumah tangga (ruta), maka dapat dikelompokkan menjadi kelompok rumah tangga miskin ekstrem tunggal (1 anggota rumah tangga/ART) dan rumah tangga miskin ekstrem lebih dari 1 ART. Pada Maret 2021 sebagian besar kepala ruta (KRT) miskin ekstrem tunggal adalah perempuan sekitar 87,86 persen. Sedangkan untuk ruta lebih dari 1 ART sekitar 12,33 persen. Untuk sumber penghasilan utama ruta miskin ekstrem tunggal sebagian besar tidak bekerja 50,95 persen, kemudian 26,18 persen di sektor pertanian. Informasi tersebut semakin menambah keyakinan bahwa berbicara kemiskinan dan kemiskinan ekstrem bermuara pada sektor pertanian.

Indikator lain yang dapat menjelaskan eratnya kemiskinan ekstrem dengan pertanian adalah banyaknya ruta petani gurem di Indonesia. Sensus Pertanian 2013 (ST2013) menuliskan sekitar 14,24 juta ruta petani merupakan petani gurem. Jumlah ruta petani gurem mengalami peningkatan pada saat Survei Pertanian Antar Sensus 2018 (SUTAS2018) menjadi 15,81 juta ruta petani, atau naik sekitar 10,95 persen dari angka ST2013. Masih tingginya angka ruta petani gurem mengindikasikan bahwa sektor pertanian masih menjadi “kantong” kemiskinan ekstrem.

Rendah dan tidak stabilnya angka Nilai Tukar Petani (NTP) mungkin dapat pula sebagai indikator awal bahwa kemiskinan ekstrem identik dengan pertanian. NTP tahun 2021 berada di angka 104,64 persen, angka yang mungkin menjadi indikator awal bahwa usaha di sektor pertanian itu masih menguntungkan. Namun jika dicermati lagi, angka NTP 2021 hanya subsektor perkebunan yang tinggu dan melebihi angka NTP sektor lainnya. Subsektor perkebunan pada tahun 2021 memiliki angka NTP 120,97 persen, sejak awal tahun 2021 berada di atas 110 persen.

Berbeda dengan perkebunan, subsektor tanaman pangan dengan NTP 2021 berada di angka 98,21 persen. Sepanjang tahun 2021 tanaman pangan hanya di Januari memiliki NTP di atas 100 persen yaitu 100,06 persen dan bulan-bulan lainnya stabil di bawah 100 persen. Untuk Hortikultura, di semester pertama 2021 mampu mencapai angka di atas 100 persen, namun sejak Juni hingga November berada di bawah 100 persen. Rendah dan tidak stabilnya NTP di tanaman pangan dan hortikultura menambah “isyarat” dekatnya pertanian dengan kemiskinan ekstrem.

Tanaman pangan dan hortikultura relatif bersinggungan langsung dengan kemiskinan ekstrem, dikarenakan banyaknya ruta yang bergantung utamanya pada usaha tanaman pangan dan hortikultura. SUPAS 2018 mencatat sekitar 10,14 juta ruta petani Indonesia atau 36,64 persen dari ruta tani bergelut di komoditas tanaman pangan.

Kendala dan Strategi

Kemiskinan ekstrem sesuai arahan presiden harus menjadi skala prioritas utama dalam penanggulangan kemiskinan. Untuk itu diperlukan kolaborasi dari berbagai pihak dalam pelaksanaannya, sehingga dapat menghasilkan strategi penanggulangan kemiskinan yang koprehensif. Pemerintah pusat, pemerintah daerah dan dunia usaha (swasta) serta masyarakat perlu bergandengan untuk bekerja bersama dan bekerja sama.

TNP2K dalam websitenya telah menuliskan strategi penanggulangan, yaitu memperbaiki program perlindungan sosial, meningkatkan akses terhadap pelayanan dasar, pemberdayaan kelompok masyarakat miskin serta menciptakan pembanguan yang inklusif. Strategi-strategi tersebut tentunya sangat membutuhkan pijakan yang kuat, pijakan pertama adalah data-data yang dapat menjadi dasar pertimbangan suatu rencana disusun.

Seperti dituliskan di atas bahwa pembahasan kemiskinan dan kemiskinan ekstrem sebagian besar pada akhirnya akan bermuara pada pembahasan pertanian. Sehingga data-data yang digunakan sebagai dasar perencanaan hendaknya memanfaatkan data-data pertanian, baik dari karakteristik penduduk petani sebagai pelaku usaha di sektor pertanian dan juga karakteristik petani sebagai objek yang akan di”entaskan”. Karakter petani sangat dekat dengan budaya yang dianut selama ini.

Seperti adanya keyakinan bahwa menanam padi hanya dilakukan sekali dalam satu tahun, kalau memaksakan melakukan tanam padi maka dapat dipastikan akan gagal. Menanam padi dilakukan pasca lebaran haji, sebelum itu lahan pertanian cenderung dibiarkan. Mungkin ada pula yang meyakini hanya varietas tertentu yang boleh ditanam di wilayah tersebut, hanya teknik budidaya tertentu yang diterapkan, serta budaya-budaya lainnya yang ada di masyarakat petani.

Karakteristik petani sebagai masyarakat miskin ekstrem juga perlu diperhatikan, dan karakteristik ini kembali sangat dekat dengan budaya. Budaya kehidupan sehari-hari yang sudah mendarah daging dari nenek moyang. Mungkin di suatu wilayah makan “ikan asin” adalah makanan spesial sehingga memiliki nilai ekonomi tinggi, sedangkan di wilayah lain ikan asin menjadi makanan yang memiliki nilai ekonomi rendah. Konsumsi nasi dari jagung bisa menjadi suatu kebanggaan atau perwujudan dari kesederhanaan meski sebetulnya dari sisi ekonomi mampu untuk mengkonsumsi nasi dari beras.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya