Kembali Ke Esensi

Mahasiswa UNJ jurusan PBSI 2022
Kembali Ke Esensi 20/01/2024 92 view Budaya Ilustrasi hidup dalam simulasi (Pixabay/JESHOOTS-com)

Bagaimana kita memahami eksistensi sebenarnya dalam era digital yang dipenuhi citra dan representasi? Pertanyaan ini mencuat di kepala ketika saya sedang sakit dan jauh dari perangkat digital. Dalam keadaan demam saya merenungkan pengaruh besar yang dimiliki oleh media sosial. Dari renungan tersebut, saya baru menyadari bahwa figur publik sering kali menjadi inspirasi dan model bagi saya untuk menjalani kehidupan ini. Entah dalam gaya hidup, penampilan, bahkan sudut pandang.

Di dalam rumah yang sempit ini, keringat saya menggenang membuat muka dan punggung yang ditempeli cacar air terasa perih. Dalam keadaan ini saya teringat perkataan teman sekolah saya, "Sikap dan gaya orang sekarang, tuh, tergantung role modelnya, men." Lagi-lagi ingatan berulah! Ingatan ini mengundang pertanyaan. Apakah sebenarnya kita selama ini hidup dalam mimpi?

Berdasarkan informasi We Are Social dan Hootsuite, jumlah pengguna media sosial di dunia mencapai 4,95 miliar orang pada Oktober 2023. Ini berarti sebanyak 61,4% atau lebih dari dua pertiga populasi dunia telah menggunakan media sosial. Lalu menurut laporan We Are Social pada April 2023, pengguna Instagram mencapai 2 miliar dan Tiktok mencapai 1,1 miliar. Dari miliar orang tersebut apakah mereka juga merasakan apa yang saya rasakan? Jika iya, pertanyaan apa yang mendasari ketertarikan kita untuk meniru mereka?

Ternyata fenomena ini bukanlah hal baru. Saya saja yang bodoh dan kurang bacaan. Jean Baudrillard dalam Simulacra and Simulations menggambarkan hal ini sebagai simulakra, yaitu sebuah konstruksi imajinasi manusia atas realitas yang tidak menghadirkan esensi realitas itu sendiri. Era ini, di mana media sosial bisa menjadi media penyembahan kepada figur publik dan selebriti, simulakra menjadi pedoman kita merealisasikan dan mengaktualisasikan diri.

Mungkin kita tertarik mencerminkan citra dengan figur publik yang kita kagumi karena mereka mampu mewakili citra, yang sebenarnya kita mimpikan dan idealisasikan. Media sosial, contohnya Instagram dan TikTok dengan konten-konten yang melimpah, menjadi lahan subur bagi perwujudan mimpi dan harapan kita. Dan ini membawa kita dalam dunia simulasi yang Baudrillard gambarkan.

Kekaguman kita terhadap citra yang disajikan oleh media, membuat kita merasa hidup dalam kekacauan antara mimpi dan kenyataan. Dalam hal ini, eksistensi sejati kita mulai terabaikan karena lebih terfokus pada representasi dan citra yang kita ciptakan sebagai bayangan yang ideal. Namun, apakah ketertarikan kita dalam meniru figur publik benar-benar murni atas keinginan untuk menciptakan citra yang ideal? Atau ini refleksi dari impian kita yang sebenarnya?

Masih adakah ruang bagi refleksi, sebuah momen untuk bertanya, "Di mana sebenarnya letak eksistensi sejati kita? Apakah eksistensi sejati kita terkubur dalam bayangan dan mimpi yang kita buat? Ataukah ada ruang untuk kembali pada esensi sejati diri, di luar dunia simulasi yang penuh dengan citra dan representasi yang kita buat?"

Melalui refleksi dan pertanyaan ini, mungkin kita bisa menemukan kembali koneksi dengan eksistensi sejati kita, memahami bahwa hidup kita bukan hanya tentang meniru citra-citra yang disajikan, tetapi tentang menjalani kehidupan yang autentik, yang mencerminkan esensi diri kita yang sejati.

Dalam mencari jawaban ini, mungkin kita menemukan kembali koneksi dengan eksistensi sejati kita. Memahami bahwa kehidupan tidak hanya tentang pencitraan diri, tetapi juga tentang menjalani kehidupan yang sesuai dengan esensi sejati diri kita. Ini memunculkan pertanyaan yang menuntun pada perenungan yang mendalam: bagaimana kita bisa membedakan antara realitas dan representasi? Apakah realitas sejati kita tertutup oleh citra-citra yang kita ciptakan?

Ketika menyusun kembali koneksi dengan eksistensi sejati, kita dapat menemukan kebahagiaan yang terkait dengan kebenaran diri kita. Kita mungkin merenung pada nilai-nilai yang sebenarnya penting bagi kita, dan bagaimana kita bisa mengaktualisasikan diri tanpa terjebak dalam representasi yang distorsi. Langkah ini memperkuat kesadaran akan keberadaan kita di dunia yang penuh dengan representasi virtual.

Proses refleksi dan penelusuran akan esensi diri kita merupakan langkah awal untuk meresapi kehidupan yang autentik, yang mencerminkan esensi sejati diri kita di tengah-tengah gejolak antara mimpi dan kenyataan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya