Keluarga sebagai Locus Primus untuk Membangun Budaya Literasi

Mahasiswa
Keluarga sebagai Locus Primus untuk Membangun Budaya Literasi 31/08/2020 521 view Opini Mingguan Harianislam.com

Budaya literasi atau minat baca masyarakat Indonesia masih rendah. Berdasarkan data UNESCO pada tahun 2016, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0.001%. Artinya dari 1.000 orang hanya 1 orang yang rajin membaca. Dan, minat baca Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara yang disurvei (SindoNews.com, 2/10/19)

Saya melihat bahwa rendahnya minat baca di kalangan masyarakat Indonesia disebabkan oleh berbagai faktor; pertama, kurangnya peran orang tua atau keluarga untuk menanamkan budaya literasi sejak kecil untuk anak-anak mereka; kedua, keterbatasan finansial dan bahan-bahan literasi (buku); ketiga, kehadiran media sosial, game online dan internet of thinks, yang sekarang populer di tengah masyarakat. Dan mungkin masih ada faktor-faktor lainnya yang menyebabkan memudarnya budaya literasi, tapi saya melihat bahwa tiga faktor ini sebagai yang utama dan mendasar yang memengaruhi masyarakat.

Soal membaca atau literasi sebenarnya bukanlah hal baru, melainkan sebuah kebiasaan atau budaya yang sudah ada ribuan tahun yang lalu bahkan sebelum masehi. Para filsuf dan sejarawan kuno, seperti; Herodotus, Plutarkhos, Diodorus, Plato, Aristoteles dan lain sebagainya, mereka membaca literatur-literatur yang ada pada zamannya dan menulis karya pemikiran masing-masing, baik berupa kritik atau sanggahan terhadap argumen filsuf yang lain. Budaya literasi masih begitu kuat pada zaman itu sehingga lahir pemikiran-pemikiran besar yang bersifat transformatif.

Mereka adalah orang-orang yang memberikan kontribusi yang cukup besar bagi peradaban umat manusia selanjutnya dan mereka selalu dikenang, terutama di dunia akademis. Melalui budaya literasi, mereka dapat menjadi pribadi-pribadi yang dapat memberikan sumbangan besar bagi banyak orang.

Akan tetapi, pada tahun-tahun selanjutnya terutama memasuki abad ke 21 di mana muncul budaya baru yaitu modernitas, yang menawarkan cara-cara praktis dan instan, membuat budaya literasi mulai memudar. Memudarnya budaya literasi menjadi ancaman besar bagi kehidupan bersama, apalagi di tengah zaman banjir informasi yang berasal dari media sosial.

Sikap kritis terhadap sesuatu yang baru dan aktual mulai hilang dan sebaliknya masyarakat akan cenderung untuk menerima begitu saja berita dan informasi yang muncul di media sosial, padahal kita belum tahu pasti kebenaran informasi itu. Hal seperti itu akan membuat hoaks tumbuh subur dan mungkin saja menjadi benih kekacauan; perbedaan pendapat, perselisihan, salah tafsir dan lain sebagainya.

Cukup banyak orang yang menerima begitu saja berita di media sosial dan menganggap itu benar, padahal informasi itu belum diverifikasi. Nah, karena kurangnya minat baca membuat kita melewati begitu saja proses verifikasi informasi (proses yang penting), sehingga menimbulkan kesalah-pahaman atau salah tafsir. Apalagi kemudian hoaks yang kita anggap benar itu disebarkan kepada orang lain, maka sudah dapat dipastikan akan terjadi kekacauan.

Melihat fenomena-fenomena dewasa ini di mana dunia online dianggap sebagai sumber dan parameter kebenaran, ada sesuatu yang kurang atau bahkan hilang dalam kehidupan keluarga. Keluarga merupakan tempat pertama bagi seseorang ketika dia terlahir ke dunia dan kebenaran yang ia temui pertama kali ialah keluarga. Maka, dalam pertumbuhan seorang anak, orang tua memiliki peran penting dan tanggung jawab yang besar untuk membentuk habitus anaknya.

Anak kecil itu seperti tanah liat yang masih basah sehingga mudah dibentuk, tapi kemudian ketika tanah itu mengering (dewasa) maka akan sulit dibentuk. Masa kanak-kanak merupakan waktu yang tepat untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang positif bagi setiap anak. Maka pada masa-masa ini, orang tua mesti membiasakan anak-anaknya akrab dengan literasi dan kemungkinan besar apa yang ditanamkan sejak kecil itu kelak akan terpelihara sampai ia dewasa nanti.

Karena seseorang sudah dibiasakan berliterasi sejak kecil maka dia akan memiliki sikap kritis dan reflektif terhadap pengalaman-pengalaman hidupnya. Melalui sikap dasar ini, seseorang dibantu untuk mengembangkan dirinya menjadi manusia yang produktif dan inovatif. Literasi itu tidak hanya soal banyaknya pengetahuan yang akan dimiliki, tetapi membantu seseorang untuk menafsirkan berbagai macam peristiwa yang terjadi di sekitarnya, sehingga ia dapat membuat suatu pilihan yang tepat, yang kemudian diwujudkan dalam aksi.

Oleh karena itu, literasi itu sangat penting bagi setiap orang dan hal itu mesti ditanamkan sejak kecil oleh orang tua, karena masa itu merupakan waktu yang tepat. Orang tua mesti membangun kecintaan akan budaya membaca bagi anak-anaknya. Tentu hal ini mengandaikan bahwa setiap orang tua memiliki kesadaran tentang pentingnya menanamkan budaya literasi sejak dini bagi anak-anak. Maka orang tua juga penting dan perlu mengetahui hal ini; keluarga menjadi locus primus untuk membangun budaya literasi bagi anak-anak yang kemudian akan menjadi genarasi penerus bangsa.

Selain itu, sudah menjadi situasi yang umum bahwa di daerah-daerah pedalaman dan terpencil ada keterbatasan finansial dan bahan-bahan bacaan untuk anak-anak. Ini ada kaitannya dengan keluarga sebagai locus primus membangun budaya literasi. Ada orang tua yang menyadari peran pentingnya bagi pertumbuhan anaknya tapi menghadapi berbagai macam keterbatasan.

Oleh karena itu, pemerintah pusat melalui pemerintah daerah dan lembaga kemasyarakatan dapat mendukung revitalisasi budaya literasi dengan membangun rumah belajar di desa-desa yang memiliki keterbatasan dana. Rumah belajar ini dimaksudkan sebagai tempat anak-anak desa yang kurang mampu untuk belajar bersama; membaca buku-buku yang disediakan oleh pemerintah. Rumah belajar ini bisa juga dianggap sebagai perpustakaan mini di mana anak-anak bahkan masyarakat setempat dapat berliterasi.

Meskipun demikian, keluarga tetap menjadi tempat pertama dan utama untuk membangun budaya literasi. Sedangkan kehadiran rumah belajar itu hanya menjadi pendukung untuk membudayakan literasi dalam kehidupan banyak orang. Perlu juga untuk memberikan sosialisasi terkait literasi, Apa itu literasi? Apa tujuan dan manfaat literasi bagi kehidupan seseorang? Masyarakat perlu diajak untuk membangun kesadaran akan pentingnya literasi bagi kehidupan manusia.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya