Keluarga Makin Harmonis Pasca Pandemi

Guru SDN Sidorejo Kab. Sidoarjo, Jatim
Keluarga Makin Harmonis Pasca Pandemi 18/04/2020 748 view Lomba Esai infobintaro.com

Upaya memutus mata rantai penyebaran covid-19 antara lain dengan kebijakan menjaga jarak sosial (social/physical distancing). Termasuk dalam kebijakan ini mengharuskan anak-anak belajar dari rumah, begitu juga sebagian orang tua bekerja dari rumah. Sehingga mereka kini menghabiskan waktu di rumah.

Tentu saja, keberadaan anak di rumah dengan orangtua dalam situasi covid-19 berdampak pada pola kehidupan baik anak maupun orang tua. Perubahan pola hidup ini menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga. Namun banyak pula aspek positifnya jika dijalani dengan sabar, kreatif, dan menyenangkan.

Kebersamaan anak dan orang tua hari-hari ini sesungguhnya menjadi momentum berharga untuk mengokohkan keharmonisan keluarga. Jarang-jarang waktu dihabiskan bersama seluruh anggota keluarga di rumah. Kali ini, orangtua mengondisikan rumah menjadi pusat aktivitas keluarga yang selama ini terpecah-pecah, baik di kantor, sekolah, rumah ibadah hingga di lingkungan.

Orang tua perlu menjadikan saat kebersamaan ini menjadi proses berharga untuk menguatkan kembali relasi dengan anak. Relasi ini bisa dibangun dengan salah satunya kedekatan komunikasi dengan anak. Seperti, menjadi pendengar yang baik, melatih anak-anak pada keterampilan dasar mengurus diri dan pekerjaan rumah sehari-hari, serta mendampingi anak-anak dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah.

Intensitas komunikasi anak dan orangtua menjadi tinggi selama anak di rumah. Ini harus dimanfaatkan untuk membangun kepercayaan dengan anak secara terbuka, menjelaskan suatu hal jika anak tidak memahami, hingga memberikan masukan atas cerita anak. Orang tua diharapkan lebih sabar untuk mendengar apa yang dirasakan anak dan memberi masukan mengingat bahwa anak juga mengalami kebosanan berada di rumah. Mereka tidak bertemu dengan teman-temannya dan tidak dapat bermain secara bebas di luar rumah.

Kini, selain berperan sebagai pekerja di rumah, orang tua juga berperan penuh dalam pendidikan pada anak. Maka selama #dirumahaja, orang tua penting untuk mengajarkan keterampilan hidup sehari-hari agar anak-anak juga belajar mengurus diri sendiri. Orang tua perlu melibatkan anak pada pekerjaan rumah tangga sesuai umurnya. Ini waktu yang tepat untuk mengajarkan anak seluruh aktivitas pekerjaan rumah secara lebih mandiri sesuai usianya.

Pun situasi pandemi covid-19 adalah saat yang tepat membangun kebiasaan pola hidup bersih dan sehat di keluarga. Dengan memulai membiasakan mencuci tangan dengan benar, mengganti baju dan mandi setelah bepergian, serta bersin dengan cara yang benar. Selain itu, membiasakan pola makan sehat dan gizi seimbang juga bagian dari menjaga kesehatan.

Menjaga Situasi

Keberadaan anak di rumah juga memerlukan pendampingan secara khusus karena mereka juga menjalani pembelajaran jarak jauh. Sebuah hal baru bagi kebanyakan anak-anak kita. Anak-anak yang Sekolah Dasar lebih banyak memerlukan pendampingan secara teknis, dan bagi yang SMP dan SMA, orangtua lebih membantu mereka mengatur jadwal harian mereka.

Anak-anak perlu diajak berbicara penggunaan media digital secara baik dan benar. Ada gap antara aturan sebelumnya menjauhi HP karena khawatir kecanduan game. Hari ini malah harus mengajarkan penggunaan media digital secara baik dan benar untuk mendukung proses pembelajaran jarak jauh.

Ketika anak-anak sudah mulai bosan dan mengeluh banyaknya tugas yang dikirim para guru, orangtua perlu menjaga situasi kondusif di rumah agar anak-anak nyaman di rumah. Orang tua perlu sekreatif mungkin membuat aktivitas yang menyenangkan dan beragam bagi anak. Ayah dan Ibu perlu saling dukung membersama dan mendampingi anak, serta mengurus pekerjaan rumah tangga. Kebersamaan dan kekompakan orangtua akan memberi efek positif bagi kenyamanan dan keceriaan anak-anak di rumah selama pandemi Covid-19.

Orang tua bersama anak bisa melakukan kegiatan menarik untuk mengusir kebosanan. Misalnya, olah raga pagi, berjalan-jalan di sekitar halaman rumah, serta berjemur tanpa harus bereksplorasi di luar. Aktivitas ini bermanfaat bagi kesehatan fisik dan psikis kita. Kita akan terbiasa berjalan kaki sekitar 20-30 menit. Selama ini, jujur saja, aktivitas berjalan kaki jarang dilakukan lantaran kita lebih sering naik motor atau mobil ke mana-mana.

Aktivitas lainnya bisa dengan membaca buku, koran, dan majalah di rumah. Aktivitas ini penting untuk menumbuhkan budaya gemar membaca di tengah maraknya pemakaian gawai di kalangan masyarakat. Indonesianis asal Australia, Prof George Quinn, menyebut masyarakat kita asyik bergawai-ria. Saking asyiknya bergawai-ria, sebagian remaja kita malas belajar, salat tidak tepat waktu, menunda waktu makan dan lainnya.

Kemudian, bisa juga memainkan permainan keluarga. Permainan keluarga yang dimaksudkan di sini ialah permainan yang menguji pengetahuan dan ketangkasan anggota keluarga. Misalnya, main lompat tali bersama, praktik menggunting serta keterampilan lain.

Kegiatan lain yaitu memasak bersama anak. Aktivitas memasak biasanya dilakukan para ibu di dapur selama ini. Saat masa bekerja dari rumah berlaku, aktivitas memasak dapat dilakukan oleh semua anggota keluarga. Ayah bertugas membersihkan dan memotong sayur-sayuran, Ibu bertugas memasak sayur-sayuran, dan anak bertugas mempersiapkan alat-alat makan di meja makan. Inilah bentuk kebersamaan di rumah dari aktivitas memasak bersama-sama.

Bahkan keluarga bisa asyik berkebun. Aktivitas berkebun tidak harus memiliki lahan hijau yang luas. Halaman sedikit juga bisa dimanfaatkan. Aktivitas yang bisa dilakukan misal menanam bunga, sayur, atau tanaman toga dalam polybag atau pot, kemudian menyirami, memotong ranting yang kering, atau yang lain.

Semua aktivitas itu kelak bermanfaat bagi fisik dan psikis kita saat ini. Juga memberikan suasana lain ketika mulai bosan di rumah, terlebih bagi anak-anak. Di samping itu, dapat menguatkan rasa kebersamaan dan keberbagian anggota keluarga sehinga makin harmonis bahkan setelah pandemi. Semoga.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya