Kekerasan pada Perempuan: Dosa Siapa?

Statistisi Ahli
Kekerasan pada Perempuan: Dosa Siapa? 21/06/2020 818 view Opini Mingguan kabarbisnis.com

Perempuan Indonesia saat ini memiliki capaian yang luar biasa. Dibuktikan dengan semakin besarnya kesempatan untuk menjadi orang-orang hebat di negeri ini, seperti menjadi wakil rakyat, menteri, pengusaha, tenaga profesional, bahkan pernah menjadi orang nomor satu di Indonesia.

Jumlah penduduk perempuan di Indonesia tahun 2020 adalah sebesar 134,27 juta jiwa atau sekitar 49,80 persen. Jumlah ini akan terus meningkat setiap tahunnya. Diperkirakan mulai tahun 2032 jumlah penduduk perempuan akan lebih banyak dari laki-laki (proyeksi hasil Survei Penduduk Antar Sensus 2015).

Walaupun perempuan seringkali dianggap sebagai mahluk yang lemah, ternyata perempuan memiliki kontribusi yang cukup besar dalam perekonomian Indonesia. Entah karena memang ingin berkarya dan berkarir, atau karena tuntutan ekonomi yang memaksa kaum perempuan untuk ikut bekerja mencari nafkah. Sekitar 9,4 juta perempuan Indonesia bekerja pada sektor industri kreatif. jumlah ini jauh lebih banyak dibandingkan jumlah pekerja laki-laki yang sebesar 7,5 juta (hasil Sensus Ekonomi 2016).

Tidak hanya sebatas bekerja menjadi buruh atau pegawai, tetapi perempuan Indonesia juga banyak yang memiliki usaha atau menjadi pengusaha. Sebanyak 36 persen menjadi pengusaha, jauh lebih tinggi dibandingkan negara tetangga kita Malaysia yang hanya sekitar 20 persen (World Bank, 2016).

Di satu sisi, hal tersebut menunjukkan capaian perempuan Indonesia. Tetapi di sisi lain cukup mengkhawatirkan, karena peran ganda perempuan biasanya berdampak ke dalam kehidupan keluarga dan anak, seperti menjadi mudah marah dan kurang peduli dikarenakan lelah bekerja, perasaan suami yang merasa tersaingi oleh istri, dan lalai dalam mengurus rumah tangga.

Kekerasan pada Perempuan

Meskipun tidak sedikit yang berhasil dan sukses dalam kehidupan, ternyata masih banyak perempuan Indonesia yang mengalami kekerasan di dalam hidupnya. Salah satunya adalah kasus yang terjadi di tengah pandemi Covid-19. Kita dibuat terhenyak dengan berita kasus pemerkosaan yang terjadi di Kota Tangerang Selatan. Pemerkosaan dilakukan oleh 7 orang pemuda terhadap seorang gadis remaja berusia 16 tahun dan berujung kematian. Kejadian biadab ini terjadi pada pertengahan bulan April tahun 2020 (news.detik.com)

Kasus pemerkosaan ini merupakan satu dari sekian ratusan ribu kasus yang menimpa kaum perempuan di Indonesia. Ibarat puncak gunung es di tengah lautan, kasus yang terlihat dan terungkap hanya sedikit padahal masih banyak kasus kekerasan lainnya yang terjadi dan tidak dilaporkan. Entah karena ancaman yang dilakukan terhadap korban atau karena rasa malu jika masyarakat luas mengetahui apa yang menimpa korban.

Pemerkosaan merupakan satu dari lima belas bentuk kekerasan seksual. Masih banyak lagi bentuk kekerasan seksual lainnya yang terjadi pada perempuan seperti pelecehan seksual, prostitusi paksa, eksploitasi seksual, penyiksaan seksual dan masih banyak lagi. Selain itu, tidak hanya kekerasan seksual saja yang terjadi pada perempuan tetapi juga kekerasan fisik, kekerasan ekonomi, kekerasan emosional (psikis), dan kekerasan dalam bentuk pembatasan aktivitas oleh pasangannya.

Dari tahun ke tahun, kasus kekerasan terhadap perempuan terus meningkat. Mulai dari 54,42 ribu kasus pada tahun 2008 naik berkali-kali lipat menjadi 431,47 ribu kasus di tahun 2018. Dan yang sangat memprihatinkan, kasus kekerasan justru paling besar terjadi di wilayah tempat tinggal. Selain itu, pelaku kekerasan tertinggi ternyata dilakukan oleh keluarga, teman dan tetangga (Komnas Perempuan, 2019).

Hal ini sangat mengerikan dan memprihatinkan, rumah atau tempat tinggal yang seharusnya dapat memberikan kenyamanan dan keamanan bagi penghuninya, justru menjadi ancaman dan sumber kekerasan terhadap perempuan.

Penyebab Kekerasan pada Perempuan

Kekerasan pada perempuan tidak serta merta terjadi begitu saja. Banyak hal yang dapat memicu terjadinya kekerasan pada perempuan, baik berasal dari internal individu maupun eksternal individu.

Faktor Individu, kondisi emosi seseorang dapat menjadi penyebab terjadinya kekerasan. Ketidakmampuan mengendalikan emosi, seperti rasa senang yang berlebihan, marah yang teramat sangat, atau takut terhadap sesuatu dapat berakibat fatal. Banyak kasus yang terjadi hanya karena rasa senang yang berlebihan sehingga timbul rasa cemburu dan curiga yang mengakibatkan terjadinya penganiayaan.

Hidup di tengah-tengah lingkungan yang terbiasa dengan tindak kekerasan juga dapat menyebabkan seseorang menganggap biasa dalam melakukan kekerasan. Misalnya, seorang anak terbiasa melihat kedua orangtuanya bertengkar setiap saat dan sering melihat sang ayah melakukan tindak kekerasan kepada ibunya, kemungkinan anak akan menganggap apa yang dilakukan sang ayah menjadi hal yang biasa.

Selain itu, pernah menjadi korban kejahatan di masa lalu juga bisa menjadi pemicu seseorang melakukan tindak kejahatan. Karena perasaan marah dan dendam membuat seseorang melakukan kekerasan yang sama yang pernah dialaminya.

Faktor Sosial, sikap pembiaran atau permisif masyarakat sekitar dapat menyebabkan terjadinya tindak kekerasan terhadap perempuan, misalnya kekerasan yang dilakukan suami terhadap istri dalam rumah tangga, seringkali masyarakat membiarkannya dengan alasan tidak ingin ikut campur urusan rumah tangga orang lain.

Lingkungan kumuh dan padat penduduk yang selalu identik dengan kemiskinan juga sering kali menjadi penyebab kekerasan terhadap perempuan. Lingkungan yang padat penduduk mudah menyebabkan terjadinya gesekan-gesekan antara sesama warganya. Selain itu rumah yang tidak layak “kumuh” dengan kondisi luas yang sangat terbatas menyebabkan keterbatasan beraktivitas penghuninya.

Dengan kemudahan terhadap akses internet, menyebabkan siapapun dan kapanpun dapat membuka internet. Orang dewasa, anak-anak, pelajar, pekerja, bahkan pengangguran sekalipun bisa dengan mudah berselancar di dunia maya. Tidak sedikit kekerasan yang terjadi pada media sosial seperti kasus “bullying”. Selain itu konten yang ada di internet juga dapat mempengaruhi seseorang melakukan tidak kejahatan, contohnya konten orang dewasa menyebabkan timbulnya kasus pemerkosaan

Mengatasi Kekerasan terhadap Perempuan

Banyak undang-undang dan peraturan pemerintah yang dibentuk untuk mengatasi masalah kekerasan terhadap perempuan, tetapi kenyataannya setiap tahun kasus ini semakin meningkat. Perlu adanya penegakan hukum terhadap peraturan dan perundang-undangan yang ada sehingga dapat membuat pelaku menjadi jera.

Upaya selanjutnya adalah melakukan dengan pemberdayaan terhadap perempuan sehingga kesetaraan dan ketimpangan yang terjadi antar perempuan dan laki-laki tidak terlalu jauh. Begitu juga dengan program pengentasan kemiskinan dan hidup sehat, serta program peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat juga diharapkan dapat mengatasi kekerasan terhadap perempuan.

Dibutuhkan sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat luas tentang kekerasan terhadap perempuan, baik bentuk, dampak yang ditimbulkan bagi korban, maupun hukuman yang akan ditanggung pelaku tindak kekerasan. Serta dengan meningkatkan rasa kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sekitar, juga dapat menekan terjadinya kekerasan terhadap perempuan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya