Kejayaan Industri Kreatif Digital di Indonesia

A mom, Business Enthusiasm
Kejayaan Industri Kreatif Digital di Indonesia 02/05/2021 29 view Ekonomi Goggle image

Hadirnya industri 4.0 kini menimbulkan harapan baru dalam percepatan kemajuan ekonomi sekaligus tantangan dalam penciptaan kesempatan kerja. Adapun industri 4.0 lahir setelah didahului tiga generasi sebelumnya, yaitu generasi pertama mesin uap, generasi kedua elektrifikasi, dan generasi ketiga komputer. Generasi keempat atau industri 4.0 ialah sistem siber fisik (cyber physical system), dengan digitasi dan interkoneksi produk, rantai nilai (value chains) dan model bisnis. Industri 4.0 juga mencakup riset, jejaring pelaku industri, dan standardisasi (European Commission, Germany; Industrie 4.0, 2017).

Dengan digitasi interkoneksi produk, mata rantai perdagangan dapat diperpendek sehingga mempercepat mobilitas arus barang dan jasa dari produsen ke konsumen. Pada tahap lanjut, hal itu akan menurunkan biaya operasional sehingga berpotensi meningkatkan kegiatan ekonomi dan pendapatan produsen serta efisiensi konsumen.

Industri kreatif digital adalah suatu industri kreatif yang menggunakan unsur digital dan unsur kreativitas pada produk atau jasanya. Industri jenis ini pada umumnya merupakan hasil dari produk teknologi informasi yang bisa menjadi solusi atas masalah di kehidupan sehari-hari. Salah satu contoh industri kreatif digital di Indonesia adalah Gojek, Grab, Tokopedia, Shopee dan masih banyak lagi contoh-contoh dari produk atau pun jasa dari industri kreatif digital.

Industri kreatif di Eropa disebut industri budaya merupakan jenis industri yang mengolah kreativitas, keterampilan dan bakat seseorang untuk menghasilkan sebuah karya atau produk yang bernilai ekonomi sehingga dapat memberikan kesejahteraan dan membuka lapangan pekerjaan.

Seiring berkembangnya zaman, banyak orang yang mulai berpikir untuk bekerja kepada diri sendiri. Seperti membangun sebuah industri kreatif yang didasarkan dengan beragam hobi. Industri kreatif adalah sebuah aktivitas ekonomi yang terkait dengan menciptakan atau menggunakan pengetahuan informasi. Industri kreatif di Indonesia dapat dikatakan sebagai industri budaya atau ekonomi kreatif. Industri kreatif tercipta dari pemanfaatan serta keterampilan yang dimiliki oleh setiap individu untuk bisa membuat lapangan pekerjaan baru. Semua itu bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan di daerah. Industri kreatif merupakan hasil dari kreatifitas dan daya cipta setiap individu.

Sektor industri kreatif diprediksi akan menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia di masa yang akan datang. Sebab, Indonesia tidak akan selamanya bergantung pada eksploitasi sumber daya alam yang jumlahnya semakin terbatas. Kekuatan industri kreatif lebih bergantung kepada keunggulan sumber daya manusia. Berbagai ide kreatif seperti karya seni, arsitektur, buku, inovasi teknologi dan animasi akan mendorong lahirnya jenis usaha industri kreatif.

Perkembangan Industri Kreatif di Indonesia

Salah satu yang menjadi perhatian pemerintah Indonesia sekarang adalah industri kreatif dan ekonomi berbasis digital. Hal ini terlihat dari didirikannya Badan Ekonomi Kreatif, sebuah lembaga pemerintah non kementrian yang mengurus ekonomi kreatif atau industri kreatif di Indonesia. Mengikuti perkembangan global yang semuanya hampir berbasis teknologi yang sudah canggih.

Industri digital dan industri teknologi di Indonesia semakin hari semakin berkembang sangat pesat. Data menyebutkan, pertumbuhan industri ekonomi digital di Indonesia meningkat sangat signifikan dan mencapai 40 persen setiap tahun. Diprediksi hingga 2025 pertumbuhan industri digital berpotensi mencapai US$130 miliar atau setara dengan Rp1.820 triliun (kurs Rp14.000). Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa nilai ekonomi digital di Indonesia mencapai US$40 miliar atau setara Rp560 triliun pada 2019. Tentunya, ini merupakan pencapaian luar biasa untuk Indonesia dalam sektor ekonomi digital, termasuk di dalamnya kontribusi dari industri e-commerce.

Pertumbuhan industri ekonomi digital di Indonesia meningkat signifikan dan mencapai 40% setiap tahunnya. Diprediksi hingga 2025 pertumbuhannya berpotensi mencapai USD130 miliar atau setara dengan Rp1.820 triliun (kurs Rp14.000).

Peningkatan bisnis e-commerce juga berbanding lurus dengan kontribusi positif kepada Indonesia. Menurut hasil riset yang dirilis Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) pada Oktober 2019, e- commerce mencatatkan kontribusi dan pencapaian signifikan terhadap sektor ekonomi digital di Indonesia, terutama dalam mendorong inklusivitas dan partisipasi masyarakat Indonesia terhadap perekonomian nasional. Misalnya, selama 2018 platform e-commerce Tokopedia menyumbang kontribusi sebesar Rp73 triliun terhadap perekonomian Indonesia.

Pengembangan Industri Kreatif Digital di Indonesia

Pelaku industri digital meyakini Indonesia akan menjadi pelaku besar dalam sektor ini. Kuncinya, ada kerja sama pemerintah dan pelaku sektor industri ini dalam memetakan tantangan ke depan. Setidaknya ada tiga problem yang dihadapi pelaku bisnis ini, yaitu jaringan, manajemen, dan modal. Menurut survei pada 2017, 35 persen pelaku bisnis ini di Yogyakarta mengeluhkan permodalan dan jaringan bisnis. Karena itulah, asosiasi butuh uluran tangan pemerintah.

Memang komoditas yang sebenarnya harus lebih fokuskan oleh pemerintah adalah komoditi berbasis jasa data digital. Karena punya banyak sekali potensi dan selama ini belum banyak tergali. Kita berharap kerja sama dari pemerintah dan akademisi, supaya Indonesia punya produk berbasis intelektual properti yang tangguh di negara lain.

Sayangnya, penghargaan produk digital dalam negeri masih dipandang sebelah mata. Oleh karena itu, banyak pelaku bisnis digital dalam negeri yang memilih bermain di luar negeri. Pasar luar negeri bagus, namun secara teknologi dalam bidang ini kita tidak kalah. Permasalahannya entah bagaimana, kemampuan atau kemauan untuk membayar jasa digital tersebut jauh lebih rendah dari pada harga pasar di mancanegara. Di luar negeri contohnya tanda tangan digital ini bisa 7 dollar per orang per bulan, sementara di dalam negeri hanya 2 dollar.

Sehingga untuk mengembangkan potensi produk digital sangat membutuhkan peran besar pemerintah. Banyak hal yang harus disiapkan pemerintah, diantaranya pemerintah belum memiliki data lebih rinci mengenai industri digital Indonesia. Sektor ini telah berkembang secara alami dan tidak cukup terekspos. Anak-anak muda dari kamar mereka mampu menyediakan jasa ini. Melalui jaringan internet, hubungan dengan pembeli di luar negeri terjalin. Lalu lintas produk dari dalam negeri dan uang dari luar tidak terdeteksi. Untuk itu dibutuhkan daftar usaha berbasis digital di seluruh Indonesia, sehingga pemerintah bisa dengan mudah memberikan stimulus untuk pengembangan industri tersebut. Lebih tepatnya akan tepat sasaran, seperti industri UMKM dan industri sejenis lainnya yang memiliki direktori lengkap.

Pemerintah juga perlu melakukan pelatihan dalam skala besar untuk mengembangkan sektor digital. Sehingga bibit-bibit unggul pengembang industri digital akan bermunculan dengan adanya fasilitas yang diberikan tersebut.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya