Kegaduhan Menjelang Pesta Demokrasi

Mahasiswa
Kegaduhan Menjelang Pesta Demokrasi 01/12/2020 331 view Politik pixabay.com

Pada tanggal 09 Desember 2020, akan ada 270 daerah di Indonesia yang menyelenggarakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) secara serentak. Artinya, tinggal menghitung hari saja, pesta demokrasi pilkada yang dinanti-nantikan pun akan dihelat. Di situlah kita akan menyaksikan bagaimana rakyat menyalurkan hak pilihnya melalui bilik suara.

Aktivitas politik di daerah-daerah yang akan melaksanakan pesta demokrasi ini pun sudah berjalan lebih dari setengah permainan. Hal itu terlihat jelas dari berbagai jenis persiapan yang sudah dilakukan oleh para kandidat dalam menyambut pesta demokrasi ini, bahkan jauh-jauh hari sebelumnya. Semuanya itu bermaksud untuk memikat simpati rakyat akan memilih.

Kita lihat saja berbagai baliho yang terpampang di sudut-sudut jalan yang mana foto para kandidatnya dengan seulas senyum, sambil diolesi kata-kata yang bertujuan mencuri daya tarik rakyat. Bahkan ada agenda membagi-bagikan sembako dari rumah ke rumah yang dilakukan jauh pada tahun-tahun sebelumnya.

Sekali lagi, semuanya bertujuan menarik simpati rakyat. Metode ini tidak hanya dilakukan oleh satu paslon saja. Semua paslon yang akan berkontestasi berkompetisi mempraktikkan pendekatan yang sama.

Melihat semuanya itu, saya menduga bahwa pada pesta demokrasi besar-besaran ini, frekuensi kegaduhan akan melonjak secara tajam. Semuanya itu terlihat sangat jelas dari iklim politik yang semakin hari semakin memanas menjelang pesta demokrasi ini. Apalagi dengan berbagai teknologi yang semakin canggih sekarang ini, bukan tidak mungkin penyebaran hoax punya potensi besar. Para provokator bisa saja memprovokasi rakyat dengan menyebarkan berita bohong melalui media sosial.

Baru-baru ini, GP Ansor kerahkan jutaan Banser (Barisan Ansor serbaguna) yang bekerja sama dengan TNI/Polri untuk mengantisipasi kegaduhan menjelang Pilkada 09 Desember 2020 (CNN Indonesia, 2020). Ini adalah bentuk kekhawatiran kalau saja pesta demokrasi pilkada yang kita nanti-nantikan ini berujung pada konflik.

Kegaduhan yang terjadi seringkali pada lingkup elit. Namun tidak menutup kemungkinan, akar rumput (masyarakat) juga terjadi konflik politik. Dalam elit politik, pasti ada saja paslon yang tidak menerima dan mengakui kekalahannya sehingga berujung pada saling lapor melapor. Kita harus belajar dari demokrasi nasional (Pilpres tahun lalu). Bukan tidak mungkin demokrasi lokal pun demikian.

Saya pun membaca Pesta Demokrasi yang tinggal beberapa hari ini demikian sinisnya. Saya berspekulasi (mudah-mudahan salah) untuk beberapa hari kedepannya situasi politik di beberapa daerah ini akan semakin tegang. Pasti akan ada polemik politik terjadi di antara para pendukung paslon masing-masing. Entah polemik karena puisi, kaos, lagu, bagi-bagi sembako, maupun dugaan-dugaan kecurangan sebelum pesta demokrasi pilkada ini berlangsung misalkan money politic. Implikasinya dari semuanya itu adalah konflik sosial seperti; konflik fisik, kebencian kolektif, maupun perilaku di media sosial.

Dalam menyongsong pesta demokrasi ini, kegaduhan diramalkan akan semakin ramai dan boleh jadi menandai munculnya perpecahan menjadi dua kelompok, yakni kelompok "kami" dan kelompok "kalian". "Kami" membela jago kami mati-matian dan berusaha menjatuhkan kelompok "kalian" sebagai lawan "kami." Begitu pun sebaliknya, terjadi hal yang sama.

Masyarakat Yang Terlibat

Sudah sangat lazim kalau para elit politik dan tokoh-partai yang saling beradu argumentasi bahkan bersitegang. Akan tetapi menjadi suatu yang sangat lucu jika pada akar rumput (masyarakat) pun juga terjadi konflik politik. Rakyat juga kebanyakan turut berpartisipasi dalam kegaduhan ini. Orang-orang besar hingga orang-orang kecil berapi-api membela jago masing-masing dan ikut dalam berperang gagasan, meme, bahkan sampai pada penyebaran hoax. Itu semua demi membela paslon adalannya.

Selain itu, biasanya mendekati pesta demokrasi, banyak kalangan baik kalangan atas maupun kalangan bawah membaptis diri sebagai pakar dalam bidang-bidang tertentu. Setiap orang tiba-tiba menjadi pakar di bidang- bidang khusus mulai dari bidang ekonomi, agama, sistem jaminan sosial dan sebagainya. Padahal ilmu itu berasal dari informasi sepotong-potong yang berseliweran di media sosial dan internet (Juliawan, Basis 2018).

Semoga Masyarakat Tidak Mau Disuap

Menjelang pesta demokrasi, biasanya satu metode berpolitik yang selalu digunakan oleh orang-orang yang berhasrat menggenggam kekuasaan yaitu “money politics.” Dengan uang, mereka bisa saja mendapat kekuasaan itu serentak pula mendominasi hati nurani rakyat. Karena hati nurani sudah ditukar dengan uang, rakyat pun (tentu tidak semua) mau melakukan apa saja demi membela jago yang sudah membeli hati nuraninya. Rakyat semacam dijadikan seperti kerbau yang dicocok hidungnya, apa saja yang dilakukan oleh tuannya, ia mau.

Kenyataan di atas seringkali kita lihat setiap kali menjelang pesta demokrasi, baik demokrasi skala lokal maupun demokrasi skala nasional. Sekali lagi itu semua demi kekuasaan. Seperti yang dikatakan Silvianus Mongko, bahwa kekuasaan dapat merubah watak seseorang dari rasional menjadi irasional, logis menjadi absurd, sabar menjadi emosional, waras menjadi sinting ( Pos Kupang, 2013).

Dengan itu, kekuasaan memang bisa mentransformasi watak seseorang. Sebelumnya tulus seperti merpati menjadi licik dan galak seperti ular dan singa. Ia bisa saja melakukan apa saja demi kehormatan itu. Salah satu cara untuk menggenggam kehormatan/kekuasaan adalah dengan money politics.

Mengharapkan Pilkada yang Bersih

Menjadi harapan kita bersama, kalau pesta demokrasi Pilkada serentak pada pada 09 Desember 2020 menjadi Pilkada yang bersih. Bersih dalam artian; tidak ada kegaduhan dan bebas dari praktik money politics.

Untuk mencapai harapan itu, tentunya masyarakat harus menjadi agen utamanya. Masyarakat seharusnya betul-betul menggunakan hati nuraninya dalam memilih dan menyeleleksi paslon yang bermutu dan betul-betul berpihak kepada rakyat. Kita harus betul menilik jejak langkah paslon yang akan kita pilih. Apakah ia sungguh-sungguh memiliki rekam jejak yang baik serta jujur, atau malah sebaliknya. Hal itu akan kita saksikan dalam “Pesta Demokrasi” pada 9 Desember 2020 yang datang.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya