Kebijakan Lingkungan dan Perubahan Iklim di Eropa

Mahasiswa
Kebijakan Lingkungan dan Perubahan Iklim di Eropa 08/07/2024 11 view Lainnya bakti.or.id

Masalah lingkungan dan perubahan iklim merupakan masalah global yang utama, terutama di Eropa. Untuk mengatasi tantangan perubahan iklim ini, Uni Eropa telah menjadikan kebijakan lingkungan dan perubahan iklim sebagai prioritas utamanya. Uni Eropa berdedikasi untuk mencapai netralitas karbon pada tahun 2050 dan telah menetapkan tujuan yang jelas untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

Menurut data the european green deal dari european commision tahun 2019, komponen dari European Green Deal merupakan sebuah rencana untuk mengubah masalah iklim dan lingkungan menjadi peluang di seluruh domain kebijakan dan memastikan bahwa transisi tersebut adil dan inklusif untuk semua dengan tujuan untuk membuat ekonomi Uni Eropa berkelanjutan.

Data dari eouropean commission tahun 2020 tentang ‘’2030 climate target plan’’ mengatakan bahwa mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 55% dari tingkat emisi dari tahun 1990 hingga tahun 2030 merupakan salah satu inisiatif nyata Uni Eropa. Berbagai program untuk memajukan energi terbarukan, seperti angin, matahari, dan biomassa, yang diprediksi akan menggantikan bahan bakar fosil yang lebih berpolusi terhadap lingkungan. Selain itu, Uni Eropa menerapkan peraturan untuk mengurangi polusi di udara dan air serta menangani limbah dengan lebih efisien (European Environment Agency, 2021).

Komponen penting dari kebijakan lingkungan Uni Eropa adalah diplomasi iklim. Diplomasi ini bertujuan untuk mendukung negara-negara berkembang dalam mengatasi dampak perubahan iklim dan untuk memajukan upaya internasional dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim melalui berbagai aliansi internasional. Inisiatif-inisiatif ini menunjukkan dedikasi Uni Eropa untuk mengatasi masalah lingkungan internal dan memberikan kontribusi substansial terhadap solusi internasional.

Uni Eropa telah memberlakukan undang-undang lingkungan yang kuat, penekanan yang kuat pada pengembangan energi terbarukan, dan bantuan untuk negara-negara berkembang dalam mengatasi perubahan iklim sebagai bagian dari upaya bersama untuk melindungi lingkungan.

Berdasarkan data ‘’2030 climate target plan’’ european commission 2020, Uni Eropa telah menetapkan tujuan ambisius untuk mencapai netralitas karbon pada tahun 2050 dan mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 55% pada tahun 2030 jika dibandingkan dengan tingkat emisi tahun 1990. Pengenalan European Green Deal (kesepakatan hijau Eropa), yang berupaya menjadikan Eropa sebagai benua netral karbon pertama, merupakan salah satu langkah penting.

Untuk membantu negara-negara anggota yang bergantung pada industri berbasis karbon dalam transisi mereka menuju ekonomi hijau, Uni Eropa telah memberikan dana yang signifikan melalui Dana Transisi yang Adil dan program Horizon Eropa (European Horizon). Dana ini dimaksudkan untuk merangsang inovasi dalam energi terbarukan. Langkah-langkah yang telah diterapkan termasuk larangan Parlemen Eropa pada tahun 2019 untuk penggunaan plastik sekali pakai, subsidi Badan Lingkungan Hidup Eropa pada tahun 2021 untuk mobil listrik, dan insentif keuangan untuk pengembangan bangunan ramah lingkungan. Sejumlah peraturan lingkungan juga telah diberlakukan oleh UE, seperti Petunjuk Energi Terbarukan, yang menetapkan target 32% energi terbarukan pada tahun 2030 untuk semua konsumsi energi.

Meskipun demikian, Uni Eropa akan mengalami kesulitan untuk mempraktikkan ide ini. Hambatan utama yang dihadapi adalah perbedaan kepentingan di antara negara-negara yang berpartisipasi, ketidakpastian dalam politik, dan oposisi dari sektor-sektor yang terkena dampak. Selain itu, mengingat cakupan perubahan iklim di seluruh dunia, kerja sama internasional sangatlah penting. Melalui program-program seperti Global Climate Change Alliance Plus (GCCA+), yang menawarkan bantuan keuangan dan teknis untuk membantu negara-negara ini memerangi dampak perubahan iklim, Uni Eropa berharap dapat memperkuat hubungannya dengan negara-negara berkembang.

Terlepas dari hambatan-hambatan di atas, pergeseran ke ekonomi hijau diantisipasi memiliki efek positif yang besar pada ekonomi dan masyarakat, seperti peningkatan peluang kerja di sektor energi terbarukan, kualitas udara yang lebih baik, dan penurunan ketergantungan pada impor bahan bakar fosil. Inisiatif Uni Eropa untuk memelopori perubahan ini menunjukkan dedikasi yang kuat untuk meningkatkan kemakmuran global dan perlindungan lingkungan.

Uni Eropa telah memberlakukan undang-undang lingkungan yang kuat, penekanan yang kuat pada pengembangan energi terbarukan, dan bantuan untuk negara-negara berkembang dalam mengatasi perubahan iklim sebagai bagian dari upaya bersama untuk melindungi lingkungan. Uni Eropa telah menetapkan tujuan ambisius untuk mencapai netralitas karbon pada tahun 2050 dan mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 55% pada tahun 2030 jika dibandingkan dengan tingkat emisi tahun 1990. Pengenalan the european green deal, yang berupaya menjadikan Eropa sebagai benua netral karbon pertama, merupakan salah satu langkah penting eropa dalam menghadapi perubahan iklim.

Pada akhirnya, saya berharap bahwa Uni Eropa dapat mempertahankan dan mengembangkan upayanya saat ini untuk melindungi lingkungan dan memperlambat perubahan iklim. Perubahan iklim adalah masalah dunia yang berdampak pada setiap orang di planet ini. Uni Eropa memberikan gambaran praktis tentang bagaimana negara-negara dapat bersatu untuk menghadapi tantangan ini melalui upaya ini. Diharapkan negara-negara lain akan termotivasi oleh upaya mereka untuk mengambil tindakan yang sebanding dalam menghadapi perubahan iklim di masa depan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya