Kebebasan Beragama dan Radikalisme

Kebebasan Beragama dan Radikalisme 09/05/2022 163 view Agama pixabay.com

Indonesia merupakan negara yang beragam akan suku, ras, agama, budaya, bahasa dan masih banyak lagi. Keberagaman ini menjadi suatu kekayaan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Namun, perlu dilihat kembali bahwa keberagaman ini tak jarang justru menimbulkan permasalahan dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara, salah satunya ialah agama.

Agama adalah salah satu realitas sosial yang memiliki sumbangan besar bagi manusia dalam menentukan world view atau pandangan dunianya (Sugiarto, 2000:5). Melalui hal tersebut dapat dilihat bahwa agama juga turut ikut ambil bagian dalam membangun dan membentuk kepribadian seseorang.

Berbicara seputar agama sama halnya dengan keyakinan. Orang yang beragama pasti memiliki keyakinan akan Tuhannya namun orang yang berkeyakinan tidak semua beragama sebut saja atheis.

Secara garis besar konflik keagamaan sudah dimulai sejak awal peradaban manusia atau dalam konteks zaman sekarang berkaitan dengan kepercayaan mana yang paling benar dan mana yang tidak atau sesat. Kebebasan beragama atau berkeyakinan ini sering kali menjadi pemicu konflik dalam negeri.

Dalam konteks zaman sekarang penulis berasumsi kehidupan beragama dibagi dalam dua sisi. Pertama, setiap orang beragama akan selalu menciptakan keharmonisan dalam keberagaman.

Bertolak dari sisi yang pertama tersebut maka ada sisi yang kedua di mana setiap pribadi atau kelompok tertentu memakai agama sebagai sarana untuk menghancurkan sesama. Gejolak semacam ini menjadi suatu hal yang sangat krusial. Dalam sisi yang kedua ini sering kali kita lihat melalui diskriminasi kelompok mayoritas kepada keompok minoritas. Dalam sisi yang kedua ini pula munculah kelompok-kelompok radikal yang memperalat agama, salah satunya dalam bidang politik untuk mengganggu stabilitas politik negara.

Pusat pengkajian Islam dan masyarakat universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan konferensi tentang radikalisme. Dalam konferensi ini menjelaskan bahwa radikalisme agama di Indonesia sebagai ancaman stabilitas masyarakat umum.

Gejolak Radikalisme dan Kebebasan Beragama

Indonesia telah menetapkan undang-undang tentang kebebasan yakni Pasal 29 ayat dua UUD NRI tahun 1945. Pada intinya negara tidak memberikan batasan kepada setiap orang untuk mengekspesikan dirinya, melakukan ibadah keagamaannya, melainkan memberikan kebebasan kepada setiap orang dan harus mampu mempertanggungjawabkan kebebasan tersebut. Dalam kebebasan beragama ini pula penulis berasumsi terdapat dua jenis kebebasan beragama yakni positif dan negatif. Dalam hal positif setiap orang atau kelompok diberi kebebasan untuk memuji dan beribadah kepada Tuhannya masing-masing.

Dalam hal negatif orang atau kelompok menggunakan agama untuk menghancurkan kebersamaan dan kebebasan beragama. Sebagai suatu ancaman yang besar kelompok-kelompok radikal di Indonesia sudah memberikan bukti nyata yakni pemboman gereja di Makasar pada tahun 2020 silam atau diskriminasi terhadap kelompok Ahmadiyah di Lombok pada 2011, di mana aliran atau kelompok Ahmadiyah tersebut tidak sesuai dengan ajaran Islam. Tindakan semacam ini hendak menunjukkan bahwa orang atau kelompok tersebut tidak menerima keberagaman atau menunjukkan sikap intoleransi.

Dalam upaya penanganannya selama ini, pemerintah dan pemimpin agama telah membangun suatu dialog yang bertujuan agar mencapai titik temu dalam menangani tindakan diskrimansi tersebut. Seruan-seruan untuk bertoleransi antar umat beragama sudah seringkali didengar dan nyatanya hingga sekarang ini konflik semacam ini belum terselesaikan. Hal ini yang menyebabkan kehidupan beragama di Indonesia masih jauh panggang dari api.

Ancaman atas kebebasan ini diperparah lagi lewat fenomena menguatnya populisme kanan dalam perkembangan demokrasi di Indonesia selama empat tahun terakhir. Hal ini terungkap jelas lewat gerakan pengarusutamaan moralitas agama dalam diskursus dan praktik politik (Hadiz, 2017: 261). Secara langsung agama turut ambil bagian dalam hidup politik negara. Hal itu tak bisa dipungkiri lagi bahwa kampanye-kampanye partai politik juga memperalat agama sebagai objek kampanyenya.

Mengapa hal tersebut dilakukan? Menimbang bahwa Indonesia merupakan negara yang beragama dan salah satu untuk mendapat simpati atau suara rakyat yakni dengan melalui jalur agama. Selain itu, agama juga berpengaruh dalam politik negara. Hal tersebut dapat dilihat dari kemenangan Pak Anies Bawedan dalam pemilihan Gubernur Jakarta tahun 2017, di mana kemenangan tersebut disebabkan karena kejengkelan umat muslim terhadap Ahok yang menista agama Islam.

Pro-Eksistensi: Langkah Solutif dalam Membangun Kerukunan Beragama

Dalam mengatasi problem-problem seputar agama, upaya atau langkah solutif yang ditawarkan penulis ialah sikap pro-eksistensi. Kata pro-eksistensi sendiri akan merujuk pada kebersamaan. Hal ini berbeda dengan ko-eksistensi yang hanya merujuk pada kesamaan setiap umat beragama untuk menjalankan ibadah keagamaanya. Dalam pro-eksistensi itu sendiri setiap orang diberikan kebebasan untuk beragama; untuk menunjang keselarasan dalam hidup sehari-hari.

Dengan pendekatan pro-eksistensi agama-agama tidak lagi sekedar menuntut hak atas eksistensinya sendiri dan kewajiban untuk mengakui dan menghormati eksistensi agama lainnya, melainkan lebih dari itu, yakni menuntut untuk memberikan perhatian kepada agama lain (Jegalus, 2011: 107). Pendekatan ini sendiri akan menekan sikap-sikap intoleransi dan radikalisme agama di Indonesia. Pro-eksistensi itu sendiri akan membangun suatu sikap tanggung jawab dan toleransi antar umat beragama dan akan membangun kebersamaan yang lebih intens.

Dengan pendekatan ini juga orang-orang yang menjadi korban intimidasi dan pelaku tidak hanya membangun suatu perdamaian tetapi melampui hal tersebut yakni ikatan persaudaraan yang erat yaitu rasa saling memiliki satu sama lain, dengan itu segala permasalahan yang melibatkan agama bisa diselesaikan bersama dan menciptakan damai.

Diskriminasi oleh kelompok-kelompok radikal bisa teratasi dengan sikap pro-eksistensi ini. Setiap masalah lintas agama akan bisa diselesaikan dengan damai melalui ikatan persaudaraan yang kuat. Pada dasarnya agama hadir tidak untuk menghancurkan sesama melainkan hadir untuk membangun ikatan persaudaraan yang kuat antar umat beragama dan mengajak umatnya untuk membangun rasa cinta kasih kepada sesamanya.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya