Kaum Rentan Butuh Didengarkan

Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana
Kaum Rentan Butuh Didengarkan 22/11/2022 29 view Lainnya mediaindonesia.com

Fenomena kemiskinan di Indonesia masih saja terjadi. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menghapus kemiskinan yang ada. Namun, upaya-upaya tersebut belum sepenuhnya berhasil menekan angka kemiskinan di Indonesia. Orang-orang miskin sampai saat ini tetap saja menjadi realitas di berbagai penjuru Indonesia.

Berbicara mengenai orang miskin, tidak ada ukuran yang pasti untuk mengatakan bahwa seseorang dianggap miskin. Ada yang mengatakan bahwa orang miskin adalah orang yang kesulitan mencari makanan. Ada yang mengatakan bahwa orang miskin adalah orang yang tidak memiliki banyak uang. Ada juga yang mengatakan bahwa orang miskin adalah orang yang hidupnya kurang bahagia, dan sebagainya. Masih banyak lagi ukuran-ukuran untuk mengkategorikan seseorang sebagai orang miskin. Hal ini menandakan bahwa orang miskin memiliki definisi yang sangat luas. Oleh karena itu, sangat sulit untuk menentukan kriteria atau ukuran yang spesifik untuk menyebut seseorang sebagai orang miskin. Penulis lebih condong pada penggunaan istilah “kaum rentan” sebagai pengganti istilah “orang miskin”. Kaum rentan memaksudkan orang-orang yang memiliki kesulitan atau tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Boleh dikatakan kaum rentan merupakan orang yang hidupnya masih jauh dari kesejahteraan.

Kehadiran kaum rentan rupanya tidak sepenuhnya mendapat tempat di hati banyak orang. Di berbagai tempat, banyak orang menolak kehadiran kaum rentan. Mereka cenderung memberi stigma “sampah masyarakat” kepada kaum rentan. Kaum rentan dianggap sebagai pengganggu. Tidak jarang kaum rentan disingkirkan oleh banyak orang. Fenomena ini tentu bukanlah hal yang manusiawi. Sang Pencipta menciptakan semua manusia semartabat. Setiap manusia memiliki keluhuran yang sama dengan manusia lainnya. Perbedaan status sosial dan kelas ekonomi tidak bisa dijadikan tolak ukur untuk membedakan keluhuran martabat seseorang. Oleh karena itu, kaum rentan pada dasarnya memiliki martabat yang sama dengan orang-orang yang hidupnya sejahtera. Dalam hal ini, konsep memanusiakan manusia perlu diterapkan.

Praktik “memanusiakan manusia” sebenarnya sudah banyak dilakukan oleh orang-orang dari berbagai kalangan. Hanya saja penerapan “memanusiakan manusia” sering kali tidak sampai menyentuh apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh kaum rentan. Kebanyakan orang memanusiakan manusia dengan cara memberi uang, makanan, sembako, dan sebagainya. Tentu pemberian-pemberian berupa uang, makanan, dan sembako tersebut sangat membantu dalam meringankan beban kaum rentan. Namun, bantuan seperti itu tampaknya belum sampai menyentuh apa yang mereka butuhkan. Pendapat ini didasarkan oleh pengalaman saya berbincang dengan seorang pria tua, yang adalah seorang pengemis, beberapa waktu yang lalu. Pengemis tersebut berusia 72 tahun. Sehari-hari beliau duduk di bawah sebuah pohon di depan salah satu mini market di Kota Malang. Yang beliau lakukan adalah menantikan belas kasihan orang yang keluar masuk mini market tersebut. Saya beberapa kali memperhatikan pengemis itu ketika saya melewati mini market tersebut. Saya pun mencoba untuk mengajaknya berbicara dan bercerita. Dalam perbincangan dengan saya, beliau menceritakan pengalaman hidupnya sejak masa muda. Keseluruhan hidupnya dipenuhi dengan kesulitan. Beliau selalu hidup dalam kondisi ekonomi yang serba kekurangan, hingga akhirnya beliau memutuskan untuk mengemis. Ketika sedang berbincang dengan beliau, beberapa pengunjung mini market memberinya uang receh. Ada pula yang memberinya sebatang rokok. Semua pemberian itu diterima olehnya dan dimasukkan ke dalam sebuah kantong plastik berwarna hitam. Ketika saya hendak beranjak pulang, saya memberinya sejumlah uang yang sekiranya cukup untuk membeli seporsi makanan dan minuman. Namun, beliau menolak pemberian saya secara halus dan justru berterima kasih kepada saya karena mau mendengarkan keluh kesahnya. Saya semakin terheran tatkala beliau justru mendoakan saya supaya saya bisa sukses.

Pengalaman tersebut mengantar saya pada sebuah refleksi atas hidup para kaum rentan. Secara wajar, mereka membutuhkan makanan, uang, tempat tinggal, dan sebagainya. Akan tetapi, banyak orang sering lupa bahwa kaum rentan juga perlu bersuara. Acap kali suara mereka tidak didengar oleh orang lain atau bahkan sengaja tidak didengarkan karena stigma-stigma yang ada padanya. Justru para kaum rentan lebih banyak mendengarkan dari pada didengarkan. Mereka sudah sering dan mungkin bosan mendengarkan janji-janji pemerintah yang tak kunjung direalisasikan. Mereka sudah sering mendengar berita mengenai pejabat-pejabat yang mengeruk uang rakyat demi kepentingan pribadinya. Banyak hal telah mereka dengarkan dengan penuh harapan supaya hidupnya bisa lebih baik lagi. Namun, semua yang mereka dengarkan jarang sekali menjadi kenyataan. Mereka ingin bersuara tetapi tidak ada yang mendengar. Mereka ingin bersuara tetapi suara mereka kalah dengan suara kaum-kaum kapitalis. Banyak orang tidak sadar akan hal ini. Hanya satu yang mereka butuhkan, yaitu didengarkan. Pengalaman berjumpa dengan seorang pengemis beberapa waktu lalu adalah buktinya. Beliau tidak menerima uang yang saya berikan. Beliau justru yang memberi kepada saya, yaitu sebuah doa untuk masa depan saya. Beliau merasa apa yang dibutuhkannya sudah tercukupi, yaitu didengarkan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya