Jangan Lupakan Masalah Buta Huruf

Penulis Buku Cerita Anak 'Si Aropan'
Jangan Lupakan Masalah Buta Huruf 05/07/2021 54 view Pendidikan kabar24.bisnis.com

Dimensi literasi semakin meluas seiring dengan pardigma pendidikan yang senantiasa dinamis. Dulu, literasi hanyalah masalah melek huruf, membaca dan menulis. Sekarang, konsep itu kian berkembang. Tengoklah Gerakan Literasi Nasional versi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Selain membaca dan menulis, ada lagi literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, serta literasi budaya dan kewargaan. Ini sesuai arahan UNESCO bahwa pemahaman seseorang terhadap literasi dipengaruhi oleh kompetensi bidang akademik, konteks nasional institusi, nilai-nilai budaya serta pengalaman. Artinya, untuk dapat bertahan di era persaingan global, tiap individu harus punya kecakapan yang beragam (versatile).

Kita boleh-boleh saja berorientasi masa depan. Dan tidak ada yang salah dengan mengikuti tren literasi secara global. Tapi, kita juga kita tak boleh abai pada masalah dasar literasi kita yang belum beres. Betapa tidak, data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2020 menunjukkan sekitar 1,93 persen bangsa Indonesia masih terpapar tuna aksara. Angka itu bahkan naik dibanding tahun 2019 di mana penduduk buta huruf sebesar 1,78 persen.

Memang dari kaca mata statistik, angka 1,93 persen itu sangat kecil. Sebab itu berarti bahwa 98,07 persen penduduk Indonesia telah melek huruf. Namun, ayo berhitung lagi lebih sensitif. Tahun 2020, populasi manusia Indonesia adalah 271.349.889 jiwa. Maka, angka 1,93 persen berarti terdapat lebih dari 5,2 juta orang yang masih belum melek huruf. Jumlah itu mendekati seluruh populasi Singapura (5,7 juta). Bayangkan betapa besar sumbangsihnya bagi kemajuan suatu negeri ketika 5,2 juta manusianya terbebas dari buta huruf dan dapat membuka akses yang lebih luas terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi.

Bahaya Buta Huruf

Buta huruf tidak boleh disepelekan karena ternyata memiliki korelasi dengan kemiskinan. Simaklah penelitian Edi Dores dan Jolianis berjudul Pengaruh Angka Melek Huruf dan Angka Harapan Hidup terhadap Jumlah Penduduk Miskin di Propinsi Sumatera Barat (2014). Keduanya mendapati pengaruh yang signifikan antara angka melek huruf terhadap jumlah penduduk miskin di Sumatera Barat.

Senada dengan temuan penelitian itu, direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, Jumeri menyebut bahwa dari sisi pembagian belanja rumah tangga, semakin tinggi pendapatan, tingkat melek huruf juga akan semakin tinggi (Bisnis.com, 04 September 2020). Dengan kata lain, semakin rendah pendapatan, tingkat melek huruf juga ikut rendah.

Masalah ini semakin rumit karena kasus buta aksara cenderung didominasi oleh penduduk usia lanjut (45 tahun ke atas). Masyarakat dengan kategori seperti ini umumnya sudah enggan untuk belajar (membaca dan menulis). Padahal, dengan memiliki kemampuan baca tulis, seseorang punya akses lebih besar terhadap informasi vital seperti perekonomian, kesehatan dan lain-lain yang dapat meningkatkan kesejahteraan.

Selain persoalan kemiskinan, buta huruf ternyata juga mempunyai dampak negatif terhadap kesehatan manusia. Studi para ilmuwan asal Columbia University menemukan bahwa mereka yang tak pernah belajar membaca dan menulis, tiga kali lebih rentan mengalami demensia dibandingkan orang yang pernah belajar dan memiliki kemampuan membaca dan menulis.

Sebatas memberikan informasi, demensia adalah penyakit yang menyebabkan terjadinya penurunan daya ingat dan cara berpikir. Pada penelitian tadi, orang-orang yang buta huruf mengikuti serangkaian tes memori, bahasa, serta kemampuan visual dan spasial. Partisipan yang buta huruf menunjukkan hasil-hasil yang lebih buruk karena tingkat fungsi kognitif yang lebih rendah dibandingkan peserta yang melek huruf.

Pendekatan Andragogi

Berdasarkan data BPS, terdapat penduduk buta huruf di seluruh provinsi di Indonesia. Hanya, persentasenya berbeda-beda. Paling tidak, ada enam provinsi yang perlu diberikan perhatian khusus: Papua, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Barat.

Di enam provinsi ini, masyarakat tuna aksara pada kategori usia 45 tahun ke atas, cukup tinggi yaitu 15-32%. Pertanyaannya adalah, untuk memberantas buta huruf, mengapa harus memberi prioritas pada penduduk buta aksara kelompok usia 45 tahun ke atas?

Jawabannya sederhana. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, di satu sisi, mereka sudah tidak terlalu termotivasi untuk mengecap pendidikan (membaca dan menulis). Tapi, di sisi lainnya, mereka masih tergolong ke dalam kategori usia produktif. Sehingga, mau tidak mau, mereka harus terus bekerja untuk menyambung nafkah pribadi atau keluarga.

Untuk kelompok usia di bawahnya, terutama penduduk usia sekolah, solusinya tidak sulit. Sebab pemerintah hanya perlu memastikan tidak terjadinya masalah putus sekolah. Selama ini, dengan bersekolah, masyarakat Indonesia mampu membaca dan menulis. Di kelompok usia sekolah inilah aspek-aspek literasi lanjutan wajib dikembangkan secara menyeluruh.

Hal mendasar yang harus diperhatikan adalah mengajari orang dewasa sangat berbeda dengan mengajari anak-anak. Menurut Malcolm Knowles, pada anak-anak, teori yang dipakai adalah pedagogi. Sementara untuk orang dewasa yang digunakan adalah teori andragogi. Belajar bagi orang dewasa akan dirasa bermanfaat ketika terdapat relevansi langsung dengan pekerjaan. Tanpa manfaat langsung, belajar hanya dianggap buang-buang waktu. Dengan demikian, mengajarkan membaca dan menulis kepada penduduk buta huruf kelompok usia 45 tahun ke atas harus mengacu pada ketentuan ini.

Pilihan paling rasional adalah lewat pembelajaran non-formal. Itu pun harus dilakukan dengan berorientasi pada kegiatan yang dapat menunjang peningkatan perkonomian, misalnya dengan berbasis kewirausahaan. Mengajarkan baca tulis seperti yang lazimnya diterapkan pada pendidikan formal tidak akan berjalan efektif. Selain memakan waktu yang relatif lama, metode yang digunakan juga cenderung konservatif.

Sebagai contoh, masyarakat tuna aksra, seperti kaum ibu-ibu, dapat diajari baca tulis dengan kegiatan tata boga. Pengenalan huruf akan lebih mudah diserap dan diimplementasikan lewat, misalnya, penulisan resep makanan. Ini bukan tanpa alasan, masak-memasak merupakan bagian yang sangat dekat dengan kaum perempuan. Maka, perbendaharaan kata-kata yang terkait dengan resep, seperti aduk tepung, kupas bawang, potong daging dan lain-lain, akan lebih cepat dipahami ketimbang kata-kata ini Budi, ini bola—untuk sekadar memberi contoh. Hal yang sama juga berlaku untuk keterampilan di bidang lain seperti perbengkelan, jahit-menjahit, pertukangan, dan lain-lain. Jika program seperti ini dapat berjalan, dengan konsistensi dan dukungan kuat dari pemerintah, masalah tuna aksara dapat segera dituntaskan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya