Jangan Lelah Perangi Terorisme

Mahasiswa
Jangan Lelah Perangi Terorisme 01/04/2021 112 view Lainnya nasional.okezone.com

Aksi biadab terorisme ternyata tak kunjung berhenti di tengah pandemi. Kepanikan, ketakutan, dan kecemasan pada pandemi Covid-19 belum usai, kini masyarakat tambah terintimidasi akibat aksi terorisme yang kembali hadir dan menunjukkan diri.

Bom bunuh diri di depan gerbang Gereja Katedral Makassar pada hari Minggu, 28 Maret 2021 menjadi bukti nyata bahwa aksi terorisme masih saja eksis dan berkeliaran di luar sana. Aksi bom bunuh diri yang terjadi di Makassar adalah semacam alarm keras bagi kita untuk tidak boleh lengah. Kita harus lebih waspada dan hati-hati ke depannya.

Dua orang terduga pelaku bom bunuh diri di Makassar diketahui adalah suami-istri. Pada saat pengeboman terjadi, umat Gereja Katedral sedang melaksanakan ibadah dalam gereja. Aksi tersebut mengakibatkan puluhan orang terluka. Syukur tidak ada korban jiwa kecuali kedua pelaku. Aksi mereka sempat dicegah oleh sekuriti saat hendak masuk dalam gedung gereja.

Terorisme

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan kata “terorisme” sebagai kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan terutama tujuan politik. Walter Reich yang dikutip oleh Whittaker juga mengartikan terorisme sebagai "strategy of violence designed to promote desired outcomes by instilling fear in the public at large" (Whittaker, 2003). Terorisme adalah semacam strategi kekerasan yang sudah dirancang untuk meningkatkan hasil-hasil yang diinginkan dengan menanamkan ketakutan di tengah kalangan masyarakat.

Aksi biadab terorisme sekarang ini tidak lagi terbatas pada intimidasi. Amat sering kita saksikan aksi terorisme yang berujung pada pembunuhan dan hilangnya nyawa manusia yang tidak bersalah. Karena itulah Paul Johnson mengartikan terorisme sebagai pembunuhan dengan sengaja yang direncanakan secara sistematik, sehingga mengakibatkan catat dan merenggut atau mengancam jiwa orang yang tidak bersalah (Hendropriyono, 2009).

Aksi terorisme yang mengakibatkan matinya manusia-manusia tidak bersalah sering kali terjadi di Indonesia. Salah satu yang masih membekas di ingatan kita adalah aksi bom bunuh diri yang pernah terjadi di Surabaya. Peristiwa semacam itu kembali lagi kita saksikan di Makassar beberapa hari belakangan ini. Artinya, bahwa aksi terorisme ini adalah aksi yang tidak terduga. Di saat kita semua lengah, mereka perlahan-lahan mulai tampak dan menunjukkan gigi.

Munculnya berbagai aksi terorisme di Indonesia hanya berarti satu hal, yaitu bahwa bangsa kita sejatinya masih lemah dalam membendung aksi tak manusiawi tersebut. Kalau boleh saya katakan, aksi terorisme di Indonesia ibarat tanaman yang tumbuh subur.

Bagaimana tidak, setelah bom bunuh diri Thamrin (2016) terjadi, kemudian menyusul aksi bom bunuh diri di Kampung melayu (2017). Setelah aksi bom bunuh diri Kampung Melayu terjadi, menyusul lagi bom bunuh diri di Surabaya (2018). Setelah peristiwa Surabaya, terjadi lagi bom bunuh diri di Rumah Susun di Sidoarjo. Dan yang sedang ramai menjadi topik perbincangan publik adalah peristiwa bom bunuh diri di depan gerbang Gereja Katedral Makassar. Mungkin masih ada aksi-aksi berikutnya, tentu tidak ada yang tahu.

Harus kita akui bahwa untuk membendung apalagi memusnahkan aksi terorisme memang tidaklah mudah. Letak permasalahannya adalah aksi terorisme ini sangat berkelindan dengan radikalisme agama. Radikalisme agama bisa saja menjelma menjadi aksi terorisme.

Penyimpangan dan salah tafsir terhadap ajaran agama (radikalisme agama) bisa saja mengubah manusia yang sebelumnya adalah orang baik dan sopan menjadi buas seperti serigala. Ia kemudian meneror orang lain yang berseberangan dengan paham yang dianutnya. Persis di sinilah aksi terorisme mulai muncul.

Bahkan Bagong Suyanto dalam opininya di Media Indonesia mengatakan radikalisme bukan hanya melahirkan gerakan dan aksi terorisme. Radikalisme juga sering menjelma dalam aksi-aksi yang lebih soft, seperti sikap intoleransi yang biasanya dengan cepat berubah menjadi aksi terorisme (Suyanto, 2021).

Terorisme dan Ancaman Kemanusiaan

Melihat aksi terorisme yang kembali lagi terjadi di Gereja Katedral Makassar, Presiden Joko Widodo dalam keterangan persnya mengatakan bahwa aksi terorisme adalah kejahatan kemanusiaan. Tidak ada agama yang membolehkan kekejian ini (KOMPAS, Senin 29 Maret 2021).

Kecaman Presiden Jokowi terhadap aksi terorisme mengindikasikan bahwa apa pun yang berhubungan dengan terorisme tentunya menunjuk pada tragedi kemanusiaan dan ancaman terhadap kemuliaan manusia, walaupun si pelaku meyakini tindakannya sebagai perbuatan syahid yang akan diganjar surga, disambut malaikat dan sejumlah bidadari cantik. Di mana ada aksi terorisme, di situ harkat dan martabat manusia diinjak-injak.

Motif para teroris dalam membunuh kadang kala tidak jelas. Mereka tidak membutuhkan alasan untuk membunuh dan menghilangkan nyawa manusia yang tidak bersalah. Bagi terorisme, membunuh bukan semata-mata menghilangkan nyawa manusia lain. Membunuh bagi mereka adalah upaya untuk menunjukkan diri bahwa mereka masih ada dan siap menciptakan keresahan di tengah masyarakat.

Kejahatan kemanusiaan terorisme tidak boleh dianggap enteng. Aksinya tidak mengenal siapa di depannya, entah agama, etnis, suku, orang tua, orang muda, bahkan anak-anak yang tidak bersalah menjadi korban kebiadaban terorisme.

Perangi Terorisme

Dengan masih intensnya pergerakan kelompok teroris yang semakin meresahkan masyarakat, ditambah lagi dengan aksi biadab yang kian nyata, tak ada jalan lain kecuali upaya pencegahan pergerakan mereka kian diintensifkan oleh aparat kepolisian. Tentu saja aparat kepolisian dalam menindak kelompok teroris tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan dan kerja sama masyarakat. Sebagaimana Boy Rafli mengatakan kerja sama berbagai elemen masyarakat, termasuk dari aparatur negara harus terus ditingkatkan untuk melakukan pencegahan terorisme (KOMPAS, Selasa, 30 Maret 2021).

Dengan itu, mari kita bersama-sama dan saling bahu-membahu dalam memerangi aksi terorisme yang selalu meresahkan masyarakat. Tentunya kita tidak ingin tragedi kemanusiaan yang diakibatkan oleh ulah kelompok teroris kembali terjadi. Mari kita perangi aksi terorisme.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya